Senin, 17 Desember 2012

dona nobis fortitudo



LOKASI
Tempat Doa dan Semadi Bukit Kendalisodo

Alamat: Glodogan, Harjosari, Bawen, Kab. Semarang 50661

Koordinat: 7° 13' 19.7" S 110° 24' 44.5" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik. Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain.



LET'S GET STARTED
Perjalanan ini dimulai bukan dari home base di Semarang tapi melanjutkan cerita perjalanan sebelumnya dari Gua Maria Pereng Getasan (GMPG) di hari yang sama (klik untuk baca cerita).
Dari Jalan Lingkar Salatiga (JLS) saya melanjutkan perjalanan ke utara menuju Semarang. 


Sepanjang perjalanan, saya bertemu dengan rombongan pengendara sepeda motor yang baru saja mengikuti kegiatan Honda Bikers Day di Jogjakarta, ditambah hari sudah cukup sore yang membuat para pelancong kembali ke Semarang membuat jalanan dari Salatiga menuju Bawen cukup padat.

Selepas pertigaan Bawen menuju kompleks pabrik PT. Apac Inti, saya mulai menurunkan kecepatan, kalau-kalau jalan masuk menuju lokasi kedua terlewati. Ternyata jalan masuk menuju lokasi ada dua buah. Satu di utara kompleks pabrik, dan satu lagi agak jauh lebih ke utara lagi. Keduanya berada di sisi barat jalan raya, dan masing-masing terdapat penunjuk jalan yang cukup besar.

Tanpa buang waktu, saya mengambil jalan kedua menuju barat. Jalan kira-kira selebar satu truk engkel, banyak turunan, cukup banyak lubang dan berkelok-kelok melewati perumahan penduduk, sampai pada gerbang desa kelurahan Harjosari. Sampai di sini jalan semakin rusak dan sempit. Mungkin akan kesulitan jika ada dua mobil yang berpapasan. 

Saya disambut oleh pemandangan hamparan persawahan dengan bukit Glodogan di depan. Hingga pada percabangan jalan -yang saya rasa jalan masuk yang satunya lagi- jalan masih berkelok. Deru mesin pabrik cukup terdengar sampai daerah ini, karena memang sangat berdekatan dengan kompleks pabrik. Beberapa spanduk MMT yang juga sebagai pengarah menuju lokasi sudah terpampang di pertigaan terakhir. Ambil jalan menanjak ke kanan.

Sampai di sini saya sempat ragu apakah jalan yang saya ambil benar, karena walaupun lapisan aspal masih cukup baru, namun suasana perkampungan di situ cukup sepi. Maksud saya adalah tidak ada warga yang berada di luar rumah sekedar mengobrol dengan tetangga. Saya tetap melanjutkan perjalanan ke atas, hingga sampai pada sebuah bangunan gereja. 




Gereja stasi rupanya. Niat hati ingin masuk dan sekedar bertanya arah kepada koster atau siapapun di sana, tetapi pagar gereja tertutup. 

Suasana masih sepi.

Sayup-sayup terdengar suara obrolan beberapa orang dari dalam rumah di seberang gereja. Setelah memberanikan diri, saya menghampiri rumah tersebut untuk bertanya. Beruntung yang empunya rumah cukup ramah dan mau memberikan petunjuk jalan menuju lokasi.

"Masih naik, mas, sampai aspal halusnya habis dan berubah jadi aspal rusak, sampai jalan rusaknya berubah jadi jalan plester. Yaa..kira-kira setengah kilo lurus aja  walau ada pertigaan atau perempatan, nanti sampai ke tempat parkir. Dari tempat parkir jalan deket kok mas" Kata warga sekitar gereja yang saya ajak korespondensi.

Setelah beberapa saat mengobrol, saya menarik diri untuk melanjutkan perjalanan. "Setengah kilometer" gumamku.
Jalanan menanjak dan makin menanjak setelah melewati dua bangunan SD Kanisius. Aspal halus "habis" dan masuk aspal rusak. "Oke..lanjut naik" kataku dalam hati dengan penuh semangat. Sore itu ada rombongan ibu-ibu warga setempat yang sedang berkumpul. Pasti arisan nih haha..

Setelah mengucapkan salam kepada mereka, saya terus menarik gas si item, karena jalanan makin menanjak. Sampai pada jalan plester yang sudah sedikit berlumut, dan tanpa penunjuk jalan lagi. Jika Anda hendak berkunjung ke sini, harap berhati-hati ketika melewati jalan plester karena tempat parkir berada di kanan jalan setelah tikungan dengan sisi kiri Anda jurang yang cukup dalam.

Lahan parkir ini hanya sebuah lapangan kecil dengan tulisan "Tempat Parkir" pada kertas HVS yang dilaminating dan sudah luntur. Ini yang harus membuat Anda waspada, karena sebelumnya saya sempat nyasar terus berkendara ke atas. Lapangan ini mungkin hanya bisa dimuati tidak lebih dari sepuluh unit mobil dan sekitar belasan sepeda motor saja. Ada bangunan toilet yang masih baru di sampingnya. Tepat di depan tempat si item saya parkirkan ada anak tangga dari susunan batu menuju ke atas.





Untung saat itu speedometer dan odometer si item sedang mati, jadi saya tidak bisa memastikan apakah benar jarak tempuh dari gereja tadi benar-benar hanya setengah kilometer..haha..



Di ujung anak tangga terdapat sebuah bangunan berpintu kayu.
Jika ini benar tempatnya, maka memang benar lokasinya dekat dari tempat parkir. Pikirku bersemangat.
Tapi ternyata bukan! -____-
Lokasinya masih terus naik.
..........
Ketika saya tulis naik, maka ini memang NAIK!



Jalan yang akan Anda tempuh berupa jalan plesteran dan kembali susunan batu yang sudah dibuat menjadi anak tangga.

TIPS: pastikan diri Anda benar-benar dalam kondisi fit, jangan membawa banyak barang yang dirasa tidak perlu. Jika memang harus membawa barang, gunakan tas punggung.

Kondisi yang terjadi kemarin adalah saya masih mengenakan jaket berpelindung yang cukup berat, dan membawa sebuah tas kecil yang mengganggu  tubuh untuk menyeimbangkan diri.



Belum sampai separuh perjalanan, saya sudah cukup ngos-ngosan TT.TT maklum, karena berbadan besar dan jarang sekali berolah raga. :malu:

Jadi ingat jalan ke sendang siningsih nih...

Selama perjalanan pendakian di sini bisa juga untuk jalan salib. Dengan pos yang hampir sama dengan tulisan di tempat parkir tadi. Selembar kertas yang dicetak menggunakan printer, dilaminasi dan sudah luntur. Jika tidak cermat, Anda bisa tertinggal satu atau dua pos.



Lelah memang, tapi hati yang penuh sukacita dapat menghapus rasa lelah itu.
Tak masalah jika harus berjalan selangkah demi selangkah, karena lokasinya sudah sangat dekat. 

Selangkah demi selangkah

Dan akhirnya tiba juga di lokasi..



Atur nafas dulu sejenak. dona nobis fortitudo. Tuhan, beri aku kekuatan.

Beruntung di tenda utama ada kursi, jadi saya bisa lepas jaket dan menaruh tas sambil sejenak beristirahat.

Setelah dapat mengatur nafas, saatnya berdoa dan bermeditasi sejenak. Tempat ini cukup tenang. Yang terdengar hanya suara pohon dan ranting yang tertiup angin, suara serangga hutan dan sesekali dengungan suara mesin pabrik yang ikut terbawa angin.

Tempat ini berupa sebuah tebing di lereng bukit dengan Gua Maria di sisi kanan dan patung Yesus yang sedang duduk di dalam singgasana di sisi kiri.  Sedangkan di tengah-tengahnya terpampang besar tulisan.






Di depan Gua Maria terdapat beberapa keran untuk mengalirkan air dari mata air yang bersumber dari bukit itu. Cukup segar untuk mencuci muka, namun ketika saya minum, airnya masih berasa tanah.

Di depan gua terdapat beberapa tenda di atas tanah yang berundak dengan sebuah tenda utama dengan atap kanopi, untuk menyesuaikan kontur tanah yang berbukit. Hanya tanah yang sudah diratakan dan dipayungi tenda saja. Jika Anda mengharapkan sesuatu yang lebih, lebih baik lupakan saja. Karena dalam bersamadi lebih baik jika kita menyatu dengan alam sekitar.











Setelah menenangkan diri, mengambil gambar dan menikmati air dari sumber mata air di situ, saya memutuskan untuk kembali pulang ke Semarang.

KESIMPULAN
Tempat Doa dan Samadi Kendalisodo Glodogan ini sangat cocok untuk Anda yang sejenak ingin melupakan hiruk-pikuk duniawi dengan mengasingkan diri, mendekatkan diri pada Tuhan dan menemukan-Nya dengan doa, semadi dan meditasi.

Jika ingin mengunjungi tempat ini, pastikan tubuh Anda dalam kondisi yang prima, dan jangan membawa barang yang berlebihan. Gunakan pakaian yang nyaman dan siapkan lotion anti nyamuk, karena nyamuk hutan yang cukup besar di situ.

Jangan lupa untuk membawa air minum secukupnya, dan tempat air kosong jika Anda ingin membawa pulang air dari mata air bukit tempat doa di depan Gua Maria.

Ada kotak dana di sana jika Anda berniat untuk sekedar berdonasi :)



Berkah Dalem

Tidak ada komentar :