Sabtu, 16 November 2013

Exploring Bojonegoro (part 3)



INTRO
Sebagai sebuah kabupaten, Bojonegoro memiliki rentetan sejarah panjang, dari menjadi bagian Kerajaan Majapahit, peralihan Kesultanan Demak, Kerajaan Pajang, Kesunanan Mataram, hingga kini menjadi bagian dalam wilayah Provinsi Jawa Timur, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah yang terbentang seluas 230 ribu Ha, yang juga dilalui oleh anak sungai Bengawan Solo ini memiliki kondisi geografis yang cukup unik. Pemerintah daerah setempat mencatat sebesar hampir 33% penggunaan lahan sebagai persawahan, hampir 43% sebagai hutan negara dan 24% tercatat sebagai lahan kering. Ada apa di dalam daerah yang dibawah tanahnya mengandung cadangan minyak bumi di Pulau Jawa dengan curah hujan hanya sekitar 60 hari per tahun ini? Mari kita ekslporasi!

LET'S RIDE!
Pertengahan Bulan Oktober 2013.
Hari yang cukup panas waktu itu ketika aku berniat untuk sedikit meregangkan badan..ah..bukan, tapi juga meregangkan pikiran dari segala kesesakan keseharianku dengan sedikit melakukan perjalanan.


Kira-kira 10 km menuju arah kota, tiap kali melakukan perjalanan kesana, aku selalu tertarik pada sebuah rambu penunjuk arah menuju 'Bendung Gerak Blimbingrejo', dan akhirnya kesampaian juga mengunjungi tempat itu. Sebelum bercerita banyak, tentu banyak diantara pembaca yang belum tahu apa yang dimaksud dengan 'bendung gerak'. Tentunya bukan bendung yang dapat bergerak berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bendung gerak adalah jenis bendung yang tinggi pembendungannya dapat diubah sesuai dengan yang dikehendaki, artinya elevasi muka air di hulu bendung dapat dikendalikan naik atau turun sesuai yang dikehendaki dengan membuka atau menutup pintu air (gate) (sumber: ilmutekniksipil.com/).

Nggak terlalu paham ya? Nggakpapa, lagian saya nggak akan membahas tentang detail bangunan air ini kok :grin:


Hampir tengah hari ketika aku menghentikan laju Annette di atas tanggul setelah beberapa kali nyasar masuk ke dalam perkampungan. Rupanya cukup banyak pengunjung tempat ini walaupun cuaca sangat terik. Selain menjadi tempat wisata yang mudah dijangkau, bendung gerak ini juga murah karena tidak ada bea masuk ke dalamnya. Tak ayal kondisi ini dimanfaatkan oleh banyak anak muda untuk sekedar nongkrong, hingga menjadikannya sebagai tempat pacaran. Cukup mengganggu juga melihat pemandangan-pemandangan itu ketika aku melewati beberapa sudut tanggul.



Menuruni tanggul itu melalui jalan tanah sampai di bawah jembatan dan menyusuri pilar-pilar besar jembatan hingga akhirnya aku tiba di samping pintu air yang membendung anak Sungai Bengawan Solo itu. Beberapa wanita tengah sibuk menawar harga ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat. Jangan Anda bayangkan ikan segar tangkapan nelayan itu berukuran besar, loh. Hanya ikan-ikan sungai berukuran tak lebih panjang dari 5 cm. Mungkin karena masih dipertengahan musim panas, jadi tak banyak ikan besar yang ada.



Warung-warung sederhana, atau bisa dikatakan seadanya, yang berdinding anyaman bambu berada tak jauh dari pintu air tempatku berhenti. Engganku merapat untuk beristirahat setelah tahu bahwa tidak ada satupun warung yang menjajakan masakan khas. Hanya mie instan, mie cup, kopi atau minuman ringan.
Kondisi hilir bendungan dengan air sungai yang surut juga tidak terlalu menarik perhatianku. Beberapa pemuda berada di tepi sungai. Entah bagaimana cara mereka turun ke sana. Seorang nelayan sedang sibuk 'menjemur' ikan hasil tangkapannya siang itu di lantai tanggul.



Menengok ke belakang, dengan sedikit mengeryitkan dahi, ada sebuah pemandangan yang menarik perhatianku.

Sebuah pohon besar.

Sangat besar dan rimbun.

Berada di ujung lapangan - Yah, sebut saja itu lapangan, walau tidak rata dan banyak rumput liar yang tumbuh di situ - aku mulai berjalan mendekat. Ternyata pohon besar itu berdiri kokoh di tengah sebuah kompleks pemakaman desa setempat.

Alih-alih mencari tempat yang nyaman dan teduh untuk beristirahat (karena siang itu benar-benar terik) aku terus berjalan menyusuri sebuah jalan setapak yang membelah lapangan luas itu. Pohon besar di makam itu terus menarik perhatianku hingga aku berada dalam sebuah kondisi yang cukup nyaman dan pas untuk mengambil gambar dimana seolah-olah aku sedang berada di tengah padang rumput. Beberapa saat setelah aku mengunggah foto itu dalam situs media sosial, banyak teman mengira aku sedang berada di savana sebuah taman nasional. Hehehe.. :razz:






Mulai bosan dengan kondisi di sisi bendungan, aku kembali ke tempatku tiba untuk masuk ke dalam jembatan. Jembatan itu sebenarnya adalah jalan inspeksi yang membelah tepat di atas sungai dan melewati beberapa rumah kontrol pintu air bendungan. Tepat di ujung jembatan terdapat beberapa bangunan operasional bendungan. Dan tentunya bangunan-bangunan itu tertutup untuk umum. Sekali lagi tidak ada hal terlalu menarik untuk kujelajahi.


Beberapa foto kuambil dari sisi utara bendung. Tepat di samping bendung itu terdapat perkampungan yang cukup padat. Beberapa orang tampak lalu lalang keluar-masuk perkampungan itu, melewati jembatan bendung dan keluar lagi ke desa sebelahnya untuk menuju jalan akses Bojonegoro. Aku jadi ragu apakah perkampungan itu terhubung dengan perkampungan atau desa lain, atau jangan-jangan hanya sebuah perkampungan kecil saja, dimana jalan yang dilalui banyak orang tadi hanya memutari kampung itu saja. Tapi, bisa jadi jalan itu merupakan jalan antar desa, atau bahkan jalan akses menuju jalan akses Bojonegoro.
Tapi kali ini aku memilih bermain aman untuk menghindari resiko membuang waktu dan menahan malu di depan penduduk desa itu jika memang benar jalan tadi hanya memutari deesa, aku memutuskan balik arah.


Hanya beberapa jam saja aku mengunjungi Bendung Gerak Blimbingrejo, Bojonegoro. Hari masih siang, membuatku enggan untuk segera pulang, dan memutuskan jika petualangan ini masih harus berlanjut...

(bersambung ke part 4)

Tidak ada komentar :