Senin, 25 November 2013

Fruitarian!

23.56


Sudah beberapa kali aku melihat promosi salad buah Mom Anna ini di jejaring sosial. Dengan rasa yang ini, yang itu, yang begini atau begitu. Awalnya aku pikir, "Ah..bahasa iklan, wajar jika ditulis secara berlebihan. Tujuannya kan memang agar barang dagangannya laku."

Berawal dari kecintaan Mom Anna Blaz yang gemar memasak untuk keluarganya, pada akhirnya beliau 'berhasil' menciptakan resep mayonaise yang tidak asam di lidah. Jika Anda adalah penggemar salad, pasti tak asing dengan rasa asam mayonaise. Terlebih jika Anda membeli mayo dari supermarket. Merk atau kemasan apapun, kebanyakan akan terasa asam di mulut. Namun berbeda dengan mayo ini.

Sabar...ceritanya pelan-pelan dan berurutan dulu biar seru :D

[JMM] Jalan-Jalan, Muter-Muter, Makan-Makan

22.34


Setelah rubrik khusus CWP (Cangkrukan Warung Pecel) yang khusus ditulis sebagai bacaan ringan yang diambil dari hasil mendengarkan cangkruk (obrolan) pelanggan warung makan, kini dibuat lagi sebuah rubrik khusus yang membahas mengenai review makanan. Tak hanya tempat makanan, tapi dikhususkan membahas makanannya, baik makanan khas suatu daerah, makanan unik yang ada dalam satu daerah, perbandingan beberapa makanan yang sama dari beberapa daerah, dan semua yang berhubungan dengan makanan.

Tidak ada unsur berkendara yang dibahas dalam tulisan JMM, hanya makanan.

Tidak ada unsur iklan atau promosi bayaran dalam tiap tulisan JMM (wani piroooo...? :p). Saya akan menulis dengan seobyektif mungkin sesuai apa yang lidah dan otak saya katakan mengenai makanan tersebut.

Unsur tempat sebisa mungkin tetap akan saya tampilkan, dan pastinya harga makanan tersebut.

Jadi, tetap sehat, tetap semangat....halah...itu tag line acara kuliner di TV swasta nasional.

Jadi, siapkan diri Anda untuk dapat juga menikmati makanan yang sudah diulas dalam tiap tulisan JMM ini.



Salam :)

Sabtu, 23 November 2013

Cara Membuat Daftar Tulisan di Blog

19.27
Tulisan ini bukan murni ide saya, melainkan merupakan saripati dari berbagai tulisan tutorial blog. Saking banyaknya sumber, saya tidak sempat menuliskan satu persatu, karena juga merupakan hasil dari trial and error.

Jika Anda punya blog di wordpress, dan ingin membuat daftar tulisan atau arsip.
Masuk sebagai admin akun WP Anda. Klik Halaman > Tambah Baru > Sunting.
Atau jika Anda sudah punya halaman kosong khusus untuk daftar isi blog, langsung saja klk edit.

copy-paste kode berikut ini di tubuh tulisan:

Simpan dan nikmati arsip tab baru pada blog Anda :)

Jika Anda punya blog di blogspot, cukup panjang caranya.

Masuk ke akun blogger Anda.
Pilih Laman > Laman baru > Laman kosong

Tulis judul sesuai selera Anda, misal "Daftar Tulisanku", "Arsip", "Archives" atau lain sebagainya.

Pilih mode HTML, dan copy-paste kode berikut:
<script src="https://html-scripts.googlecode.com/files/feeds.js"></script>
<script src="http://NAMABLOGANDA.blogspot.com/feeds/posts/default?max-results=9999&amp;alt=json-in-script&amp;callback=loadtoc">
</script>
ganti tulisan NAMABLOGANDA dengan alamat blog Anda.

Ingin yang lebih WOW lagi?

tambahkan kode berikut di awal:
<div style="overflow:auto;width:480px;height:450px;padding:10px;border:1px solid #eee">
dan di akhir:
</div>
Kode tersebut untuk memberikan efek border dan scrolling.

Atau Anda ingin membuat daftar isi berdasar tanggal publikasi? 
Ganti tulisan
https://html-scripts.googlecode.com/files/feeds.js
menjadi
https://html-scripts.googlecode.com/files/feed-dates.js
Berdasar label? Ganti dengan
https://html-scripts.googlecode.com/files/feeds-labels.js

Publikasikan dan nikmati tampilan arsip otomatis di blog Anda :)

Nah...selamat mencoba :)



Salam

Rabu, 20 November 2013

Sadap-Menyadap

12.30
Jam tujuh lebih ketika aku masuk ke dalam warung. Terlalu banyak orang di kontrakan semalam, sehingga pagi itu aku mengalah dalam antrian kamar mandi. Kukira aku sudah kehabisan makanan di warung pecel langgananku itu, tapi ternyata masih cukup banyak persediaan. Sepiring nasi dan sayur lodeh yang masih panas tersaji di depanku tak lama setelah aku memesan. Aku memilih tempat duduk di kursi panjang dekat baskom berisi tumpukan tempe mendoan yang masih mengepul panas.

Sayup-sayup kudengar percakapan antara tiga orang lelaki paruh baya di meja dekat pintu. Kali ini obrolan yang agak berbobot. Masalah sospol, rupanya. Tak heran, karena belakangan aku tahu bahwa salah satu dari orang-orang itu adalah seorang perangkat desa setempat. Tak mau kalah dengan berita-berita hangat di pelbagai media nasional, mereka cangkruk perihal penyadapan yang dilakukan pemerintah Australia kepada presiden Indonesia dan beberapa tokoh di lingkaran dalamnya.

"Repot, ya..sekarang ostrali nyadap presiden" kata perangkat desa itu.

"Nyadap itu gimana sih pak bayan?" tanya seorang kepada perangkat desa itu. Bayan ialah jabatan untuk perangkat desa pembantu lurah atau kepala desa.

"Hmmm..." Sejenak perangkat desa dengan rambut yang sudah mulai memutih dan berbadan tambun itu menghentikan kalimatnya untuk mengambil cangkir kopi dari atas meja dan meminum isinya sedikit. Mungkin juga sambil mikir jawaban.

"Menyadap itu.." lanjutnya, "semacam ngambil data dari kantor presiden. Mungkin data penting negara, kalau sampai bocor, negara kita bisa hancur."



okay..close enough, sir.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 'menyadap' memiliki arti sebagai berikut:
1. me·nya·dap v 1 mengambil air (getah) dr pohon dng menoreh kulit atau memangkas mayang atau akar: petani itu - enau untuk mendapatkan niranya; 2 ki mendengarkan (merekam) informasi (rahasia, pembicaraan) orang lain dng sengaja tanpa sepengetahuan orangnya: tugas agen rahasia itu - pembicaraan lawannya;
ter·sa·dap v terdengar (terekam) oleh pihak lain tanpa diketahuinya: pembicaraan kedua pemimpin itu - oleh dinas rahasia lawan;
sa·dap·an n 1 hasil menyadap; 2 pohon kelapa, enau, dsb yg disadap; 3 tempat untuk menampung air nira dsb hasil menyadap;
pe·nya·dap n 1 orang yg menyadap; 2 alat untuk menyadap; perekam: agen federasi itu memasang alat - di kantornya;
pe·nya·dap·an n proses, cara, perbuatan menyadap: - karet dilakukan oleh buruh pabrik perkebunan karet
Tentunya dalam kasus penyadapan yang konon dilakukan oleh pemerintah Australia (dan beberapa media memberitakan juga oleh pemerintah Amerika Serikat), kita menggunakan definisi ke-2.



"Berarti ada maling masuk kantor presiden, gitu ya pak?" Timpal yang seorang lagi.

"Yaa...bisa jadi" jawab pak bayan.

"Makanya pak presiden sampai prihatin sudah disadap." Tambah pak bayan yang kemudian dilanjutkan dengan obrolan topik lain yang berbeda.



Ngomong - ngomong, jika dilihat dari definisi diatas, berarti isi tulisan dari cerita di blog ini bisa dikategorikan sebagai penyadapan juga ya? Hehehe..



Salam :)

Selasa, 19 November 2013

Pelat Nomor Kendaraan Curian

20.19
CWP = Cangkrukan Warung Pecel
Cangkrukan (atau beberapa menyebut dengan 'cakrukan') adalah kegiatan ngobrol santai, nongkrong di pos ronda, depan rumah, pengkolan gang, warung kopi, bersama teman, saudara, kerabat atau tetangga. Obrolan ringan ngalor-ngidul sembari menyeruput kopi kental atau minuman hangat lain, beberapa batang rokok dan beberapa cemilan. Kegiatan ini sangat erat di dalam sosio-antropolog Jawa Timur. Tentunya kegiatan yang sama, namun jika dilakukan di cafe, pub, resto, bistro atau tempat modern lain belum dapat diterima sebagai kegiatan cakruk oleh beberapa kalangan.
==================================
Belum genap jam 6.30 pagi ketika aku duduk menghadap meja kecil yang dibuat bertingkat dengan beberapa baskom besar berisi tumpukan tempe mendoan dan tahu goreng. Semuanya masih hangat, baru saja ditiriskan dari penggorengan. Satu tingkat diatas baskom tadi sudah tertata piring berisi telur dadar dan lagi sebuh baskom besar berisi potongan ayam goreng. Kondisinya sama: masih hangat. Seorang ibu tengah baya berbadan tambun, pemilik, manager sekaligus chef warung nasi itu sudah sangat hapal dengan menu sarapanku: nasi pecel, telur dadar dan tempe mendoan. Sebentar ia berteriak kepada beberapa orang di dapur, "Teh hangat!" tanpa aku harus memesan. 
Memang hampir setiap pagi aku datang ke warung ini untuk sarapan, menikmati nasi hangat dan pecel beserta ubo rampe, kelengkapannya, walau kadang tersedia juga sayur lodeh yang juga masih panas. Sang penjual dengan gesit mengambilkan beberapa sendok nasi yang masih mengepul hangat dari dalam bakul anyaman bambu ke dalam piringku. Sambel kacang pedas manis disiramkannya keatas sayuran dan nasi hangat itu. Tak lupa segelas teh kental hangat dan manis yang kemudian tersedia di depanku, sebagai bekal mengawali kegiatanku hari itu. Ceritanya, to brighten up my day :D Sebuah tipikal warung makan di desa. Dinding papan bercat kusam, beberapa meja kayu besar dengan kursi panjang, dan alas tanah. Aroma kayu bakar di bagian belakang dan sedikit asap hangatnya yang mengepul ke depan memberikan kesan khas dapur pedesaan. Sebuah jam dinding tua menggantung di belakang sang empunya warung.
Letaknya hanya beberapa ratus meter dari tempatku bekerja dan akan sangat ramai di hari pasaran, satu dari lima hari penanggalan jawa, di pasar desa tak jauh dari situ. Warung itu akan tutup sekitar jam 9 pagi saja. Sebagai seorang pendatang, sesekali aku mendengar berita-berita lokal dan menyaringnya sebagai sebuah informasi yang, siapa tahu, dapat berhubungan dengan proses pekerjaanku seharian nanti.
Sama halnya pagi itu...

Minggu, 17 November 2013

Exploring Bojonegoro (part 4)

17.21

INTRO
Sebagai sebuah kabupaten, Bojonegoro memiliki rentetan sejarah panjang, dari menjadi bagian Kerajaan Majapahit, peralihan Kesultanan Demak, Kerajaan Pajang, Kesunanan Mataram, hingga kini menjadi bagian dalam wilayah Provinsi Jawa Timur, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah yang terbentang seluas 230 ribu Ha, yang juga dilalui oleh anak sungai Bengawan Solo ini memiliki kondisi geografis yang cukup unik. Pemerintah daerah setempat mencatat sebesar hampir 33% penggunaan lahan sebagai persawahan, hampir 43% sebagai hutan negara dan 24% tercatat sebagai lahan kering. Ada apa di dalam daerah yang dibawah tanahnya mengandung cadangan minyak bumi di Pulau Jawa dengan curah hujan hanya sekitar 60 hari per tahun ini? Mari kita ekslporasi!

LET'S RIDE!
Waktu menunjukkan hampir jam satu siang ketika aku melintasi sebuah ruas jalan yang cukup lengang di Kecamatan Temayang, Selatan Bojonegoro. Pemandangan yang sudah lazim kutemui di Bojonegoro walau sudah memasuki pertengahan Bulan Okteber 2013 ini: lahan pertanian dan kebun kering. Cuaca siang itu cukup terik untuk memaksaku berhenti beristirahat. Sebotol air mineral yang kubawa langsung habis kureguk. Sudah beberapa kilometer aku menempuh jalan ini. Ruas jalan dengan hamparan aspal yang masih cukup baru, masih halus dan rata. Sangat berbeda dengan jalan akses dari Persimpangan Jetak, Bojonegoro ke selatan menuju Dander yang sebagian besar sudah bergelombang dan rusak kecil disana-sini.


Sabtu, 16 November 2013

Exploring Bojonegoro (part 3)

21.23


INTRO
Sebagai sebuah kabupaten, Bojonegoro memiliki rentetan sejarah panjang, dari menjadi bagian Kerajaan Majapahit, peralihan Kesultanan Demak, Kerajaan Pajang, Kesunanan Mataram, hingga kini menjadi bagian dalam wilayah Provinsi Jawa Timur, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah yang terbentang seluas 230 ribu Ha, yang juga dilalui oleh anak sungai Bengawan Solo ini memiliki kondisi geografis yang cukup unik. Pemerintah daerah setempat mencatat sebesar hampir 33% penggunaan lahan sebagai persawahan, hampir 43% sebagai hutan negara dan 24% tercatat sebagai lahan kering. Ada apa di dalam daerah yang dibawah tanahnya mengandung cadangan minyak bumi di Pulau Jawa dengan curah hujan hanya sekitar 60 hari per tahun ini? Mari kita ekslporasi!

LET'S RIDE!
Pertengahan Bulan Oktober 2013.
Hari yang cukup panas waktu itu ketika aku berniat untuk sedikit meregangkan badan..ah..bukan, tapi juga meregangkan pikiran dari segala kesesakan keseharianku dengan sedikit melakukan perjalanan.


Jumat, 15 November 2013

Logo buat blog? Kenapa enggak?

21.08

Mulai berpikir untuk membuat logo untuk blog ini. Nggak muluk-muluk sih, walaupun masih terhitung sebagai blog 'kemarin sore' dengan entry yang masih sedikit dan tulisan yang masih amburadul dan acakadut. Tidak juga berniat untuk mengkomersialkan blog ini, tapi semoga bisa merepresentasikan sebuah kebebasan berpikir dan berpendapat.

apaan sih? :p

Sabtu, 09 November 2013

Secuil Cerita, Sebuah Perjalanan, Satu Keluarga, Beribu Kehangatan: JAMNAS 5 PRIDES

06.17

Waktu belum genap menunjukkan jam delapan pagi ketika aku menghentikan laju Annette di depan sebuah warung makan padang di sebelah barat Brebes. Perutku sudah mulai keroncongan setelah mulai berkendara dari jam setengah lima pagi tadi dari Semarang.
Sembari menunggu makanan dan minuman pesananku tersaji di meja, aku membuka aplikasi BBM di hp androidku. Belum se-real time aplikasi ngobrol lain, namun baru ini saranaku untuk berkomunikasi dengan om Agus Setiawan dari Cirebon, yang kepadanya aku sudah meminta bantuan untuk berangkat bersama menuju lokasi Jamnas 5 Prides di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Masih terlalu pagi untuk menunggu kelompok besar CC (Chapter Cirebon) yang rencana berangkat jam 1 nanti dari Kota Cirebon, maka aku memutuskan berangkat bersama rombongan pagi bersama om Agus dan om Yoko.