Jumat, 29 Maret 2013

TEKTOK KOPLAAAAK..!!



Pagi itu cukup malas rasanya beranjak dari tempat tidur. Walau tak senyaman ranjang ekslusif senilai jutaan rupiah dan tak serapi kamar hotel bintang lima, tapi aku masih ingin terus bermalas-malasan di atas kasur buluk di dalam kamar sembilan meter persegi di rumah. Hari Jumat itu hari libur nasional. Tanggal 29 Maret 2013 merupakan peringatan wafatnya Tuhan Yesus, dan bagi kami penganut agama Katolik, adalah Hari Jumat Agung. Salah satu hari yang penting bagi iman kami. Tapi setelah melihat percakapan via grup BBM Nusantaride Jateng selama semalam, hari itu belum ada satupun orang yang menyatakan kesanggupan untuk survey lokasi kegiatan Nusantaride Jateng Ride and Share. Acara ini diumumkan kepada umum secara mendadak pada Hari Selasa sebelumnya, tanpa konfirmasi sebelumnya kepada para Nusantarider Jateng lain. Panik, karena dalam 'poster virtual'-nya, Rere mencantumkan nama saya sebagai PIC kegiatan, dan beberapa pesan singkat saya terima dari calon peserta.




Dengan malas, saya mulai beranjak dari tempat tidur untuk bersiap. Belum genap setengah enam pagi itu dan saya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk survey singkat hari ini. Kenapa survey singkat? Karena hari itu saya harus pergi beribadat ke gereja tepat jam tiga sore, jadi perhitungan waktu perjalanan harus dipikirkan dengan cermat, ditambah hari itu kami seluruh umat Katolik sedunia melakukan puasa dan pantang, jadi saya harus seefektif mungkin dalam menggunakan energi.


Awal mulanya hanya asal jeplak di grup BBM ketika beberapa orang mengusulkan kegiatan Ride and Share ini, dan lokasi yang paling 'asik' untuk disinggahi adalah sekitaran Ketep Pass. Di sana, selain berhawa sejuk, peserta juga bisa menjelajah trek Gunung Merapi. Ada juga wisata gardu pandang Ketep Pass, yang pada awalnya dapat menjadi daya tarik tersendiri. Tapi pada diskusi lanjutan, ternyata jika tetap dipaksakan dilangsungkan di sekitaran Ketep Pass, peserta akan kesulitan mendapatkan warung makan yang buka sampai malam. Berkat usulan dari Kia, seorang relawan Merapi, lokasi dipindahkan ke daerah Selo, Boyolali. Mengantongi arahan rute yang sudah dia berikan, jam sembilan pagi saya meninggalkan rumah menuju Boyolali. Sesuai informasi tambahan jika trek yang akan saya lalui merupakan jalur dengan tanjakan dan turunan curam, saya melepas semua box di motor, dan hanya memasang tank bag enduro buatan 7 gear untuk menghindari ketidakseimbangan beban pada motor.

Langit mendung tak menyurutkan semangat saya. 
"Demi teman-teman!" pikirku mantap. 
Berangkat langsung mengenakan atasan raincoat Claw dengan rompi prides kebanggaan dan celana Centour dari Contin, saya terus melaju menuju selatan. Sejenak saya singgah di ATM dan SPBU untuk mengambil beberapa lembar rupiah untuk uang muka penginapan serta mengisi bensin si item, seklaigus untuk menghindari arogansi konvoy motor ber-cc besar yang juga melaju ke arah selatan. Memastikan arah, saya bertanya kepada petugas SPBU arah ke Selo. 

"Ada empat jalan mas, yang satu di sana, sudah kelewatan" katanya seraya menunjuk arah utara. "Satu lagi habis pos ojeg, masih setengah kilo(meter) lagi" katanya dengan nada yang kurang pasti mengenai besaran jarak yang disebutkannya. "Satu lagi nanti habis pasar Boyolali, ada pohon beringin, belok kanan aja."

Sampai di kalimat ini, saya tidak terlalu yakin yang dia maksud pohon beringin secara harafiah atau menunjuk satu nama tempat atau jalan. 

"Nah, yang terakhir nanti masuk Boyolali, ada bunderan sebelum alun-alun belok kanan. Ada tulisannya kok mas." Katanya seraya menerima uang untuk membeli bensin.

Setelah mengucapkan terima kasih, dan mencampurkan beberapa tetes Norival pada tangki bensin, saya melanjutkan perjalanan, kali ini langsung mengarah ke Kota Boyolali. Saya akan melewati jalur yang paling mudah dan umum, walaupun itu harus memutar lebih jauh. 

Benar juga arahan petugas SPBU itu. Tepat masuk Kota Boyolali ada penunjuk arah menuju Selo. Berbelok arah ke kanan, jalur yang saya lalui mulai menanjak. Hampir seperti jalur menuju Dieng, dimana di kiri-kanan mata ini dimanjakan oleh persawahan, pipa-pipa saluran air ke rumah-rumah warga, beberapa perkebunan warga dan rumah-rumah yang sepi yang mulai tertutup kabut tipis. Saya tidak memperhatikan sudah berapa kilometer yang sudah ditempuh sejak dari Boyolali hingga ke sebuah persimpangan di Pasar Cepogo. Mengikuti penunjuk arah, saya terus melaju ke depan. 

Dari situ jalur mulai makin mendaki dan hujan mulai turun.

Beruntung saya sudah memakai 'kostum' yang tepat sehingga tidak perlu berhenti untuk memakai rain coat. Atasan yang memang raincoat ditambah rompi sebagai penghangat tubuh dan celana Contour yang tetap nyaman dan aman dengan protektor lutut, dipakai walau saat hujan deras.

Jalur di daerah itu cukup lengang, bahkan untuk hari libur waktu itu. Makin melaju, makin mendaki dan kabut di depan makin tebal. Lampu luxeon 10 watt ternyata cukup membantu, tidak sepenuhnya 'menembus' kabut, namun sebagai sinyal kepada pengendara di depan saya. Tiba di satu tempat bernama 'irung petruk' (hidung petruk) dimana tempat itu memiliki tiga tikungan S tajam, yang mungkin dari udara terlihat seperti hidung Petruk, seorang Punakawan, tokoh pewayangan Jawa, yang memiliki hidung mancung. Tidak seekstrem 'irung petruk' di Gunung Kidul, DIY, namun trek yang saya lalui menuju Selo yang berkabut tebal juga cukup menantang.

"Tujuh kilo(meter)an lagi mas. Udah deket kok." Kata seorang penduduk sekitar ketika saya sebentar bertanya arah menuju Selo dari 'irung petruk'. 

Benar juga, tak kurang dari tujuh kilometer saya sudah menemukan tugu Objek Wisata Kawasan Selo, Boyolali. Kembali bertanya kepada penduduk sekitar mengenai keberadaan penginapan yang diinfokan om Guritno di Grup BBM. Konyolnya, om Guritno secara samar-samar memberikan info nama penginapan yang direkomendasikan. 





"Namanya kalau nggak Bungalow Tersenyum, ya Bahagia. Apa Tersenyum Bahagia ya?" BBM dari Juri yang merupakan terusan pesan dari om Guritno.

"Pekerjaan tambahan lagi yang bakal menyita waktu nih." pikirku kecut sambil terus memantau waktu.

"Tempatnya bawah Puskesmas Selo" jawab Juri lagi lewat BBM.

Tanpa berpikir panjang, setelah menerima penjelasan arah menuju Puskesmas Selo oleh warga, saya mengarah menuju ke sana. Sesampainya di Puskesmas yang sepi, saya masih tidak menemukan penginapan yang dimaksud. Meneruskan perjalanan hingga hampir tersasar menuju Ketep Pass, sejenak saya berhenti untuk membaca BBM dari teman-teman dan grup, sementara waktu terus berjalan. Kembali ke arah puskesmas, kembali saya bertanya kepada penduduk sekitar.

"Wah, nggak tau mas" kata seorang pemilik warung yang agak bingung "Kalau home stay dan penginapan sih banyak, tapi saya nggak apal sama namanya" sambungnya lagi.
"Coba tanya ke kantor polisi di sebelah lapangan aja, Mas." Kata beliau memberikan sedikit solusi.

Tak buruk juga solusi yang ditawarkan ibu itu.

Menuju Polsek Selo, sebuah kantor polisi tipikal kantor-kantor polisi lain. Sebuah bangunan dengan sebuah teras terbuka. Meja besar dengan banyak kertas di atasnya, serta kursi kayu panjang ada di sana. Cukup ramai siang itu karena ada beberapa pendaki yang singgah di kantor polsek untuk berkoordinasi sebelum melakukan pendakian. Selo merupakan salah satu pos pendakian menuju Gunung Merapi dan Merbabu. Maka tak heran jika banyak penginapan dan home stay didirikan di Selo. Bertanya kepada petugas di Polsek Selo ternyata tak terlalu berbelit-belit, meski saya hanya memiliki sedikit info tentang penginapan yang dimaksud.

"Ada, Mas! Namanya Bungalow Tersenyum. Tuh, tempatnya!" Kata petugas itu sambil menunjuk sebuah bangunan beberapa ratus meter ke arah saya datang tadi.

Setelah sedikit berbasa basi dengan petugas polisi, saya menuju bangunan yang dimaksud. Bungalow Tersenyum. Sebuah kompleks bangunan yang terlewati ketika saya menuju Puskesmas Selo tadi. Tidak terlalu saya perhatikan karena tempat itu dibangun di sebuah tebing yang tidak terlihat dari arah bawah. Beberapa huruf di depan kantor pengelola sudah hilang, ditambah baliho dengan warna memudar akan sangat menyulitkan bagi calon tamu yang akan menyewa tempat itu.
Masuk ke dalam kompleks bungalow itu, ada beberapa pondokan dengan warna senada, hijau muda. Yang membedakan hanyalah besar tiap-tiap pondokan. Ada beberapa bangunan yang dibuat terpisah dan lebih besar dari pondokan lain. Dua pondokan berada tepat di samping kantor pengelola. Pintu garasinya sudah rusak. Dari luar bisa terlihat dapur dengan beberapa peralatan masak yang sudah disediakan pihak pengelola. Di atas kantor pengelola ada beberapa pondokan sekaligus yang dibangun berdekatan, dan di seberangnya terdapat lapangan tenis.













Satu hal yang pasti adalah hari sudah semakin siang, kabut mulai menebal dan suasana sangat sepi. Beberapa kali saya berjalan memutari kompleks mencari jika ada pengelola atau warga sekitar. Hingga akhirnya suara adzan penanda ibadah jumatan dikumandangkan, ada seorang wanita dari dusun di atas pondokan turun dan masuk ke dalam lapangan tenis. Sambil menggendong anaknya, ia merapikan beberapa daun dan karpet yang dijemur di tengah lapangan. Menyadari saya mengikuti sang ibu ke dalam lapangan, anak yang digendong itu memberi isyarat kepada ibunya.

"Sedang jumatan mas, nanti paling ke situ (kantor)" jawab ibu itu ketika saya bertanya keberadaan petugas bungalow kepada beliau.

Mengunggu hingga jumatan selesai dan ada seorang lelaki paruh baya datang membuka pintu kantor.

"Monggo" katanya ramah

Sudah lama beliau dipercaya menjadi penjaga sekaligus mengelola bungalow itu oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali, maka sebelum saya bertanya tarif sewa sebuah pondokan, dengan sigap beliau menyodorkan saya secarik kertas yang sudah diketik rapi dengan beberapa kolom memanjang bertuliskan "Room Rates". Petugas itu bukan seorang birokrat, terlihat dari jawaban ketika saya bertanya mengenai uang muka pemesanan.

"Monggo saja kalau mau kasi DP (Down Payment/ uang muka). Kalau ndak juga ndakpapa kok mas. Yang penting namanya saya catet dulu" Tutur beliau dengan kalimat polos.

Saya memilih beberapa pondokan yang berkelompok di atas kantor, dengan alasan supaya koordinasi acara besok dapat dilakukan dengan mudah. Uang tiga ratus ribu rupiah saya berikan sebagai tanda jadi penyewaan pondokan, walau besarnya tidak sebanding dengan separuh dari enam pondokan yang akan saya sewa untuk acara besok. 

"Beres!" Pikirku setengah lega.

Setelah mendapatkan tanda terima, saya segera berpamitan untuk kembali menuju Semarang. Waktu yang cukup mendesak menghalangi niat saya untuk mengambil jalur menuju Ketep Pass - Kopeng - Salatiga - Semarang. Saya memilih kembali melewati jalur ketika saya datang. Kira-kira jam satu siang ketika kabut sangat tebal mulai turun bersamaan ketika saya meninggalkan Selo. Sampai persimpangan Pasar Cepogo saya memilih jalur ke kiri seperti saran penduduk untuk memotong jalur menuju Salatiga. Walaupun jalan yang saya lalui sangat ekstrem (dan baru belakangan diberi tahu oleh Kia kalau saya salah jalan di persimpangan terakhir) akhirnya saya tiba di Tingkir, jalan Boyolali - Salatiga tanpa harus melewati Kota Boyolali. Berkendara dengan ngawur, karena waktu semakin sore dan saya harus segera tiba kembali untuk merayakan Ibadat Jumat Agung di gereja.





Jam dua lebih ketika saya tiba di H-10 Garage, toko peralatan penunjang berkendara yang juga digunakan untuk Base Camp Nusantaride Jateng. Sudah ada Juri dan Resa yang sedari pagi sulit dihubungi untuk diajak survey. Setelah memberikan 'laporan' singkat dan tanda terima pemesanan penginapan saya berpamitan untuk segera mengejar waktu beribadat.
Yang patut disayangkan adalah ketika Minggu pagi, bertepatan dengan Hari Minggu Paska, si item tiba-tiba rewel. Dengan sangat terpaksa saya tidak bisa ikut dalam acara Ride and Share Nusantaride Jateng, berkumpul bersama dan bertukar pikiran dengan rekan-rekan penikmat perjalanan berkendara di lokasi hasil survey tektok koplak di hari saat saya berpuasa.

Tidak ada komentar :