Selasa, 19 November 2013

Pelat Nomor Kendaraan Curian

CWP = Cangkrukan Warung Pecel
Cangkrukan (atau beberapa menyebut dengan 'cakrukan') adalah kegiatan ngobrol santai, nongkrong di pos ronda, depan rumah, pengkolan gang, warung kopi, bersama teman, saudara, kerabat atau tetangga. Obrolan ringan ngalor-ngidul sembari menyeruput kopi kental atau minuman hangat lain, beberapa batang rokok dan beberapa cemilan. Kegiatan ini sangat erat di dalam sosio-antropolog Jawa Timur. Tentunya kegiatan yang sama, namun jika dilakukan di cafe, pub, resto, bistro atau tempat modern lain belum dapat diterima sebagai kegiatan cakruk oleh beberapa kalangan.
==================================
Belum genap jam 6.30 pagi ketika aku duduk menghadap meja kecil yang dibuat bertingkat dengan beberapa baskom besar berisi tumpukan tempe mendoan dan tahu goreng. Semuanya masih hangat, baru saja ditiriskan dari penggorengan. Satu tingkat diatas baskom tadi sudah tertata piring berisi telur dadar dan lagi sebuh baskom besar berisi potongan ayam goreng. Kondisinya sama: masih hangat. Seorang ibu tengah baya berbadan tambun, pemilik, manager sekaligus chef warung nasi itu sudah sangat hapal dengan menu sarapanku: nasi pecel, telur dadar dan tempe mendoan. Sebentar ia berteriak kepada beberapa orang di dapur, "Teh hangat!" tanpa aku harus memesan. 
Memang hampir setiap pagi aku datang ke warung ini untuk sarapan, menikmati nasi hangat dan pecel beserta ubo rampe, kelengkapannya, walau kadang tersedia juga sayur lodeh yang juga masih panas. Sang penjual dengan gesit mengambilkan beberapa sendok nasi yang masih mengepul hangat dari dalam bakul anyaman bambu ke dalam piringku. Sambel kacang pedas manis disiramkannya keatas sayuran dan nasi hangat itu. Tak lupa segelas teh kental hangat dan manis yang kemudian tersedia di depanku, sebagai bekal mengawali kegiatanku hari itu. Ceritanya, to brighten up my day :D Sebuah tipikal warung makan di desa. Dinding papan bercat kusam, beberapa meja kayu besar dengan kursi panjang, dan alas tanah. Aroma kayu bakar di bagian belakang dan sedikit asap hangatnya yang mengepul ke depan memberikan kesan khas dapur pedesaan. Sebuah jam dinding tua menggantung di belakang sang empunya warung.
Letaknya hanya beberapa ratus meter dari tempatku bekerja dan akan sangat ramai di hari pasaran, satu dari lima hari penanggalan jawa, di pasar desa tak jauh dari situ. Warung itu akan tutup sekitar jam 9 pagi saja. Sebagai seorang pendatang, sesekali aku mendengar berita-berita lokal dan menyaringnya sebagai sebuah informasi yang, siapa tahu, dapat berhubungan dengan proses pekerjaanku seharian nanti.
Sama halnya pagi itu...

Sambil menikmati sarapan, terdengar pembicaraan beberapa lelaki yang duduk di meja belakangku. Mungkin tiga atau empat orang, karena aku tak berniat menengok ke belakang melihat wajah mereka. Suara obrolan mereka cukup keras, yang seorang tak mau kalah dengan yang lain mempertahankan pendapat mereka. Asap-asap rokok kretek mulai menyeruak sampai ke mejaku. Sesekali terdengar suara cangkir kopi yang diangkat dan diletakkan kembali ke atas cawan.
Ada beberapa dialog yang menarik perhatianku, sebut saja oleh Bapak 1, 2 dan 3. Tentu saja dialog mereka sudah kuterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia agar lebih mudah dimengerti.
1: "Kemarin aku sudah selesai proses pajak sepeda (maksudnya sepeda motor) dan ganti plat (TNKB)."
2: "Sepeda yang itu?" *sebut merk
3: "Bukannya kemarin kamu bilang bukunya (maksudnya BPKB) hilang?"
1: *agak gelagapan "Ganti plat sekarang kan nggak perlu bawa BPKB juga bisaaa!"
2&3: "Masa' sih?"
Kemudian dilanjutkan beberapa opini dan cerita dari bapak 2 & 3 tentang sulitnya pengurusan pajak kendaraan bermotor 5 tahunan, terlebih jika harus ganti plat nomor kendaraan jika terdapat kasus BPKB hilang. Dan dialog itu kembali berlanjut.
1: "Iya, buktinya kemarin aku bisa. Asal nggak ada riwayat kendaraan pernah hilang."
2: "Oooh..gitu ya? Emang petugas (samsat) bisa tahu kalau kendaraan pernah hilang?"
3: "Yaa..pasti tahu, kan sekarang jaman serba canggih. Dicek di komputer pasti ada." *mulai tak mau kalah dengan menggunakan istilah yang menurutnya asing dan modern.
1: "Iya..! Kalau pernah hilang pasti platnya diganti merah! Makanya kendaraan plat merah itu pasti pernah ada kasus hilang!"
2&3: "OOOHH..." *dari nadanya mereka berdua nampaknya percaya aja, dan mungkin hampir seluruh pengunjung warung yang mendengarkan dialog mereka juga percaya dengan informasi dari Bapak 1 tadi.

Reflek, aku menahan tawa sambil mencoba menelan makanan di dalam mulut.
Cerita ini fakta. Saya tidak tertawa karena mereka adalah orang desa, apalagi menganggap mereka berpendidikan rendah, namun pada kepolosan yang sudah ditunjukkan. Hal yang kusuka dari orang-orang desa adalah sebagian dari mereka masih mempertahankan sifat jujur, polos dan lugu. Bahkan saking polosnya, mereka dapat menyerap segala informasi dan, payahnya, menjadikan informasi itu sebagai acuan utama. Hal yang paling tepat sebenarnya adalah mengedukasi, memberikan informasi yang benar mengenai tata cara pembayaran pajak kendaraan bermotor dan arti warna pada plat kendaraan. Hal penyesatan informasi semacam ini sebenarnya harus segera diluruskan, walau akhirnya niat itu batal kulakukan karena mereka sudah lebih dahulu meninggalkan warung.

Salam :)

Tidak ada komentar :