Jumat, 13 Desember 2013

Soto: Blora Style!

Pagi itu aku hendak melakukan perjalanan dari Padangan menuju Semarang. Masih cukup pagi untuk bisa menikmati segarnya udara, namun sudah cukup siang bagiku untuk bisa menemukan para pedagang bubur ayam keliling yang biasa mangkal di beberapa sudut alun-alun kota Blora. Aku lapar dan ingin mengisi perut yang sudah mulai keroncongan menahan hawa dingin setelah kira-kira satu setengah jam membelah hutan Cepu.

Melewati alun-alun ke selatan menuju arah pasar besar Blora, dan aku dikejutkan oleh beberapa orang petugas kepolisian yang sedang melakukan Operasi Zebra 2013.

Operasi rutin mendekati akhir tahun demi kenyamanan dan menjaga ketertiban berlalu lintas.

Well..we all know what they actually means :D

Menuruti perintah seorang petugas untuk menunjukkan STNK dan SIM, sambil menunggu ia memeriksa surat-surat itu, aku melihat situasi di sekelilingku. Ternyata ada sebuah pujasera di belakang rombongan petugas itu. Setelah mendapat kembali SIM dan STNK dari petugas paruh baya yang kemudian bermuka masam itu, aku sedikit melipir ke pujasera, yang lokasinya kira-kira ada di koordinat -6.969847,111.413038 .



Sarapan!

Masih terlalu pagi untuk memberatkan usus dalam perutku dengan menu sate, walaupun  sate khas Blora memiliki keunikan penyajian tersendiri (baca artikelnya disini). Pagi itu aku memilih soto sebagai menu sarapanku.

Dalam benakku sudah terbayang semangkuk soto dengan kuah panas yang cukup untuk menghangatkan badaku.

Baiklah, STOP berkhayal dan mulai memesan!

Menunggu soto pesananku tersaji, iseng aku mengambil sebuah foto dengan modus panoramic.


Dan ternyata ada seorang petugas kepolisian yang sewot karena aku mengabadikan momen pagi itu..heheh..

Baiklah..kembali ke dalam warung.

Dan, ini diaaaa....!!


Soto ayam khas Blora.

Surprisingly! Kukira soto khas Blora merupakan jenis soto santan mengingat banyak warung yang menyediakan menu sayur lodeh sebagai menu andalan, tapi ternyata berjenis soto bening.

Cocok banget nih sama seleraku yang nggak terlalu suka makanan bersantan, terutama di pagi hari!

Asap tipis di foto itu bukan merupakan hasil rekayasa digital, namun asli asap yang mengepul keluar dari kuah soto. Masih sangat hangat dan segar.

Penyajian soto ini pun cukup menggugah selera dengan digunakannya mangkuk besar, tidak seperti soto Semarangan atau soto Kudus, yang tidak akan cukup jika Anda hanya makan satu porsi saja.

Kata orang Betawi, "Ini sih gue banget!"

Kuah kaldu tipis yang cukup menyegarkan dengan nasi yang tidak terlalu banyak, sehingga tidak merusak rasa kuah, dan tentunya suwiran daging ayam beberapa potong seledri dan sedikit taburan bawang goreng.

Ada yang unik, yaitu dengan diberikan potongan telur ayam rebus di dalam mangkuk. Mengingatkanku pada penyajian soto Jawa Timuran, terutama khas Lamongan, namun bedanya mereka menggunakan kuah santan dan diberi taburan koya jeruk nipis.

Menikmati tiap regukan kuah hangat, dan tergigit beberapa potongan gorengan-gorengan kecil, namun terlalu besar untuk ukuran bawang goreng.


"Itu namanya 'klethuk', mas." Jawab pedagang soto itu ramah.
"Dibuat dari potongan kecil singkong yang digoreng" imbuh ibu tambun setengah baya itu.

'Klethuk'.
Mungkin etimologi warga lokal untuk menyebut isian soto ini, karena mereka tidak menemukan penamaan yang tepat atau dengan nama aneh lain lagi. Singkong (ketela pohon atau ubi kayu) yang dipotong dadu kecil dan digoreng (mungkin juga menggunakan bumbu bawang putih) dan ketika dimakan menimbulkan suara crunchy 'klethuk-klethuk'. Tekstur yang awalnya keras namun kemudian renyah di mulut.

Baru ngeh kenapa tadi sang pemilik kios begitu lama menyajikan soto pesananku. Awalnya kukira harus menunggu kuah soto dipanaskan, tapi ternyata beliau terlebih dahulu memotong singkong dan menggorengnya. Jadi 'klethuk' yang disajikan benar-benar masih panas.

Saya jadi ingat ketika menyantap sebuah mie cup yang iklannya harus update itu loh..
Kira-kira 'klethuk' itu berbentuk seperti bola-bola dalam mie cup, tapi tentunya lebih hangat, renyah dan segar.

Seporsi soto ayam dan segelas wedang jeruk dibanderol dengan harga sepuluh ribu rupiah. Murah, mahal atau harga standar? Silakan Anda nilai sendiri sesuai dengan cita rasa didalamnya.

Penasaran dengan soto ayam 'klethuk' khas Blora? Monggo silakan mampir dan cicipi kuliner daerah ini :)

Bon App├ętit (Perancis: Selamat Makan)

Tidak ada komentar :