Senin, 19 November 2012

long trip on a long weekend (part 3)

sebuah RIDE REPORT

DISCLAIMER
RR ini tidak banyak memuat foto, karena nubi tidak membawa peralatan fotografi, namun hanya menggunakan kamera bawaan ponsel yang batrenya diawet-awetin selama dalam perjalanan TT.TT

Sabtu, 17 November 2012
Dingin sekali pagi itu..nubi terbangun di jam 02.35 dini hari. Menurut warga sekitar, jika sembungan terguyuyr hujan sebentar saja, suhu di sana bias mencapai -5°C..trus kalo hujan sedari siang sampai malam, suhu pagi itu berapa dong??


Nubi terjaga dari tidur karena kebelet pipis dan hawa dingin yang sangat menusuk..bahkan kembali membayangkan dinginnya pun sudah bikin menggigil..

Sesudah ekskresi di bawah pohon di tepi danau yang permukaannya masih tertutup kabut, nubi kembali ke dalam tenda untuk packing..sebenarnya masih sangat berintiman dengan sleeping bed dan matras yang cukup hangat, tapi karena sudah ada janji untuk berangkat ke Pacet, Mojokerto, dan menghindari teriknya panas matahari selama perjalanan, maka dengan berat hati sleeping bed harus digulung, segala barang dimasukkan ke dalam box.

Keluar tenda menuju tempat parkir juga merupakan tantangan tersendiri, karena duingiiiin minta ampun..hanya beberapa teguk air mineral saja yang dapat membangunkan nubi sehingga dapat menuju tempat si item diparkir.

Setelah pasang box lagi dan panasin mesin serta ricek barang bawaan, nubi tancap gas keluar dieng ke arah magelang.

Rencana rute etape ke-2

Semenjak keluar desa sampai ke dieng, lanjut jalan agak pelan menyusuri turunan dan kelokan dieng, nubi merasakan ada keanehan pada si item, yaitu indikator bahan bakar berada pada level terendah, padahal pada malam sebelumnya, bensin si item sudah diisi penuh di wonosobo, dan jarak dari pom bensin hingga telaga cebong (serta muter-muter selama kegiatan) gak nyampe 45 km. segala macam pikiran spekulatif mulai menghantui nubi. Mulai dari bensin membeku, sensor bahan bakar kedinginan atau ada peserta nakan yang main sedot bensin pada saat semua orang tidak mempedulikan kendaraan.

Untuk kembali memastikan apa yang terjadi, sesampainya di wonosobo, nubi berhenti di pom bensin untuk memeriksa isi tangki. Ternyata bensin si item masih penuh. Ketika si item distandar samping, mulai tercium bau bensin…setelah dicek, ternyata ada bensin yang keluar cukup deras dari selang pembuangan karburator! Panik karena nubi tidak terlalu paham seluk-beluk mesin, beberapa rekan sempat dihubungi, baik secara BBM, SMS maupun telepon. Karena masih terlalu pagi waktu itu, rekan-rekan yang dihubungi masih belum bangun dari tidur, maka nubi hanya melipat selang sehingga tidak ada lagi bensin yang terbuang.

05.20 dari pom bensin wonosobo setelah terjadi trobel, nubi kembali melakukan perjalanan menuju temanggung. Pagi itu kabut sudah tipis, langit cerah dan matahari belum tinggi. Pemandangan gunung sindoro dan sumbing sangat jelas. Sayang nubi tidak dapat berhenti untuk mengambil foto karena baterai hp sudah drop. Dengan sangat terpaksa nubi hanya bisa berkendara sambil mengagumi keindahan Tuhan lewar karya besar-Nya saja.

Sampai temanggung, tidak ada kendala sama sekali, namun nubi lupa jalur alternatif yang sudah disebutkan oleh beberapa teman untuk bisa langsung menuju magelang tanpa lewat secang. Tanpa banyak berpikir, nubi memutuskan untuk mengambil jalur yang memutar sangat jauh, yaitu lewat temanggung – secang – magelang. Banyak waktu terbuang di situ, tapi apa boleh buat?

Sampai di mungkid, nubi belok kiri menanjak menuju ketep pass, mengarah menuju kopeng dan akhirnya ke salatiga. Selepas ketep pass, jalan masih cukup sepi, langit masih cerah dan gunung telomoyo juga berdiri gagah dengan sedikit awan. Tanpa berpikir panjang, nubi menhentikan laju si item dan parkir di pinggir kebun stroberi untuk ambil beberapa foto dengan hp yang baterainya sudah dicas sedikit via charger motor.





Sesudah dirasa cukup puas mengobati kedongkolan melewatkan sindoro-sumbing, nubi melanjutkan perjalanan ke kopeng.

Ternyata di kopeng banyak spot menarik untuk diambil gambarnya, sayang jika salah parkir bisa sangat berbahaya karena ruas jalan yang cukup sempit, menikung dan licin. Kembali lagi beberapa spot tersebut terlewatkan.

Sampai juga ke perempatan salib putih. Nubi melanjutkan perjalanan ke selatan lewat ring road salatiga menuju tikum 2.

07.50 nubi tiba di tikum 2 salatiga, namun setelah 45 menit mencoba menghubungi orang yang membuat janji tidak bisa, nubi menghubungi mas kris ketua prides chapter salatiga (chapsa) untuk menanyakan waktu keberangkatan. Setelah tahu bahwa chapsa mulai perjalanan pada pukul 10.00, nubi memutuskan untuk bergabung dengan group ride chapsa menuju lokasi jamnas.

Tikum berpindah menuju rumah kediaman mas kris. Cukup lama nubi menunggu sampai rasa kantuk kembali mendera..dari pukul 10.00 yang disebutkan, ternyata molor karena masih ada beberapa anggota yang harus menyelesaikan urusan pekerjaan masing-masing.
Setelah semua berkumpul, pada pukul 11.30 rombongan chapsa berangkat menuju lokasi jamnas 4 di claket, pacet, mojokerto, jatim. Jalur yang diambil adalah jalur alternatif salatiga – gemolong – sragen karena menyingkat waktu tanpa harus melewati boyolali dan solo.

Tidak ada kendala berarti selama perjalanan melewati jalur alternatif tersebut, hanya beberapa lubang dan pasir di jalan yang makin membuat waspada.

Keluar dari sragen kota, cuaca tiba-tiba berubah menjadi sangat ekstrim! Yang semula nubi kedinginan dari dieng dan kopeng, tiba-tiba berada di satu tempat yang sangat panas. Konsentrasi nubi mulai menurun karena panas. Beberapa kali hampir terjadi tabrakan atau senggolan dengan pengguna jalan lain karena kurang fokus selama perjalanan.

Sragen – Mantingan cukup teduh karena jalan utama memotong hutan. Beberapa kali rombongan berpapasan dengan rombongan motor lain, ada beberapa yang bertindak sopan, namun tidak jarang ada juga yang bertindak secara arogan di jalan. Untung sekali Road Captaint (RC) dan aturan prides tidak mengajarkan untuk bertindak arogan di jalan, karena semua pengguna jalan memiliki derajat yang sama.

Lanjut jalan lagi deh..kira-kira pukul 14.00 sampai ke kota ngawi langit timur sudah mulai gelap. Group ride tetap melaju normal, namun selepas pusat kota, gerimis mulai mengguyur jalanan. Group ride menepi ke tempat yang memungkinkan untuk berganti rain coat. Sangat kebetulan rombongan berhenti di warung makan, dan memutuskan untuk sebentar beristirahat. Setelah dirasa cukup dan memantau kondisi pengguna jalan dari arah yang berlawanan, maka rombongan memutuskan untuk tetap memakai rain coat, dan benar! Ketika berada di ngawi – caruban hujan deras mulai mengguyur rombongan.

Nganjuk – Jombang tidak terkendala hal yang berat, hanya kepadatan lalu-lintas oleh truk dan bus yang kerap kali nyelonong, dan beberapa mobil mewah yang bertindak arogan menyalip tanpa menghiraukan pengguna jalan yang berada berlawanan dengan mereka. Bingung saya…

Rombongan bertemu dengan group ride pulsar yang baru saja menghadiri acara jambore bajaj di tawangmangu. Niat hati ingin bergabung biar tambah rame, namun ketika RC rombongan tersebut menyalakan sirine dan strobo, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan sendiri.
It’s a long way to go

Perjalanan masih sangat jauh dari jombang menuju mojo agung. Rombongan memutuskan untuk rehat sejenak di pom bensin mojoagung untuk melepas rain gear, beberapa waktu foto-foto dan merekam kegiatan dengan handycam. Tentu saja rombongan kami sangat menarik perhatian beberapa orang di pom bensin. Bagaimana tidak? Beberapa motor besar dengan tambahan box dan berplat luar provinsi dan wajah-wajah yang kelelahan serta sedikit kebingungan arah. Kami bersyukur negri ini memiliki orang-orang ramah yang tak segan membantu. Seorang petugas pom bensin memberikan arah kepada kami menuju trowulan.

Setelah dirasa cukup, rombongan melanjutkan perjalanan dari mojoagung menuju trowulan. Sudah pukul 17.45 ketika kami tiba di trowulan, ketika tiba-tiba megatron yang bertindak sebagai RC menggantikan mas kris menepikan motornya dan berhenti. Ternyata matanya kemasukan serangga, yang orang jawa menyebut sebagai “samber mripat”. Cukup lama kami membantu megatron membersihkan matanya. Setelah semua normal, kami kembali melanjutkan perjalanan. Di GPS tertera arah menuju claket masih 40 km lagi ke depan.

Rombongan melalui jalanan yang sepi dengan sawah di kiri-kanan ruas jalan. Lama kelamaan jalan mulai menanjak, berkelok dan gelap. Tidak ada pilihan selain gas pooollll…!!

Beberapa kali rombongan salah jalan untuk menuju pacet, karena pembacaan GPS sudah mulai ngawur. Kembali posisi RC diganti oleh bayu vani karena hanya GPSnya yang stabil. Nubi semula ragu dengan jalur yang diambil, karena lama kelamaan jalan berubah makin sempit, tanjakan dan turunannya makin tajam, namun akhirnya sampai juga di wisma claket indah dimana semua peserta sudah berkumpul.

Banyak wajah dan pribadi yang menyambut kami hangat. Beberapa sudah pernah nubi jumpai sebelumnya, namun banyak juga yang masih asing. Namun tidak ada salahnya memperkenalkan diri. Ngobrol-ngobrol sejenak dengan kawan lama, sampai akhirnya nubi memutuskan untuk mandi –setelah dari kemarin tidak mandi *oops – pada saat puncak acara dimulai.

Om hansip sebagai host malam itu membawakan acara dengan cukup meriah. Canda tawa, senda gurau, sampai tiba-tiba om hansip menangis trus ketawa lagi…ini ada apa sebenarnya?

Pemutaran video per-chapter cukup menghibur, apalagi ditambah pembagian doorprize di sela sesi pemutaran video, yang cukup bikin deg-degan. Puji Tuhan nubi dapat doorprize persembahan semar motoshop… lumayan buat ganti klakson lama hehe..

Makin larut, acara makin menggila..rombongan yang kelaparan waktu itu dan sudah kehabisan jatah makan mulai memuaskan diri pada saat acara api unggun dan bakar-bakaran…

Renungan dan doa singkat untuk arwah alm. Rizki menutup acara api unggun malam itu. Sekarang saatnya beristirahat. Tapi, nubi tidur dimana? Tempatnya sudah penuh semua je…

Ternyata banyak peserta yang tidak mendapat jatah kamar ditempatkan di aula. Untung nubi masih membawa sleeping bag, jadi agak tenang tidur di suhu dingin…

Sampai jumpa esok hariiizzz……

(bersambung…)

Tidak ada komentar :