Sabtu, 29 Desember 2012

Sambungan ke Sembungan




DISCLAIMER
Cerita ini selain berisi Ride Report, juga mengandung Event Report dari kegiatan bakti sosial Nusantaride: One Book by One Rider (OBOR)

LOKASI
Desa Sembungan, Kec. Kejajar, Kab. Wonosobo, Jateng
7°14'17.3"S 109°55’35.0”E (Sikunir)

LET'S RIDE!
Jumat, 28 Desember 2012
Pagi itu cuaca di Semarang sudah mulai mendung, namun tidak menyurutkan semangat saya untuk mulai bersiap-siap menuju Sembungan.

Tempat yang berpredikat sebagai Desa tertinggi di Pulau Jawa ini menyimpan potensi alam yang luar biasa, dan berpikir bahwa saya akan menuju tempat itu untuk berbagi berkat dan kebahagian bersama anak-anak di sana.

Ya! Setelah berhasil melaksanakan kegiatan Nusantaride National Dieng Rally pada 16-17 November lalu (baca cerita NNDR di sini), masih dalam prakarsa Pakde Reza "Pak Ija" Patunru, dibuatlah kegiatan One Book by One Rider (OBOR) yaitu pemberian satu buku oleh satu orang untuk mengisi perpustakaan di MI, TK dan SD di desa itu.



Menurut keterangan Pak Eko, kepala MI, selama ini tanpa adanya fasilitas berupa buku pelajaran, pengetahuan umum maupun buku bacaan di perpustakaan sekolah, nilai rata-rata dalam ujian semester sudah cukup tinggi yaitu 8.
Betapa potensi kecerdasan akademik cukup besar yang dimiliki oleh anak-anak desa, yang sayang bila tidak mendapatkan perhatian.

Pukul 6:45 pagi itu saya sudah tiba di basecamp Nusantaride Semarang, yang juga rumah kediaman Mahendra "Petrik" Kukuh sebagai titik kumpul, dari rencana keberangkatan awal pukul 7 pagi. Buku-buku sudah dikemas rapi di dalam kedua side box pada malam sebelumnya, untuk menyingkat waktu persiapan esok hari sebelum keberangkatan. Namun ternyata pagi itu sudah dapat dipastikan bahwa keberangkatan akan tertunda.

Jam karet.

Sesampainya di rumah Petrik, ternyata yang empunya rumah sama sekali belum bersiap-siap, malahan baru bangun tidur dan masih harus mengurusi keperluan rumah.
Oke..baiklah, sambil menunggu dua teman lain yang akan membantu mendistribusikan hampir seratusan eksemplar buku bekas, yang pastinya tidak dapat dilakukan oleh kami berdua saja.

Sambil menunggu, ngecas hp dulu, biar nggak kehabisan baterai selama perjalanan.

Menunggu...

Menunggu...

Menunggu...

Lama amat nih orang-orang ya...

7.15 ada sms masuk dari bro Wahyu "Reza" Danaresa. Ya..intinya dia bakalan telat datang karena bangun kesiangan. Baiklah..semoga tidak terlalu siang berangkat dari Semarang.

7.30 datang bro Hizkia "Kia" Eri, seorang relawan merapi yang supel, cerdas dan berwawasan luas yang bersedia membantu kami mendistribusikan buku ke Dieng, bersama tunggangan setianya yakni Suzuki Thunder biru yang dibeli dengan hasil jerih payah mengumpulkan "tanda jasa" selama menjadi relawan tsunami Aceh lalu. 
Mas Kia (begitu selanjutnya kita akan menyapa beliau) yang hidup sendiri di daerah Semarang barat, setelah semua anggota keluarganya pindah mengikuti mutasi sang ayah ke Lampung, sebentar kemudian berpamitan untuk sarapan.

Baiklah..sendirian lagi di kamar Rere sambil menunggu semua anggota team siap sambil nonton TV.
Pukul 8 lebih dan saya harus merelakan tidak menonton Naruto the movie untuk mengemasi buku-buku yang akan disumbangkan ke dalam kardus. worthed banget ya? Haha.. -___-;

Berkardus-kardus buku sumbangan dari rekan-rekan di Kudus, Pati dan Jepara langsung kami rapikan. Total ada 4 kardus mie instan yang akan disumbangkan, tapi..oh..oh..setelah diperiksa lagi, buku-buku donasi itu tidak hanya buku untuk siswa SD!


Ada beberapa majalah bekas, buku pelajaran untuk siswa SMP, SMA, bahkan hand book perkuliahan.
Jika kami tidak teliti, maka buku-buku itu pasti sudah ikut terdistribusi ke desa.
Walau harus dua kali kerja, bongkar kemasan, sortir dan repacking, namun kami tetap bersemangat.
Sampai akhirnya kami hanya dapat mengumpulkan sampai dua kardus ukuran sedang (dan dlaam sepasang sidebox saya) untuk buku-buku pelajaran dan pengetahuan umum yang layak disumbangkan.
Karena ketiadaan plastik lebar untuk mencegah rembesan air jika sewaktu-waktu hujan turun sewaktu riding, kami menggunakan karung goni sebagai pembungkus luar kardus sementara, untuk kemudian harus membeli plastik meteran di daerah Bandungan untuk menutup lagi kardus berisi buku tadi, supaya benar-benar kedap air.
Rencana yang sungguh sangat brilian menurut pikiran kami!

Sangat brilian!

Tak lupa karung goni kami tulisi supaya nggak diseruduk pengguna jalan lain, karena mengira kami ini geng pengendara motor yang membawa paket misterius. Hehe..





Jam 10an..tepatnya jam berapa gak perhatiin, setelah berpamitan kepada ibunya Petrik, kami berangkat. 4 Rider yakni saya, Petrik, Reza dan mas Kia riding santai aja, karena motor mas Kia agak bermasalah dalam akselerasi. Oke-oke saja, karena saya tipe pengendara santai :)

Rute yang disepakati dari basecamp menuju Ungaran, Bandungan, Sumowono, Kaloran, Temanggung, Wonosobo, Dieng, Sembungan.
Kami mengambil rute "normal" karena di Wonosobo akan bertemu dengan rekan-rekan STC (Student Touring Club) Wonosobo yang sudah siap menyambut kami.
Sesuai namanya, Student Tourinng Club ini berisikan rider yang masih berstatus sebagai pelajar SMA di Wonosobo. Walau masih sangat muda, namun mereka sudah memiliki semangat untuk menjelajah dengan mengendarai kendaraan hasil keringat orang tua mereka..uhuk..uhuk..

Karena di H10 (biker shop kecil-kecilan yang dikelola Petrik di depan rumahnya, yang juga jadi kamar kos Rere dan Basecamp Nusantaride Semarang) kehabisan stok raincoat, disepakati kami akan berhenti sebentar menunggu mas Kia membeli raincoat.


Berhenti lagi di SPBU sukun karena Petrik harus isi bensin, dan beberapa diantara kami ambil uang di ATM.

Selepas Terminal Banyumanik arah Watu Gong terdapat kemacetan parah! Dari dialog kernet bus dengan beberapa sopir, ternyata di depan ada truk mogok. Sempat putus asa menghadapi kemacetan di sana, Reza memberi masukan pengubahan rute dari Ungaran putar ke GunungPati, Boja, Limbangan, Sumowono atau Boja ke Tambi.
Walau berputar-putar, namun jika dapat menghindari kemacetan sih oke saja, dan saya menyetujui perubahan rute tadi. Namun selepas Markas Kodam IV Diponegoro arus lalu lintas kembali lancar setelah melewati dua buah truk gandeng pengangkut motor yang macet. Saya memutuskan untuk membawa team kembali melewati rute awal, yang lebih pendek.

Kemacetan kembali kami hadapi di tanjakan pabrik biskuit Khong Guan hingga lepas Pasar Babadan. Dalam kemacetan itu saya tertinggal jauh di belakang karena side box yang tidak memungkinkan untuk berjalan melalui sela-sela kendaraan besar. Cukup melelahkan mengendarai motor dengan beban yang cukup berat. Sejenak kami berhenti di mini market untuk sekedar memeriksa keadaan muatan dan menikmati sebotol air mineral dingin.
Beberapa pengendara dari arah berlawanan sudah banyak yang mengenakan raincoat dan badan kendaraan besar sudah basah. Langit selatan dan barat daya sudah tertutup mendung tebal. Karena kami akan memotong arah ke barat, saya pikir masih terlalu aman untuk melanjutkan perjalanan tanpa mengenakan raincoat terlebih dulu dan menjalankan "ide brilian" kami.

Masuk daerah Bandungan, kami masih merasa aman. Sewaktu menikmati jalanan naik-turun dan berkelok di sana tiba-tiba hujan turun! Tanpa menurunkan gerimis terlebih dahhulu, awan seketika memuntahkan ratusan liter air. Panik, karena kami sedang dalam trek menanjak, dan di kiri-kanan kami tidak ada tempat berteduh hingga beberapa ratus meter. Kami tidak terlalu mempedulikan kondisi fisik kami, karena masing-masing sudah memiliki pelindung hujan berupa raincoat dan raincoat shoes, namun tidak dengan paket yang kami bawa.
Dalam emperan kios kami berhenti sejenak menyelamatkan paket dari air hujan, karena karung goni tidak dapat menahan air terlalu lama. Setelah beberapa menit dan hujan sudah agak reda, saya melanjutkan perjalanan, namun hanya beberapa puluh meter hujan kembali turun secara tiba-tiba dan kali ini lebih deras!

Menepikan si item di depan sebuah toko bangunan, saya langsung masuk karena mungkin di sana menjual plastik meteran untuk melindungi buku-buku untuk anak-anak. Ah, ternyata di situ tidak menjual plastik meteran. Karyawan toko menyarankan untuk mencari di Pasar Jimbaran yang masih berjarak sekitar 4 km. Selagi menunggu tiga anggota rombongan lain, saya minta izin kepada pemilik toko untuk sebentar berteduh dan memakai raincoat.

Setelah saya siap dengan "peralatan tempur hujan" dan kebetulan rombongna lain sudah siap mengenakan raincoat masing-masing, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Jimbaran. Hanya berjarak beberapa ratus meter perjalanan, cuaca berubah drastis. Dari sebelumnya hujan deras menjadi jalan dengan aspal kering. Cukup dongkol juga kami berkendara, hingga tiba di pasar yang dimaksud. 

Berhenti di pelataran toko yang cukup luas, kami melepaskan raincoat. Kebetulan sekali toko tempat kami singgah menjual plastik besar. Tanpa pikir panjang saya membeli beberapa lembar plastik untuk menutupi paket agar tidak tembus air. Tak lupa saya juga membungkus buku di dalam side box karena box yang saya pakai waktu itu  rentan rembesan air.







Menunggu Petrik dan Reza yang menunaikan ibadah sholat Jumat, saya dan mas Kia membenahi paket-paket kami hingga benar-benar siap dan aman selama perjalanan.
Sekitar jam 1.30 siang kami siap melanjutkan perjalanan lagi. Kukira hanya perutku, tapi ternyata kami sudah merasa lapar karena perjalanan dan penggunaan kalori untuk menghangatkan tubuh selama wet riding sebelumnya. Disepakati kami akan kembali berhenti di Sumowono untuk makan siang.



Warung makan di depan Kecamatan Sumowono ini tidak terlalu besar, namun cukup ramai pengunjung. Ini kali kedua saya makan di sana setelah sebelumnya bersama Petrik, Rere dan Aji 'bontot' saat final survey NNDR.
Nasi sayur lauk tahu, dua kerupuk dan segelas jeruk panas ditebus dengan Rp 6.000 saja.

Selesai makan (dan tentunya bayar makanannya) kami kembali melanjutkan perjalanan. Gak mau terlalu buang waktu supaya tidak kemalaman tiba di Dieng.
Riding santai SUmowono - Kaloran - Temanggung ternyata hanya makan waktu 30 menitan. Kembali kami berhenti di SPBU untuk sejenak istirahat, memeriksa muatan dan buang air kecil.



Kira-kira 30 km dari SPBU di Temanggung menuju Wonosobo, namun ternyata perjalanan kami tak semulus rencana. Mas Kia dan Petrik beberapa kali memperlambat laju kendaraan mereka dan berhenti di beberapa toko pakaian karena ingin membeli celana panjang yang basah kehujanan.

Setiba di Wonosobo, kami hanya melewati alun-alun karena tidak melihat adanya "portal" STC yang ingin menyambut rombongan kami. Kembali Mas Kia dan Petrik beberapa kali melambat untuk memeriksa beberapa toko pakaian sepanjang jalan Wonosobo - Dieng.
Beberapa kali mencoba, kelihatannya mereka berdua sudah menyerah dan menerima kondisi kedinginan karena bercelana basah.

Mendaki ke Dieng, lagi-lagi saya dikejutkan dengan hujan deras yang turun secara tiba-tiba. Beberapa ratus meter dan saya tidak menemukan tempat yang aman untuk berteduh sampai tiba di depan rumah penduduk sekitar dengan emperan yang cukup luas untuk saya dapat memakai raincoat shoes dan menyimpan rompi. Hari belum terlalu sore, namun kabut sudah mulai menyapa kami selama perjalanan menuju Dieng. Petrik mengisyaratkan agak rombongan sejenak berhenti di Gardu Pandang Tieng. Tempat terakhir dimana kami bisa dengan leluasa menikmati sinyal operator seluler.

Jam 4 sore kami tiba di Tieng, memanfaatkan sejenak waktu untuk beristirahat, memeriksa kondisi kendaraan dan muatan, menikmati kopi panas bekal Petrik dari basecamp dan jagung bakar yang dijajakan penduduk lokal, dan tentunya mengambil gambar. 











Beberapa menit berlalu dan Petrik menerima sms dari STC bahwa mereka tetap akan menjamu dan mengawal kami selama di Dieng dan Wonosobo. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada mereka yang sudah berniat baik, kami menunggu kedatagan STC sampai kira-kira jam 5 sore. Setelah berkenalan dan sedikit obrolan dengan beberapa anggota STC, kami dalam rombongan besar kembali melanjutkan perjalanan ke Desa Sembungan.

Kira-kira jam 5.30 sore kami masuk di gerbang Dieng Plateu, dan menyempatkan untuk mengambil foto di sana.






Menurut instruksi Rere sewaktu kami masih mengemasi buku di Jimbaran siang sebelumnya, kami diminta untuk langsung menuju rumah kediaman Pak Eko di Desa Sembungan, yang selanjutnya menjadi rumah singgah kami selama di sana. Pak Eko selain sebagai kepala Madrasah Ibtidaiyah, juga pemilik Home Stay "Rodja" dan anggota TANKER, sebuah perkumpulan pemandu turis di desa itu. Maka dari pertigaan Dieng, saya langsung mengarahkan rombongan menuju Desa Sembungan, tanpa tahu ternyata Pak Eko sudah menunggu di pertigaan. Miss komunikasi pertama kami.

Kira-kira jam 6 sore kami tiba di rumah pak Eko, rumah terakhir sebelum memasuki perkebunan kentang dan juga jalur menuju kaki Gunung Sikunir. Ditemui oleh anak sulung beliau, yang mengatakan sang ayah sedang berada di Dieng, kami dipersilakan masuk. Tak berselang lama, rombongan STC pamit mengundurkan diri dari desa karena mereka belum mendapat izin dari orang tua untuk menginap. Namanya juga anak-anak. Hanya seorang yang tinggal menemani kami, yaitu adik Satria :p

Beberapa menit kami menunggu, dan setelah menurunkan muatan, akhirnya yang empunya rumah datang, dan mengatakan bahwa beliau sudah menunggu kami di pertigaan Dieng.



Oops..
Dengan sedikit percaya diri kami mengatakan bahwa kedatangan kami untuk mengantarkan paketan buku, tapi ternyata Pak Eko sendiri belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pengurus Nusantaride pusat.

"Saya cuma denger mas Rere bilang tanggal 28 (Desember) pada mau ke sini lagi nganter buku" kata Pak Eko dengan bahasa Indonesia logat semi ngapak khas Dieng.
"Tapi sampai tadi siang nggak ada kabar lagi dari mas Rere atau Pak Ijak, saya kira batal" lanjut beliau "Tapi tetep saya tungguin di pertigaan"

Syukurlah..

Ngobrol cukup lama dengan Pak Eko dan kami sempat menanyakan harga sewa rumah singgah dan penginapan di Dieng. 
Musim liburan akhir tahun saat itu dimanfaatkan oleh pemilik penginapan dengan menaikkan tariff hingga dua kali lipat, kata Pak Eko.
Dari tariff menginap pada hari biasa sebesar RP 600.000 - 800.000 bisa dinaikkan menjadi Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per hari.
Sedangkan tariff sewa rumah singgah di Desa Sembungan tetap berkisar Rp 300.000 - Rp 400.000 per hari.

Terpotong oleh telpon Rere yang mengabarkan bahwa team Jabodetabek malam itu sudah dalam perjalanan menuju Dieng, dan kemungkinan subuh atau esok harinya akan tiba di Dieng.

Setelah menutup telepon dan melihat gelagat kami, Pak Eko langsung mempersilakan kami untuk beristirahat di rumahnya.

"Santai saja" kata beliau sambil tersenyum.

Puji Tuhan, pikirku karena kami tidak perlu repot kembali turun ke Dieng mencari penginapan.

Malam itu hujan turun di Desa Sembungan. Petrik dan Mas Kia turun ke Dieng untuk membeli ransum, perbekalan kami, karena di desa tidak ada warung makan. Beberapa kopi, minuman dan mie yang serba instan sudah terbeli. Namun ketika kami hendak memasak mie instan, tiba-tiba Bu Eko dan dua puteranya datang menghidangkan nasi hangat dan mie rebus.

Wah..berkat lagi nih dari tuan rumah, pikir kami.
karena lapar dan kedinginan, hidangan itu sudah raib tak lama setelah dipersilakan.
Aduh..aduh..laper mas? hehe..

Malam semakin larut, kami berlima menikmati dinginnya malam di depan TV sambil menghangatkan diri di balik selimut. Sambil membicarakan rencana esok hari, malam itu sesekali lolongan anjing hutan dan serigala terdengar dari balik bukit. Sudah diputuskan bahwa kami akan mendaki puncak Sikunir melihat Golden Sunrise yang terkenal sampai ke penjuru dunia itu.

Saatnya istirahat.

Dan saya nggak sadar ternyata mereka berempat bersekongkol merekam dengkuran ketika saya tidur..

Ahh..sialan.. -___-;

Sabtu, 29 Desember 2012
Dini hari saya terjaga. Setelah dari kamar kecil saya kembali ke kamar dengan maksud melanjutkan tidur, tapi hawa dingin pagi itu sangat menusuk sampai ke tulang. Saya hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan mata terbuka, sampai pada pukul 3.30 pagi ketika pintu rumah diketuk dari luar.

Ah..ini pasti team Jabodetabek yang datang. Pikirku semangat.
Setelah membukakan pintu, ternyata ketukan tadi berasal dari seorang yang hendak menyewa rumah. Setelah mengatakan kalau rumah ini sudah kami sewa, dengan wajah sedikit kecewa, tamu tadi meninggalkan rumah bersama rombongannya.

Jam 4 pagi saya membangunkan teman-teman dengan maksud mengajak mereka untuk melihat Golden Sunrise Sikunir. Hanya Reza yang tertinggal karena dia enggan beranjak dari kasur dan selimut. Setelah bersiap, kami berempat mulai menyusuri jalan setapak menuju trek pendakian.

Beberapa warga yang membuka usaha di lapangan parkir maupun di puncak sudah bersiap, begitu juga dengan beberapa rombongan wisatawan. Dengan bersemangat saya melalui trek pendakian. Trek yang landai.

....Semula..

Namun, lambat laun trek pendakian berubah makin terjal. Sebelum berangkat saya sudah mempersiapkan diri dengan melepas armor pada jaket, sehingga pada pendakian ini, saya tidak terlalu membawa beban yang cukup berat. Beberapa kali saya dan Petrik berhenti untuk mengambil nafas. Maklum, kami berdua berbadan besar, sehingga cukup susah bagi kami dalam mendaki. Mas Kia dan Satria menyemangati kami berdua dari atas. Selangkah demi selangkah kami lalui, hingga akhirnya kami berempat tiba di puncak Sikunir.













Hal pertama yang kami lakukan setelah mendapatkan tempat untuk duduk adalah menyalakan ponsel. Maklum, di rumah Pak Eko (bahkan hampir di seluruh Desa Sembungan) tidak ada sinyal dari operator seluler yang mampir. Jika beruntung saja maka Anda akan mendapatkan sinyal di desa. Maka tanpa menyiakan kesempatan, kami menyalakan ponsel, dan benar saja, ada beberapa SMS dan BBM yang membombardir ponsel kami masing-masing.



Pagi itu kabut di puncak cukup tebal, begitu pula awan gelap yang menggantung menutupi puncak Gunung Sindoro - Sumbing yang tepat berada di sisi timur Sikunir. Hal itu berakibat kepada tertutupnya pemandangan terbitnya matahari yang kami nantikan.



Walau kami hanya bisa melihat segurat cahaya merah keemasan selama sekitar sepuluh menit, namun kami semua cukup puas telah dapat menikmati salah satu bentuk kebesaran Tuhan.

Masih berkabut, dan tiba-tiba hujan turun. Para wisatawan panik karena di puncak tidak ada tempat berteduh, kecuali beberapa lapak pedangan yang memasang tenda sekedarnya untuk melindungi kompor mereka dari hujan.
Sudah cukup terang suasana waktu itu, dan kami semua memutuskan untuk turun gunung.








Setiba di kaki Gunung Sikunir, kembali lagi kami mengabadikan suasana di sana.







Setelah hujan muncul juga pelangi di sudut utara Telaga Cebong.





Bersama kami menyusuri jalan menuju tempat penginapan. Melewati bukit, lembah dan pesisir telaga yang menjadi lahan cocok tanam warga. Dari kentang, bunga liar hingga pohon carica (Vasconcellea cundinamarcensis) atau sering disebut karika, si pepaya gunung. Tanaman asli dataran tinggi Andes sepanjang Amerika Selatan, yang membentang melalui tujuh negara Argentina, Bolivia, Chili, Kolombia, Ekuador, Peru, dan Venezuela. Sama seperti Dataran tinggi Dieng yang terdapat dalam lima kabupaten yaitu Kabupaten Wonosobo,Banjarnegara, Pekalongan, Batang dan Temanggung.







Sesampainya di ruumah, JENG..JEEENG..!! Reza masih asyik masyuk di bawah selimut. Mungkin karena memang dingin, atau semalam gak bisa tidur karena suara dengkuran saya..hehe..

Setelah membersihkan diri, kami semua merundingkan rencana hari itu. Setelah sarapan, pada pukul 8 pagi atau selambatnya 9 pagi kami akan menuju kawasan candi Arjuna atau ke telaga warna. Lalu menunggu rombongan dari kota lain merapat dan mengikuti acara OBOR. Setelah dirasa rencana kami cukup matang, kami mulai mempersiapkan diri, salah satunya adalah nonton spongebob -__-;






Di depan rumah sudah menanti pak Eko bersama anak sulungnya. Kami berlima sudah banyak ngobrol bersama anak sulungnya yang ternyata sedang kebingungan mencari tempat kos untuk magang di Semarang. Setelah pada malam sebelumnya banyak diberi masukan oleh Mas Kia, pagi itu kami kembali ngobrol ringan di depan rumah tentang potensi desa, rencana magang hingga obrolan-obrolan kecil lain.

Tak berselang lama, tiba segerombolan pengendara motor yang langsung kami cegat. Ternyata Latanza, om Eddy dan om Isal. Cuma bertiga sih, nggak segerombolan juga...hehe..
Mereka bertiga bertolak dari jogja pada Jumat tengah malam dan sudah tiba di Dieng sekitaran Sabtu subuh, namun baru berkoordinasi untuk langsung menuju Desa Sembungan siang. Miss komunikasi kedua?






Ngobrol singkat, ngalor-ngidul, bercanda kesana kemari, dan akhirnya tepar.



Kebetulan pagi itu hujan turun lagi. Rencana yang sudah kami susun sebelumnya secara otomatis buyar. Sambil menunggu hujan reda, saya mengemasi barang-barang, sementara Mas Kia berkumpul bersama keluarga Pak Eko untuk melanjutkan obrolan pagi tadi. Sisanya? Tiduurrr...

Hujan sudah mulai mereda sekitar jam 10 pagi. Saya berjalan keluar rumah menikmati suasana desa. Tidak ramai karena sebagian besar warga sedang berada di ladang, dan sisanya memilih untuk berada di dalam rumah.




Karena sudah terpatri kalau di dalam desa tidak ada sinyal operator seluler GSM yang mampir, kecuali hanya ceria tentunya, saya tidak membawa ponsel selama di luar rumah. Hanya kamera saku saja.

Hanya ada satu warung di desa yang saya temui, saya berniat ingin membeli batu baterai untuk kamera saku dan ternyata tempat itu menjual oleh-oleh khas. Nggak dapet baterai, akhirnya beli keripik jamur merang Dieng dan manisan carica buat oleh-oleh. hehe...



Kembali lagi ke rumah singgah dan pemandangan yang saya dapat masih sama seperti beberapa saat lalu ketika saya tinggal. Berdiri termangu di depan rumah pada saat bersamaan gerimis turun, datang bro Fariz dari Nusantaride Jogja menyusul ketika pendahulu mereka. Bedanya mas Fariz ini berangkat pagi dari Jogja.

Reza, Petrik dan Satria sudah mulai beranjak dari kasur dan menemui tamu baru kami. Mas Fariz ternyata juga tidak tahu rencana acara OBOR. Jadilah kami semua di rumah singgah hanya bisa termangu. 

Sekitar jam 12 ketika mas Fariz hendak menjalankan ibadah sholat Dhuhur di masjid besar desa, Satria dan Petrik mau beli rokok ke warung tadi yang kebetulan berseberangan dengan masjid. Saya ikut, namun kali ini ingin sekalian menguji keberuntungan dengan membawa serta BB. Dan benar! ternyata di desa bagian bawah ada sinyal operator smartfren dengan kualitas baik. Tanpa berpikir panjang, saya manfaatkan kesempatan itu untuk melakukan koordinasi dengan Rere untuk menyampaikan kepada team Jabodetabek untuk segera merapat ke Desa Sembungan.

Tak menunggu terlalu lama, datang lagi tiga motor rombongan Jabodetabek ditambah bro Okky dari Sobbisco Karanganyar Solo yang sedari pagi sudah kami tunggu, salah satunya pakde Ija. Yang 2 rider lagi gak apal namanya...maklum masih nubi, jadi belom hapal nama sesepuh..hehe..

Lemahnya koordinasi karena faktor komunikasi membuat ketiga team saling menunggu. Team Semarang yang sedari Jumat malam sudah berada di Desa Sembungan, team Jogja yang sedari Sabtu subuh berada di Masjid Dieng, dan team utama dari Jabodetabek yang sedari subuh juga berada di kompleks candi Arjuna. Miss komunikasi ketiga?

Setelah berkoordinasi dengan pak Eko, kami semua berjalan menuju sekolah terdekat, yaitu MI untuk melakukan penyerahan simbolik buku-buku donasi.







Setelah acara penyerahan selesai, kami berlima kembali berembug dan disepakati kami akan langsung meninggalkan Desa Sembungan, karena masing-masing diantara kami tidak membawa bekal yang cukup untuk meneruskan bermalam di sana. Setelah mengumpulkan dana "sewa" rumah singgah, kami menuju penginapan untuk berkemas pulang. Berpamitan kepada Pak Eko dan keluarga sore itu ternyata menjadi salah satu hal yang berat bagi kami, karena kami sudah boleh diberikan kenyamanan selama di desa. Walaupun pada awalnya menolak dibayar karena menganggap kami telah membantu anak-anak, namun akhirnya beliau mau menerima amplop berisi uang hasil iuran kami, walau jumlahnya tidak sebanding dengan biaya sewa homestay semalam.

Rombongan Jabodetabek, Jogja dan Solo yang dipimpin oleh Pakde Ija melakukan petualangan napak tilas jalur rally NNDR dari Desa Sembungan menuju Kawah Sikidang, sedangkan kami berlima bertolak menuju Wonosobo.




Kira-kira jam 4 sore kami meninggalkan Dieng.




Kami yang sangat yakin tidak turun hujan selama perjalanan, sama sekali tidak mengenakan peralatan penunjang keamanan saat hujan. Ketika tiba di Tambi, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Terpaksa kami menepi dan berteduh di rumah warga sambil berganti pakaian dengan raincoat dan raincoat shoes. Hujan yang sangat deras dan turun tiba-tiba sore itu menjadikan jarak pandang cukup rendah. Namun berselang beberapa kilometer hujan tidak lagi turun. Semakin kami melaju menuju Wonosobo, jalan semakin kering dan suasana sore di Wonosobo cerah.

Berniat menghormati komunitas lokal dan teman-teman yang sudah membantu dan menemani selama kegiatan OBOR, sejenak kami bersilaturahmi dan makan siang yang tertunda bersama STC di alun-alun Wonosobo. 

Tepat jam 5.30 sore kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan, tapi tiba-tiba muncul seorang pengendara sepeda motor yang berhenti dan mencegat kami. Ternyata klub lokal lain di Wonosobo, dan dia meminta kami untuk berhenti di sisi lain alun-alun tempat klubnya berkumpul.  Untuk menghindari konflik, tidak ada salahnya untuk sebentar kami mampir dan bersalaman saja.

Hal yang tidak mengenakkan ketika kami tiba di sana. Pengendara motor yang mencegat kami semula, yang ternyata adalah ketua club lokal itu berkata bahwa ada aturan kelompok pengendara lain tidak boleh lewat begitu saja jika berada di Wonosobo. Singkat kata, kami dipaksa untuk tinggal di sana mendengarkan celoteh dan omong besarnya. Dengan halus saya menolak ajakan orang itu, beralasan bahwa kami harus tiba di Semarang sebelum jam 9 malam untuk kopdar.

Selepas adzan maghrib kami berempat kembali melanjutkan perjalanan ke Semarang. Tetap menggunakan raincoat lengkap dengan pertimbangan jika tiba-tiba turun hujan di jalan seperti perjalanan sebelumnya, kami terus melaju ke timur. Hari sudah mulai gelap, jalan lintas Wonosobo - Temanggung yang tidak terlalu lebar dengan kepadatan arus lalu lintas cukup menyulitkan kami. Beberapa kali saya kehilangan rombongan.

Mendekati Parakan, saya meminta Petrik untuk mengambil alih memimpin rombongan. Parakan - Temanggung cukup ceerah malam itu. Kami terus melaju hingga akhirnya masuk ke jalur Temanggung - Kaloran - Sumowono. Sampai pada jalur ini Petrik bergantian dengan Reza memimpin rombongan. Cukup sepi jalur menuju Kaloran, baik lalu lintas maupun suasana perkampungan sekitar. 

Mulai naik ke Sumowono, suasana tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Kami dihadang oleh kabut tebal! Jarak pandang waktu itu kira-kira hanya 20 m dan kami mulai menurunkan kecepatan. Beberapa pengendara memilih menepikan kendaraan mereka dan menunggu hingga kabut menipis, tapi sampai kapan? Malam mulai bertambah larut dan Reza memutuskan tetap melaju, walau dengan kecepatan sedang, bahkan pelan. Beberapa kilometer kami jalani hingga akhirnya mendekati pusat Kota Kecamatan Sumowono dimana sudah tidak ada kabut.

Mungkin karena adanya Adrenalin Rush selama menembus kabut atau penggunaan suhu tubuh untuk menghangatkan badan, Sumowono - Bandungan yang kala itu sangat sepi untuk ukuran suasana malam minggu cukup membuat badan saya lelah. Bandungan - Jimbaran - jalan tembus ke Ungaran yang berjarak tak lebih dari 12 km entah kenapa terasa sangat jauh dan lama..Sampai pada suatu saat saya disadarkan oleh Petrik yang tiba-tiba mengendarai motornya tepat disampingku sambil teriak,"Ngantuk yaaa..?"

Malam minggu itu cukup lengang, sehingga selepas jalan raya bandungan, kami bisa menggeber motor hingga 80 kpj menuju Ungaran. Sampai di Srondol masing-masing dari kami berpisah.

Kira-kira jam 9 saya tiba di rumah. Lelah tapi menyenangkan. Letih tapi memberikan kepuasan tersendiri.

Semoga buku-buku yang telah terkumpul dan disumbangkan bagi pengembangan potensi kecerdasan akademik anak-anak MI, TK dan SD di Desa Sembungan benar-benar bermanfaat.

Bocoran info nih...Pakde Ija berencana mau melakukan baksos susulan yaitu merenovasi gedung sekolah MI yang kami kunjungi kemarin :)



Sekian

Tidak ada komentar :