Senin, 06 Mei 2013

Bagaimana sih membaca koordinaat?




Makin pesatnya laju pertumbuhan penduduk membuat banyak sekali lahan tidur, persawahan, kebun maupun pengalihan fungsi lahan lain menjadi komplek perumahan, pertokoan, dan bangunan dengan fungsi lain. Beberapa sudah terpetakan, namun banyak diantaranya juga belum ada di peta, baik peta administratif perkotaan apalagi dalam GPS.

Beberapa sudah berinisiatif menuliskan 'alamat' mereka dalam bentuk angka-angka koordinat, supaya lebih cepat terlacak menggunakan piranti elektronik yang sekarang sudah terintegrasi dalam perangkat ponsel. Sebut saja ponsel besutan kanada, si robot hijau, apel tergigit, bahkan ponsel 'jadul' dengan sistem operasi symbian. Nampaknya sistem koordinat, yang juga disebut longitude-latitude (garis bujur dan lintang), sekarang ini tengah menjadi tren di antara para penggemar kegiatan berkendara bermotor untuk menunjukkan lokasi tertentu bagi para pengendara lain.


Tapi sebenarnya, bagaimana sih cara membaca koordinat itu?

Pembacaan koordinat merupakan salah satu materi dalam kurikulum pelajaran geografi yang pernah saya dapat semasa SMP. Masing-masing garis (bujur dan lintang) terdiri dari tiga susunan yaitu derajat, menit dan detik.

Jika kita melihat peta atau globe, pasti akan ada garis-garis menurun (garis bujur) dan garis-garis mendatar (garis lintang) yang sudah dibuat berdasarkan kesepakatan dengan jarak-jarak tertentu, dimana perpotongan antara dua garis itu disebut sebagai KOORDINAT.

Saat ini terdapat dua metode koordinat yaitu yang lazim digunakan, yaitu sistem koordinat Bujur-Lintang (longitude-latitude) dan sistem koordinat Universal Transverse (UTM). Kenapa ada dua sistem? Karena semakin mendekati kutub, dimana daerah tersebut memiliki garis bujur dan lintang pendek, maka sistem koordinat bujur-lintang tidak cocok digunakan, dipakailah sistem koordinat UTM.
Beruntung kita di Indonesia cocok menggunakan kedua sistem koordinat tersebut.

Saya hanya akan membahas sistem koordinat bujur-lintang saja yang lebih umum digunakan.
Sistem ini memiliki dua komponen utama, yaitu garis-garis khayal vertikal yang menghubungkan kutub utara ke selatan, yang kemudian disebut garis bujur (longitude) dan garis-garis khayal horisontal (mendatar) yang sejajar dengan garis khatulistiwa, yang disebut garis lintang (latitude).

Patokannya?

Garis khatulistiwa merupakan garis mendatar yang 'membagi' wilayah dunia menjadi bagian utara dan selatan. Di indonesia, garis khatulistiwa berada di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (walaupun belakangan diketahui sedikit bergeser beberapa kilometer). Seperti tersebut di atas, bagian utara garis khatulistiwa (nol derajat) disebut belahan bumi bagian utara dengan koordinat Lintang Utara (LU) atau N, dan daerah di bagian selatan garis khatulistiwa disebut belahan bumi selatan dengan koordinat Lintang Selatan (LS) atau S.
Sedangkan untuk membagi wilayah barat dan timur ditentukan dengan garis Prime Meridian di kota Greenwich, Inggris yang kemudian memotong di Kepulauan Fiji, Lautan Pasifik. Sama seperti garis khatulistiwa, selanjutnya koordinat di sebelah timur Kota Greenwich disebut Bujur Timur (BT) atau E dan sebaliknya Bujur Barat (BB) atau W.

Indonesia? ada di 95° BT - 141° BT dan 6° LU - 11° LS

Karena bentuk bumi ini bulat seperti bola, maka perhitungan pembaginya menggunakan pendekatan matematis.

Berkas:WorldMapLongLat-eq-circles-tropics-non.png

Sebagai pengetahuan tambahan saja, satu derajat lintang atau bujur = 111,322 km  = 111.322 m
Satu derajat lintang atau bujur terbagi menjadi garis satuan yang lebih kecil, yaitu 60 menit, dan terbagi lagi menjadi satuan terkecil yaitu detik.
Jika dituliskan menjadi satuan meter, maka menjadi seperti berikut:
1 menit bujur atau lintang = 111.322 m/ 60 = 1.855,37 m
1 detik bujur atau lintang = 111.322m/ 3600 = 30,93 m

Bingung? gak usah dihapalkan..

Sangat mudah jika Anda memiliki kalkulator scientific karena di sana sudah ada tombol pembacaan dan konversi koordinat DMS (degree minute second) atau tombol [o ' "] langsung menjadi desimal. (dalam contoh gambar, tombol di atas tombol ENG)



Namun bagaimana jika tidak punya kalkulator scientific? Terpaksa Anda harus menggunakan kalkulator biasa untuk mengkonversi koordinat tersebut, menggunakan rumus:


koordinat desimal = derajat + (menit/60) + (detik/3600)
Contoh:
Jika anda membaca pada layar GPS tertera, E : 109o22’14″ dan S : 7o14’22″
artinya, E : 109 derajat 22 menit 14 detik dan S : 7 derajat 14 menit 22 detik. Maka diperoleh angka desimal :
E : 109 + (22/60) + (14/3600) = 109.370556 dan S : 7 + (14/60) + (22/3600) = 7.239444
Jangan lupa untuk menambahkan minus (-) pada koordinat latitude untuk lokasi yang berada di sebelah selatan garis equator (karena tertulis S atau South atau Lintang Selatan).
Jadi, koordinat desimal yang didapat adalah :
Longitude (Bujur) : 109.370556
Latitude (Lintang) : -7.239444

Nah..selamat mencoba :)

--Disarikan dari berbagai sumber--
contoh perhitungan dari http://pengairan.purworejokab.go.id/konversi-koordinat-gp/

Tidak ada komentar :