Jumat, 13 Desember 2013

Sate: Blora Style!

Ada yang menarik perhatian ketika aku masuk ke dalam wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah jika berkendara dari jalur tengah, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Tepat sebelum gapura masuk wilayah kabupaten, di sebelah selatan jalan dibangun sebuah taman kecil dengan sebuah tugu unik. Sebuah patung seorang lelaki penjual sate lengkap dengan angkringan pikulan dan beberapa piranti memasaknya.

Aku sempat bingung, kenapa Blora digambarkan dengan sate? Seberapa spesialkah sate Blora jika dibanding dengan sate Madura?

Kebetulan, pada 11 Desember lalu, Kota Blora merayakan ulang tahunnya ke-264. Maka, tak ada salahnya jika kita mengulik seberapa khas sih sate Blora ini.

Yuk..marii.. :)



Bagi para pembaca yang belum tahu dimana letak Kota Blora, silakan buka aplikasi peta atau peta konvensional, dan cari kota ini di bagian tengah-timur Provinsi Jawa Tengah. Atau kira-kira terletak dalam koordinat -6.968814,111.412822 (alun-alun Kota Blora).

Saya tidak akan membahas seberapa besar hasil peternakan ayam, kambing dan sapi di kabupaten ini, sebagai bahan dasar pengolahan sate. Terlalu teknis dan bertele-tele. Saya hanya butuh Jalan-jalan, Muter-muter, Makan-makan :D


Tepat beberapa ratus meter sebelum alun-alun Kota Blora, sebagai salah satu jalur utama transportasi, kita akan menemukan sebuah Pujasera makanan khas Blora. Tempatnya cukup luas, dan terdiri dari beberapa lapak yang menjajakan menu yang hampir sama: sate ayam, sate kambing, sate sapi, soto, rawon, lontong tahu dan beberapa makanan daerah lain.

Koordinatnya kira-kira di -6.969847,111.413038

Mari kita mampir!




Teriakan-teriakan pedagang yang menjajakan makanan khas di pujasera mulai terdengar ketika aku memarkirkan kendaraan. Tinggal pilih deh mau makan apa.
Harga seporsi sate ayam Rp 15.000, sate sapi Rp 20.000 dan sate kambing Rp 25.000, dan harga itu nampaknya menjadi patokan standar harga penjualan di kota itu. Yang membedakan mungkin harga sepiring nasi atau lontong dan minuman. Tergantung apa yang akan Anda pesan.

Semua warung sate di Blora menjajakan dagangan mereka dengan cara khas, yakni membakar langsung di hadapan pelanggan. Sebuah meja pendek panjang berada tepat di depan panggangan sate. Tentu saja seluruh badan Anda akan diselimuti kepulan asap pembakaran sate yang segar.


Oia, satu hal lagi yang cukup unik, yaitu jika Anda tidak menyebutkan berapa tusuk sate yang akan Anda makan, pedagang akan terus membakarkan sate dan menyajikannya di piring saji. Hampir mirip seperti jebakan betmen, tapi itu yang menjadi salah satu keunikan cara penyajiannya.

Bumbu kacang yang menjadi pelengkap sate ayam dan sate sapi Blora ini menggunakan campuran kemiri, sehingga memberikan rasa yang lembut di lidah.

Beranjak ke warung selanjutnya.

Beberapa kali saya diberi tahu jika warung sate ini cukup direkomendasikan bagi pencinta kuliner sate sapi. Bertempat dari alun-alun kota mengarah ke timur sekitar tiga ratus meter, dan masuk sebuah lorong di seberang kantor Satlantas Blora.

Mari kita coba!


Oops..lupa bilang deh..

Mohon maaf saya sampaikan kepada para pembaca yang beragama Hindu, karena sapi merupakan salah satu hewan yang disakralkan. Dan tentunya tidak diperbolehkan menyantap hidangan olahan daging sapi.

Tempat ini cukup terbuka dan berdempetan dengan dua buah warung lain. Sebuah warung lontong tahu dan warung es. Hampir mirip pujasera mini, namun Anda tak perlu lagi bingung kemana harus memilih.


Itu adalah penampakan penyajian sate sapi khas Blora. Sebuah piring berisi nasi dengan kuah opor dan ditaburi bawang goreng renyah, sebuah piring lagi berisi saus kacang khas Blora dan sebuah piring lagi berisi sate yang Anda pesan. Beberapa pedagang memberikan improvisasi penyajian a la mereka sendiri. Seperti contoh pedagang ini memberikan kecap kedalam saus kacang. Ada pula yang memberikan satu lagi piring kosong sebagai tempat tusuk sate.

Seperti yang sudah saya tulis diatas, keunikan pedagang sate dengan memberikan terus bakaran sate ke dalam piring saji jika Anda tidak memesan berapa tusuk sate yang akan dimakan. Jangan pernah membuang tusuk sate bekas, karena tusuk-tusuk sate itu yang menjadi acuan pedagang untuk menghitung berapa banyak yang harus Anda bayar.

Sate sapi di sini cukup besar. Paling tidak lebih besar dari sajian sate di Pujasera selatan alun-alun tadi, dan murni terdiri dari daging sapi. Tidak sempat terfoto sebelumnya, tapi pedagang sate di pujasera sebelumnya sengaja mencampurkan lemak di antara tusukan daging. Hati-hati bagi Anda yang memiliki kadar kolesterol tinggi, karena lemak (jawa: gajih) sangat tidak baik untuk kesehatan Anda.

Karena disajikan terpisah dengan saus kacang, maka Anda akan dengan mudah melihat daging yang masih terbakar, suara letupan lemak dan desis panas yang keluar dari sate Anda. Sangat menggugah selera loh.!

Tak jauh dari warung itu, mengarah ke utara tepat di ujung pertigaan, terdapat sebuah warung sate kolaborasi. Cukup unik, karena terdapat dua pedagang dengan jenis sate yang berbeda dalam satu warung.
Sate ayam 'Mbak Yun' dan sate jagal daging sapi 'Mbak Rin'

Kira-kira lokasinya di -6.96662,111.417157


Dengan tata letak meja-kursi yang rata-rata mirip, saya memesan masing-masing 5 tusuk sate ayam dan sate sapi.



Saus kacang disini lebih encer, berminyak dan berwarna kemerahan, namun tak kalah lezat, manis dan 'ringan' ketika masuk ke dalam mulut. Penyuka pedas? Cukup campurkan sambal uleg yang terbuat dari cabai hijau yang sudah disediakan ke dalam saus kacang.

Cukup tercengang juga ketika aku duduk dan menunggu para pedagang ini membakarkan sate. Cukup sedikit asap keluar dari daging yang mereka bakar! Ini artinya mereka tidak mencampurkan unsur lemak dalam tiap tusukan satenya. Baik sate ayam maupun sapi memiliki potongan daging yang besar dan tebal. Puas sekali aku makan di tempat itu, namu sayang, beberapa minggu setelahnya hanya ada sate ayam saja di warung ini. Dan sampai sekarang aku belum menemukan lokasi pindahnya sate sapi 'Mbak Rin'. Semoga cepat ketemu dan akan di-update selanjutnya :)

Beberapa teman juga menyarankan untuk menikmate sate yang berlokasi di seberang SPBU 'Ketangar', tak hingga dua kilometer dari tugu Adipura ke arah Rembang, kira-kira lokasinya di koordinat -6.964288,111.423724

Tak ada salahnya mencoba kan?



Sate ayam di warung ini bisa saya rekomendasikan, dengan potongan daging yang cukup besar. Namun, sate kambingnya mengecewakan! Banyak campuran lemak di tiap tusuk satenya.



Seporsi nasi atau lontong, sebuah piring berisi sate pesanan Anda dan satu lagi piring kosong sebagai wadah bekas tusuk sate yang sudah Anda santap. Di Blora, Anda harus melakukan self services jika ingin menyantap sate, terutama sate kambing. Beberapa mangkok berisi irisan tomat segar, bawang merah, irisan jeruk nipis dan sambal uleg, juga sebotol kecap.

Mereka tidak menggunakan kecap dari pabrikan besar nasional yang iklannya merajai stasiun TV, namun justru kecap lokal. Berhemat? Ternyata tingkat kekentalan dan rasa manis kecap lokal ini cukup berbeda. Sangat kental namun tidak terlalu manis.

Selebihnya? Saya rasa tidak ada yang sangat spesial dari sate kambing ini, hanya cara penyajian yang unik saja.


Nah, kalau ini merupakan salah satu contoh penyajian sate yang dinikmati bersama irisan lontong.


Tertarik mencoba saus kacang dengan campuran kemiri ini? Silakan datang dan jelajahi kuliner sate unik khas Blora :)

Bon App├ętit (Perancis: Selamat makan)

Monggo sedaya :D


NB: Dalam mencoba berbagai kuliner sate ini dilakukan tidak dalam satu hari, namun dalam waktu beberapa minggu. Satu minggu sekali saya melakukan perjalanan ke Blora dan mencicipi keunikan sate di tempat makan berbeda yang sudah direkomendasikan oleh beberapa kerabat.

Tidak ada komentar :