Minggu, 09 Juni 2013

Sembah Bekti Kawula, Dewi Maria



LOKASI 
Gua Maria Lordeng, Kudus

Alamat: Halaman SMP Kanisius Keluarga Kudus, Jl. Yos Sudarso 234, Kudus, Jawa Tengah

Koordinat: 6° 47' 46.0" S 110° 51' 10.8" E


Gua Maria Ratu Rosari, Juwana

Alamat: Jl. W.R. Supratman, Juwana, Kab. Pati, Jawa Tengah

Koordinat: 6° 43' 2.4" S 111° 8' 38.5" E


Gua Maria Sendang Harjo, Blora

Alamat: Desa Sendang Harjo, Kab. Blora, Jawa Tengah

Koordinat: 6° 53' 56.5" S 111° 26' 14.9" E



DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik. 
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain



Kali ini saya akan mengupas tiga tempat ziarah sekaligus di wilayah Jawa Tengah bagian timur yang pada waktu lalu kebetulan saya lakukan secara maraton.



Berjarak kurang lebih lima puluh kilometer dari Kota Semarang, Kudus menjadi kota perhentian pertama saya. Bertempat di halaman depan SMP Keluarga Kudus, terdapat sebuah Gua Maria yang kemudian diberi nama Gua Maria Lordeng. Bukan salah ketik dari "Lourdes" tapi memang nama yang diberikan oleh kepala sekolah, dimana singkatan dari Lor Rendeng, atau sebelah utara (pabrik rokok) Rendeng, di Kota Kudus. Cara pembacaan huruf E dalam kata 'Rendeng' disini sama seperti jika Anda mengucapkan 'lele'. Meskipun berada di dalam komplek sekolah, namun Gua Maria ini boleh dikunjungi dan digunakan untuk kegiatan kerohanian warga sekitar, terutama sembahyangan (doa bersama) setiap malam Jumat Kliwon. Ada beberapa versi cerita terkait sejarah dibangunnya Gua Maria itu, namun tidak akan ditulis di sini, untuk menghindari kesimpangsiuran.

koordinat Gua Maria Lordeng, Kudus

Situasi Gua Maria Lordeng Kudus

Situasi Gua Maria Lordeng Kudus

Pintu gerbang SMP Keluarga Kudus

Lokasi ini cukup dekat dengan Pasar Kliwon Kudus yang beberapa waktu lalu mengalami kebakaran hebat. Dari Kota Kudus, Anda yang berminat mengunjungi Gua Maria ini, cukup bertanya lokasi pabrik rokok Rendeng atau SMP/ SMA Katolik Keluarga Kudus. Memasuki gerbang sekolah pertama yang berwarna hitam, kurang lebih seratus meter kemudian, ada gerbang kedua berwarna biru.
Sayang sekali waktu saya tiba di lokasi kegiatan belajar-mengajar tengah berlangsung. Hanya mengambil beberapa foto dan tidak sempat berdoa karena riuhnya suasana sekolah dan beberapa penjemput siswa yang lalu lalang tentu akan mengurangi kekhusukan berdoa.

Meninggalkan Kota Kudus, hanya berjarak kurang dari empat puluh kilometer ke timur, sampailah kita di Kota Juwana, sebuah Kota Kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Tak jauh dari alun-alun Juwana, Gua Maria kedua yang saya kunjungi adalah Gua Maria Ratu Rosari, Juwana, Jateng. Diresmikan pada tahun 2003, tempat doa asri milik keluarga Ign. Bejo Ludiro (Alm), yang juga seorang distributor minuman dan makanan berskala besar di Juwana, cukup patut Anda kunjungi jika melewati Kota Juwana. Bertempat di Jl. W.R. Supratman, atau pertigaan pertama setelah 'Tugu Sukun' Juwana. Walaupun milik keluarga, namun Gua Maria yang hanya berjarak kurang lebih lima ratus meter dari Gereja Katolik Maria La Sallete, Juwana ini boleh dikunjungi oleh umat secara terbuka.

koordinat Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Pintu masuk Gua Maria ini bergaya oriental. Tak heran, karena sang empunya merupakan warga keturunan Tionghoa, namun sangat 'njawani'. Namun, yang membuat saya terkesan ialah tulisan "Berkah Dalem" (Tuhan Memberkati) yang ditulis menggunakan aksara jawa di atas pintu masuknya.
Kesan pertama yang saya tangkap setelah menjejakkan kaki ke dalam kompleks Gua Maria adalah kemewahannya. Tidak dalam skala material duniawi, namun kemewahan hati dan rasa sukacita ketika kita hendak berdoa dan memohon kepada Tuhan. Beberapa prasasti tertulis jelas di sana dari, dan untuk siapa Gua Maria itu didirikan. Tepat di sebelah kanan setelah melewati gerbang utama, terdapat dua bangunan pendopo yang masing-masing seluas kira-kira dua puluh meter persegi.
Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

"Alas kaki harap dilepas" Kira-kira arti gambar yang tertempel di bagian luar tembok pendopo setinggi dada. Setelah melepas sepatu, saya mulai masuk ke pendopo pertama. Sedikit berjingkat karena saya tidak ingin membangunkan seorang lelaki renta yang tengah tertidur di pelataran dengan sebuah sapu di samping beliau. Mungkin tukang kebun taman doa ini yang sedang beristirahat setelah lelah membersihkan tempat itu.

Bangunan pendopo pertama sengaja dibiarkan kosong tanpa kursi atau perabot di tengah ruangan, hanya ada beberapa bangku panjang di bagian belakang pendopo yang menghadap Pieta di bagian tengah dan sebuah organ di samping kirinya. Saya membayangkan tempat itu jika digunakan untuk kegiatan Pembinaan Iman Anak, latihan Koor, atau sekedar sarasehan. Dibalik pendopo pertama terdapat ruang kecil berisi beberapa etalase berisi benda-benda rohani yang ,mungkin, diperjualbelikan. Bangunan kecil ini dikelilingi oleh kolam berisi ikan koi lincah sebesar lengan orang dewasa, dengan gemericik air dari sebuah air terjun tiruan di tembok sebelah dalam ruangan itu. Di samping air terjun tiruan tembok terpasang sebuah panji merah bertuliskan "Goa Maria Ratu Rosari Juwana Central Java Indonesia" dengan figur Bunda Maria di tengahnya. Sang empunya tempat ini jelas ingin menggiring umat untuk lebih menyatu dengan alam dalam doa mereka.

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana
Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Pendopo kedua lebih terkesan 'formal' karena selain bergabung dengan bangunan utama, juga terdapat beberapa set meja-kursi dari kayu jati. Mungkin difungsikan sebagai tempat menjamu tamu, karena di salah satu sudut pendopo saya lihat sebuah lemari pendingin kecil dengan berbagai minuman di dalamnya. Di dinding dalam pendopo kedua terpasang foto-foto paus, uskup dan beberapa tokoh religius. Di masing-masing pendopo itu secara berkeliling tersusun rapi dan dinamis berbagai tanaman hias yang menyejukkan mata.

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Jika Anda memperhatikan, di samping kiri pintu gerbang utama, terdapat patung keluarga kudus Nazareth yang diresmikan oleh Mgr. J. Pujasumarta, Pr sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2011 lalu. Beranjak ke kiri kompleks, terdapat hamparan rumput hijau dengan pos jalan salib yang tertanam rapi di dinding taman yang berwarna jingga. Agak kikuk ketika saya naik ke atas 'taman jalan salib' dan menginjak rerumputan hijau itu untuk mengambil beberapa foto, karena tidak ada semacam jalan setapak yang dibuat disana, walau juga tidak ada larangan untuk menginjak rumput. Sampai kepada perhentian ke XII, 'Yesus Wafat Di Salib', dibuat sebuah diorama berskala 1:1. Beberapa rekan mengira saya sedang mengambil foto di Gua Maria Kerep Ambarawa, karena memang Alm. Bp. Ign. Bejo Ludiro merupakan salah satu pemugar Gua Maria Kerep Ambarawa pada tahun 1981.

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Melanjutkan Jalan Salib, di perhentian ke XIV, 'Yesus Dimakamkan', dibuat sebuah replika makam Yesus berupa sebuah gua dengan batu-batu alam yang disusun sedemikian rupa menyerupai dinding gua dan stalagnit. Di sudut 'makam' terdapat sebuah patung jenazah Yesus yang tertutup plastik untuk melindungi dari debu dan kotoran. Claustrophobia membuat saya enggan untuk masuk ke dalam makam, alih-alih saya hanya mengambil beberapa gambar dari luar gua.
Sebuah taman kecil nan cantik dengan sebuah bangku panjang sudah 'disiapkan' di samping makam Yesus. Taman itu dibentuk menyerupai bukit, rupanya ingin menggambarkan peristiwa Yesus yang meninggalkan para murid untuk naik ke surga, lengkap dengan patung Yesus dengan tangan terbuka di salah satu sudut dinding.

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Keluar dari taman menuju Gua Maria, yang sebenarnya tepat berada di depan pintu gerbang utama. Sebuah gua dari tatanan batu, hampir sama seperti gua makam Yesus, dengan Sang Bunda 'bertahta' di sudut kanan atas. Altar kecil dari batu marmer berada di depan gua dengan sebuah tempat air bertuliskan 'air suci' berada di dalam gua. Tidak ada penjelasan dari mana air suci itu berasal. Dengan pelataran doa seluas sekitar enam puluh meter persegi, tampak beberapa kursi hijau sudah tersusun rapi di depan altar.

Situasi Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Ingin rasanya terus menjelajahi setiap sudut tempat ini, karena mata ini tidak bisa berhenti memandang tiap jengkal keunikan dari Gua Maria Ratu Rosari, Juwana. Dari suasana Oriental, Jawa, sedikit Bali dan sentuhan Eropa bercampur secara dinamis di tempat ini.

Gua Maria Ratu Rosari, Juwana dibangun di dalam kompleks rumah dan usaha sang pemilik. Anda yang berniat mengunjungi tempat ini mungkin pada awalnya akan kebingungan mengikuti penunjuk arah yang cukup kecil dan mengarah ke sebuah gudang. Tempat ini dekat dengan jalan Juwana - Tayu dan juga bersebelahan dengan lapangan futsal. Maka Anda mungkin akan sedikit terganggu dengan suara lalu-lalang kendaraan, juga suara riuh pertandingan futsal. Jika Anda datang dari arah timur (Rembang dan sekitarnya) masuk kota Juwana, melewati alun-alun kota, belok kanan setelah Rumah Makan dan Pusat oleh-oleh 'Aneka' Juwana.

Setelah sejenak berdoa di depan gua, saya melanjutkan perjalanan ke arah timur. Melewati jembatan Juwana dengan beberapa pemandangan kapal nelayan yang sedang bersandar, serta sebuah klenteng Kong Hu Chu di sisi kiri, saya mulai masuk wilayah Kabupaten Rembang. Kabupaten tertimur Provinsi Jawa Tengah ini mayoritas penduduknya merupakan petani garam. Maka tak heran beberapa gerbang desa dibangun begitu megah dengan ornamen yang menunjukkan mereka adalah petanigaram dan udang yang sukses. Jalan menuju Rembang dari Juwana sangat lebar, namun jalan selebar lima belas meter ini ternyata tak cukup lebar bagi para sopir bus antar kota-antar provinsi. Mengendarai kendaraan roda dua, mungkin Anda harus beberapa kali mengalah masuk ke bahu jalanketika menghadapi kelakuan egois para sopir bus dari arah berlawanan yang bersikap arogan menyiap kendaraan lain atau 'balapan' antar sesama bus dengan masuk lajur berlawanan.

Sebuah obyek wisata maritim dibangun tepat di tengah Kota Rembang bernama Pantai Dampo Awang. Jika memutuskan terus melaju ke timur, Anda akan tiba di alun-alun Kota Rembang, namun dari traffic light pantai, saya mengarahkan tujuan ke selatan, menuju Blora.  Setelah dimanjakan oleh jalan yang cukup halus, pemandangan yang sangat bertolak belakang harus saya temui sepanjang jalan menuju Kota Blora. Dua puluh kilometer harus saya lalui dengan susah payah melewati hampir 90% kerusakan jalan. Tujuan saya sebenarnya bukan Kota Blora yang terkenal dengan kuliner sate ayamnya, namun sepuluh kilometer sebelum Kota Blora, tepatnya di Desa Sendang Harjo, Kabupaten Blora.

Di situ terdapat sebuah Gua Maria unik, karena tempat ziarah dibawah otoritas Keuskupan Surabaya ini juga merupakan tempat rehabilitasi bagi para penyandang kusta. Wireskat, Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik, dibangun sebuah Gua Maria yang diberi nama Gua Maria Sendang Harjo, sesuai nama tempat itu. Konon, tempat rehabilitasi ini sudah ada sejak zaman Kolonial Belanda. Para penderita  kusta 'diasingkan' ke dalam sebuah hutan. Di dalam hutan itu terdapat sebuah kolam mata air (sendang) tempat mereka membangun perkampungan. Dibantu para misionaris, mereka dibantu untuk kembali menata hidup melalui karya dan usaha agar dapat kembali 'diterima' oleh masyarakat. Hingga saat ini karya misi tersebut masih terus berjalan. Di dalam perkampungan itu hidup belasan kepala keluarga penyandang kusta, dengan berbagai latar belakang agama. Tidak ada pemaksaan iman di dalam wisma rehabilitasi ini walaupun berada dibawah naungan keuskupan. Sampai hari ini mereka masih diajarkan berbagai keterampilan agar dapat tetap hidup tanpa bergantung pada orang lain, diantaranya kerajinan kayu hingga bercocok tanam.

koordinat Gua Maria Sendang Harjo Blora

Memasuki gerbang utama yang tertutup siang itu, terdapat beberapa bangunan di kiri-kanan, salah satunya sebuah gedung dengan pintu yang tertutup, mungkin ruang pertemuan atau aula dengan sebuah unit televisi berwarna di halaman depan. Beberapa laki-laki tengah asik mengobrol sambil memperhatikan tayangan televisi ketika saya melewati dan menyapa mereka. Toilet umum dan lapangan parkir kendaraan yang tak begitu luas berada di samping bangunan tadi. Sebuah portal besi bertandakan larangan bagi kendaraan untuk masuk lebih jauh ke dalam sengaja ditutup siang itu. Di seberang bangunan aula dan lapangan parkir terdapat beberapa bangunan yang lebih tinggi diantaranya sebuah pendopo dengan taman kecil dan bangunan panjang yang memiliki beberapa pintu. Setelah mencari informasi ke sebuah kios di dalam kompleks wisma bertajuk 'Toko Wireskat', ternyata bangunan panjang tadi merupakan pondokan yang disediakan bagi tamu yang ingin menginap di sana. Sebuah papan tulis putih besar berada di sekretariat yang bersebelahan dengan toko. Di dalamnya terdapat kolom-kolom berisikan nama-nama lembaga, organisasi maupun sekolah yang sudah mendaftarkan diri untuk menyewa penginapan di dalam wisma sekedar untuk berziarah, rekoleksi, live-in hingga bakti sosial.

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Gua Maria ini selalu mengadakan misa malam jumat kliwon secara rutin yang dihadiri tak hanya oleh umat Kevikepan Cepu, namun beberapa dari luar kevikepan.
Dari bangunan aula tadi, sebenarnya kita akan dihadapkan pada dua pilihan rute. Rute lurus melewati toko dan perkampungan atau ke kanan untuk jalan salib. Berjalan lurus. saya masuk menyusuri jalan aspal kasar dengan daun-daun kering yang berguguran menutupi sebagian jalan. Beberapa warga tengah asik berkumpul di depan rumah dan pondokan-pondokan. Pohon-pohon besar menyambut saya bagaikan pilar-pilar di kedua sisi jalan. Sebuah tanah lapang dengan rumput hijau dan beberapa toilet umum di sudut lapangan yang juga difungsikan untuk tempat parkir berada di sudut jalan. Terus menaiki jalan beraspal, saya menjumpai beberapa orang yang sedang sibuk menyapu dedaunan kering. Sekilas tampak seperti warga biasa pada umumnya, namun ketika saya berdialog dengan beberapa diantara mereka, barulah saya tahu jika mereka inilah pengidap kusta. Seorang nenek memilih melanjutkan kegiatan menyapunya setelah sejenak mengobrol dengan saya.

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

"Sampun nggih, mas. Mangkih kula didukani rama menawi boten resik."
Sudah dulu , mas. Nanti saya dimarahi pastor kalau (menyapu) tidak bersih. Kelakar nenek itu sambil melambaikan tangan tanpa jemari dan tersenyum kepada saya dan kembali menyapu dedaunan kering.

Gua Maria yang memiliki pelataran berlantai keramik berwarna jingga jambu yang kira-kira dapat menampung hingga tiga ratusan umat. Tidak ada suara bising deru knalpot kendaraan atau teriakan anak-anak. Hanya kicau burung bersahutan dan beberapa suara serangga hutan. Gua ini merupakan gua alam dari sebuah gunung batu yang menjulang cukup tinggi. Sebuah patung Bunda Maria bergaun putih berada di tengah ceruk tebing tepat di atas kanopi hitam tempat sebuah altar dari batu marmer untuk mengunjukkan misa. Beberapa batu besar tergeletak di beberapa sudut menambah suasana misterius tempat itu.

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Kembali ke depan bangunan aula, dan saya akan mencoba rute jalan salib. Jalan ber-paving selebar tiga meteran yang menanjak dan rindang menjadi pemandangan rute jalan salib di sini. Pos perhentian jalan salib dibuat rapi dengan finishing batu gunung. Beberapa petunjuk arah sudah dibuat agar peziarah tidak salah mengambil rute. Jika kita mengamati dengan seksama, maka tepat di atas gunung batu terdapat tiga buah salib besar sebagai simbol peristiwa Yesus disalibkan. Sebuah Pieta ditempatkan di sebuah ceruk kecil dalam lorong diantara bebatuan besar, yang juga jalan menuju pelataran gua.

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Situasi Gua Maria Sendang Harjo Blora

Jika Anda memimpikan dapat menghadirkan Tuhan dan Bunda Maria dalam suasana doa yang hening, Gua Maria Sendang Harjo, kabupaten Blora, Jawa Tengah ini merupakan tempat ziarah yang tepat untuk Anda kunjungi. Beberapa warung makan yang dikelola warga terdapat di dalam kompleks wisma, walaupun hanya buka pada saat misa malam jumat kliwon saja. Berjarak sepuluh kilometer dari pusat Kota Blora, kurang lebih seratus tiga puluh kilometer dari Kota Semarang atau hampir seratus sembilan puluh kilometer dari Kota Surabaya.

Perjalanan ziarah menemui 'Sang Bunda' yang sebenarnya sudah meraja dalam hati tiap umat beriman ini, juga menjadi bagian dalam peziarahan hidup di dunia.

Salam Maria!

Semoga bermanfaat
Berkah Dalem :)

Tidak ada komentar :