Senin, 22 September 2014

Festival Kota Lama Semarang 2014: Pasar Sentiling dan De Vrouw

12.25
Pada tanggal 19 - 21 September 2014 lalu telah diselenggarakan sebuah festival di Semarang, yang diberi nama 'Festival Kota Lama 2014, Pasar Sentiling'. Di tahun 2014, festival ini jadi cukup bermakna, karena juga memperingati 100 tahun diselenggarakannya festival terbesar dengan nama "Semarang, Dutch East Indies – Koloniale Tentoonstelling 1914". Festival ini dulunya sebagai peringatan 100 tahun 'merdekanya' Belanda dari jajahan Perancis pada tahun 1913. Atas inisiatif pemerintahan Belanda, expo ini akan dirayakan di tanah jajahan Hindia Belanda. Setelah Batavia dan Soerabaia menolak dijadikan tuan rumah, gubernur jenderal saat itu memutuskan mengadakan expo di sebuah kota di Jawa bernama Semarang.

Salah satu paviliun dari puluhan yang dibuat untuk pameran adalah Paviliun De Vrouw (Perempuan), sebagai hasil suksesnya pameran yang berisi peran dan aktivitas perempuan Belanda saat itu. Pada tahun ini, De Vrouw juga hadir untuk mengangkat kembali peran dan kiprah tokoh perempuan Semarang dan Jawa Tengah, yaitu R.A. Kartini, Nyonya Meneer, N.H. Dini, Anne Avantie, Retno Marsudi dan Marie Elka Pangestu.

Dasar lidah jawa yang susah menyebut kata tetoonstelling kemudian terpeleset menjadi 'sentiling' hingga diadakan kembali festival kota lama sejak 2012 hingga sekarang yang selalu diadakan di daerah kota lama Semarang.

Uniknya, setiap transaksi di dalam festival ini harus menggunakan 'oeang kota lama'. Pengunjung dapat menukarkan rupiah di beberapa 'bank' di tiap sudut area. Denominasinya seribu rupiah, dan menggunakan lembaran kertas dengan cetakan khusus untuk acara ini.

Banyak juga komunitas yang ikut meramaikan. Sebut saja komunitas sket, sepeda tua, penggemar barang antik, motor dan mobil antik, dsb.

Berikut foto-fotonya, males kebanyakan cerita hehe :)


Jumat, 15 Agustus 2014

JANGAN LEPASKAN HELM SAYA!

21.04
BILA TERJADI KECELAKAAN JANGAN LEPASKAN HELM SAYA HINGGA DITANGANI TIM MEDIS

Kira-kira seperti itu tulisan yang tertera pada stiker berukuran 14 x 5 cm buatanku yang memang tujuannya ditempelkan di tempat yang mudah terlihat dan terbaca pada helm. Tak lupa sebuah gambar tetesan darah dengan golongan darah di tengahnya. Sebuah baris di bawah kubuat untuk kemudian dapat ditulis nomor telepon ketika ada keadaan darurat, yang belakangan menjadi sebuah kekhawatiran kalau nomor telpon yang tercantum di sana dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.


"Wah, mas.. Sudah bagus ada orang yang mau nolongin sampeyan kalau kecelakaan. Kok malah dikasih peringatan jangan nglepasin helm gitu?" celetuk seorang teman menanggapi stiker yang sudah kubuat ini.

Eits..jangan salah!

Kalau kita jadi korban kecelakaan saat mengendarai kendaraan roda dua di jalan dan sampai tak sadarkan diri di TKP (tapi amit-amit jangan sampai deh), dan orang yang berniat mau melepaskan helm dari kepala kita itu tidak tahu teknik yang benar, bisa-bisa malah terjadi cedera leher, tulang punggung, trauma kepala, bahkan hingga menyebabkan nyawa melayang lo!

Jadi bagaimana teknik melepas helm korban laka yang baik sehingga tidak menimbulkan cidera yang lebih serius itu?


Lady Rose

14.37

LOKASI 
Gua Mawar, Boyolali


Alamat: Dukuh Munggur, Kec. Musuk, Boyolali, Jawa Tengah


Koordinat: 7° 32' 31.776" S, 110° 31' 59.424" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




Cerita ini bukan tentang Feni Rose, sang presenter acara gunjingan pesohor di salah satu stasiun televisi swasta dengan gayanya yang khas itu. Atau bukan juga ulasan tentang salah satu judul lagu dari grup musik beraliran punk-rock asal Bali. Melainkan tulisan ini akan bercerita tentang Gua Maria Mawar yang ada di Dukuh Munggur, Kecamatan Musuk, Boyolali, Jawa Tengah.

Bermodal informasi seadanya tentang lokasi ini, aku memberanikan diri 'sowan' Sang Bunda yang ada di kaki Gunung Merapi ini. Bukan hal yang mudah, terlebih karena selain lokasi ziarah ini berada jauh dari pusat kota, juga petunjuk arah yang kudapat dari BBM seorang kenalan terkesan sekenanya. Tak heran kalau aku sempat tersasar sampai masuk ke sebuah desa yang berjarak sekitar 6 km dari Gunung Merapi karena kurang cermat memahami arah yang diberikan.

Minggu, 10 Agustus 2014

Cleaning Out The Closet

21.30
Kok kayak judul lagu ato judul album musik barat ya? Hihi..

Maksudnya aku mau beberes rumah. Bersih-bersih dan merapikan semua hal, tapi dimulai dari benda yang hampir tiap hari dipakai tapi pasti nggak pernah beres nyimpennya, apalagi kalau bukan sepatu & helm. Karena aku hidup masih ikut sama orang tua, jadi nggak bisa seenaknya naruh barang-barang itu kan. Dulu sih helm selalu aku taruh di atas lemari pakaian di kamar. Tapi, karena sering dipakai, jadi ribet kalau harus keluar-masuk kamar cuma buat ambil helm. Jadi, setelah masuk garasi, helm hanya kuletakkan sembarangan di meja kecil dekat garasi, meja mesin jahit, atau bahkan terkadang di atas rak sepatu yang sudah butut. Kalau cuma dua buah helm kepunyaanku sih bukan hal besar. Yang jadi masalah, masing-masing orang dewasa yang tinggal di rumah menggunakan kendaraan roda dua untuk mobilisasi harian. Jadi, ada enam sepeda motor di garasi, dengan sekitar sembilan buah helm. Kata tetanggaku, garasi rumah kami sudah mirip kayak showroom motor, karena saking banyak motor disana.

Selasa, 05 Agustus 2014

Dona Nobis Fortitudo (2)

20.01



LOKASI 
Tempat Doa dan Semadi Bukit Kendalisodo

Alamat: Glodogan, Harjosari, Bawen, Kab. Semarang 50661

Koordinat: 7° 13' 19.7" S 110° 24' 44.5" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




Masih sama seperti kunjunganku sebelumnya (baca ceritanya yang masih amburadul di sini), tempat ini tetap membuatku kelelahan. Sudah ketahuan kalau aku jarang sekali berolah raga, sehingga sudah hampir putus nafas menapaki tiap anak tangga menuju pelataran doa.

Perjalanan dari Jalan Raya Semarang- Bawen sudah banyak berubah. Selain jalan utama yang sudah dibeton dan dipasang kanstin (pembatas jalan) sehingga calon pengunjung dari arah Semarang harus memutar terlebih dahulu sebelum masuk gang, juga seingatku dulu pernah dipasang sebuah papan penunjuk jalan di sisi timur jalan berwarna ungu yang sekarang sudah tidak ada lagi.

Bon Voyage! Semarang - Jakarta Naik Kapal Perang

14.15

Menemukan SD Card lama, yang untung saja belum terformat. Sambil memeriksa apa saja isinya, aku menemukan beberapa foto lama.

Kembali ke tahun 2011, tepatnya Tanggal 3-4 September ketika kala itu aku harus melakukan perjalanan ke Jakarta dan tinggal di sana selama beberapa bulan untuk sebuah pekerjaan. Kebetulan masih H+3 Lebaran, dan seperti pada tiap tahun, tradisi lebaran di Indonesia tak lepas dari kegiatan sungkem dan merayakan bersama keluarga besar di kampung halaman masing-masing. Sebuah pergerakan besar-besaran dari kota besar, terutama Jakarta. Pun sebaliknya setelah lebaran. Di tahun itupun jalan utama menuju Jakarta sudah padat oleh kendaraan. Pasti tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau aku ikut bermacet ria di atas sadel motor. Masih mending kalau aku sudah paham rute jalan menuju Jakarta (walau sebenarnya cuma lurus saja mengikuti Pantura sih).

Kamis, 24 Juli 2014

JESUS HOMINUM SALVATOR

22.02


LOKASI 
Gua Santa Perawan Maria Regina, Mojosongo

Alamat: Jl. Brigjen Katamso, Purbowardayan, Surakarta

Koordinat: 7° 32' 46.2"S 110° 50' 23"E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




Waktu menunjukkan sekitar jam 12.20 siang itu ketika bus yang kutumpangi berhenti di depan sebuah mini market. Kupikir karena ada pesanan dari salah satu penumpang atau kru bus yang ingin sebentar berbelanja. Kupikir tak ada salahnya juga turun dan merasakan teriknya sinar matahari siang itu, sambil membeli beberapa butir permen penghangat tubuh. Sudah berjam-jam aku duduk kedinginan di dalam bus ini. Sambil menikmati permen pedes, dan menikmati suasana sekitar. Ternyata semua penumpang bus pariwisata ini juga ikutan turun. Kala itu Hari Minggu, 1 Juni 2014, aku ikut rombongan ziarah dari sebuah lingkungan, untuk merayakan penutupan Bulan Rosario, Mei sebelumnya. Ternyata sebuah papan penunjuk di ujung gang persis di sebelah mini market ini yang membuat mereka semua ikutan turun dari bus dan sibuk menyiapkan diri. Owalah..ternyata aku sudah sampai di lokasi (dari tadi ngapain aja mas?) Gua Maria Mojosongo, atau lebih tepatnya: jalan masuk menuju Gua Maria Mojosongo :p

Rabu, 23 Juli 2014

Langit dan Bumi akan Berlalu, Tapi Perkataan-Ku Tidak akan Berlalu

01.10


LOKASI 
Gua Maria Pereng Getasan

Alamat: Kecamatan Getasan, Kopeng, Kab. Semarang

Koordinat: 7° 22' 33.5" S 110° 26' 39.3" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain






Ini merupakan kali kedua aku datang berziarah ke tempat ini, setelah sebelumnya di 16 Desember 2012 lalu (kalau mau baca cerita cupunya klik link ini). Beberapa kali kudengar cerita bahwa tempat ini sudah mengalami begitu banyak renovasi dan penataan ulang dibanding waktu pertama kali aku berkunjung.

Kali ini aku mencoba lebih memutar lewat Kota Salatiga,  hanya untuk melihat suasana yang berbeda dibanding kalau lewat Jalan Lintas Salatiga (JLS). Suasana kota yang sejuk walau kala itu tengah hari menyapaku lembut, hingga aku melaju naik menuju Getasan. Kira-kira jam satu siang dan kabut belum turun.


Bunga Mawar Yang Gaib, Doakanlah Kami

00.20


LOKASI
Gua Maria Sancta Rosa Mystica, Mater Divinae Gratiae, Tuntang

Alamat: Desa Banyu Urip, Delik, Tuntang, Kab. Semarang, Jawa Tengah

Koordinat: 7° 14’ 56.44” S 110° 28’ 56.2” E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




"Ada yang bisa dibantu, Mas?"
Sebuah suara lelaki mengagetkanku ketika aku sedang celingukan di sebelah kios dengan pelataran luas. Sesosok lelaki paruh baya keluar dari rumah, dengan tulisan 'Y. Subagya' tertempel tepat di atas ambang pintu rumah itu. Tubuhnya kurus. Senyum ramah selalu menempel di wajahnya.

Rupanya beliau sang empunya rumah, bapak Subagya.

Sebelum menimbulkan prasangka buruk, segera aku memperkenalkan diri dan untuk apa aku ada di situ.

"Mau survey, Pak" jawabku.

Obrolan kami berlanjut, tapi nampak pak Bagya terburu-buru.

"Saya mau nyoblos dulu" kata beliau.

Memang hari itu bertepatan dengan pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini. Pemilihan presiden secara langsung, dan beliau sebagai warga negara yang baik hendak menyalurkan aspirasinya.

"Nanti kalau butuh apa-apa langsung hubungi saya saja. Untuk umat, sebisa mungkin bapak dan umat sini bantu" kata prodiakon ini sambil menyiapkan kendaraannya untuk segera menuju TPS desa.

" Sejarah Gua Maria, cari aja di internet, Mas. Banyak kok yang sudah nulis. Bapak tinggal dulu ya" pamitnya singkat.

Jumat, 18 Juli 2014

Air dan Jalan Kehidupan

09.42



LOKASI 
Gua Maria Marganingsih, Bayat


Alamat: Marganingsih, Bayat, Klaten, Jawa Tengah


Koordinat:    7° 47’ 3.45” S 110° 37’ 47.72” E
DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain





Semasa kecil, aku sering diajak oleh paklik (paman, adik ayah -red) melewati tempat ini. Gua Maria Marganingsih di Dukuh Ngaren, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Maklum, karena rumah mertua beliau berada di desa itu, dan ketika liburan sekolah, sepupu-sepupuku sering berkunjung ke tempat nenek mereka. Hanya lewat, karena di tahun 1990-an Gua Maria ini belum dibuka untuk umum sebagai tempat ziarah. Seingatku karena tempat ini dulu masih 'seadanya'. Maksudnya belum dikelola secara baik karena memang hanya tempat doa milik pribadi. Pun jika masyarakat umum yang menggunakan sebagai tempat berkumpul dan berdoa mentok-mentoknya hanya dari lingkungan sekitar saja. Tempat ziarah ini berada tepat di pinggir jalan Bayat – Cawas dan Bayat - Wedi, Klaten. Dulu, dari Sleman menuju tempat ini rasanya sangat lama dan jauh, walau menggunakan mobil. Sampai beberapa saat lalu aku berkesempatan berziarah disini, masih juga terasa jauh hehe.. padahal jika jaraknya dilihat dari GPS, tak  lebih dari 20 km dari pusat Kota Klaten, atau sekitar 30 km dari rumah keluarga besar kami di Desa Cupuwatu, Sleman, DIY. Betapa tidak? Selama perjalanan kita akan disuguhi dengan pemandangan hamparan persawahan. Walau sekarang sudah tidak sesejuk dulu, tapi rasanya tidak akan mungkin ngebut dan melewatkan suguhan alam yang menyejukkan mata ini, mungkin juga selain jalan poros kecamatan yang hanya selebar sekitar tujuh meter ini hihi..

Kamis, 27 Maret 2014

Maria, Sang Bintang Laut

14.42


LOKASI 
Gua Maria Stella Maris, Lasem

Alamat: Jalan Raya (Pantura) No. 34, Kec. Lasem, Kab. Rembang, Jawa Tengah

Koordinat: 6° 41’ 40.2” S 111° 26’ 21.85" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik. 
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain.








Jam 12 siang itu ketika aku tiba di depan pintu gerbang bercat putih yang sebagian catnya sudah terkelupas, menonjolkan deretan karat. Gerbang itu tertutup. Tidak tampak aktivitas manusia dibalik gerbang itu, hanya gonggongan anjing yang terdengar dari dalam. Beberapa menit aku termangu di depan pintu gerbang yang tingginya tak sampai sedada itu, sampai akhirnya aku memberanikan diri menggeser pintu besi yang menimbulkan suara berderik keras, berharap ada orang yang akan keluar mendengar suara itu.



Tapi ternyata tidak.

Minggu, 19 Januari 2014

Rainy Riding Gear

19.23


DISCLAIMER
Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada para korban banjir di beberapa daerah di Indonesia dan kepada para korban letusan gunung api Sinabung di Sumatera, tulisan ini tidak bermaksud untuk mengolok-olok atau bersikap hedonis disaat terjadi bencana.

MUSIM HUJAN!
Cuaca ekstrim sebagai dampak dari pemanasan global mengakibatkan cuaca tidak menentu. Januari, bulan pertama pada tiap tahun, yang juga masuk kedalam musim penghujan. Bukan tidak mungkin hujan akan turun sangat deras, bahkan sampai berhari-hari. Bagi kita para pengguna moda transportasi probadi berupa kendaraan roda 2, akan sangat merepotkan jika harus beraktivitas ditengah hujan. Mulai dari berangkat dan pulang kerja, atau bahkan jika pekerjaan itu dituntut selalu wara-wiri tak kenal cuaca.

Nah, kalau sudah begitu, mau tidak mau ada pos tambahan untuk pembelian jas hujan. Walau sudah banyak himbauan mengenai bahayanya menggunakan jas hujan model ponco (beberapa menyebut dengan model kelelawar) selama berkendara, ternyata masih banyak pengendara yang mengabaikannya. Jas hujan model itu memang lebih murah dibanding jas hujan model setelan (terpisah antara jaket dan celana).

Senin, 13 Januari 2014

Luk 11:9

22.05


LOKASI 
Pondok Maria Medali Wasiat Jatirejo, Rembang

Alamat: Dukuh Jatirejo, Desa Grawan, Kec. Sumber, Kab. Rembang, Jawa Tengah

Koordinat: 6° 47' 16.8" S 111° 17' 20.4" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik. 
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain





Awal Januari 2014

Belum genap jam setengah satu siang itu dan hujan gerimis baru saja berhenti. Mendung tak terlalu pekat, tapi hawa panas dan lembab seakan memenuhi tiap sudut warung kecil berlantai tanah dengan sisa bungkus-bungkus makanan dan gumpalan tanah sawah berserakan ini. Kuletakkan cangkir kopi yang isinya baru saja sedikit kuhirup. Bukan kopi hitam favoritku, memang, tapi kopi instan buatan Bu Sarpan, sang pemilik warung, itu cukup dapat menyegarkan badanku. Sesekali aku ikut tertawa mendengar celotehan beberapa orang yang sedang berada di dalam warung, walau ada beberapa dialog mereka yang tak terlalu kupahami. Sambil melihat catatan yang sudah kubuat dalam aplikasi notes diponsel, kunikmati lagi sisa kopi yang sudah mulai dingin di dalam cangkir itu.

Selasa, 07 Januari 2014

Pengen Beli Kamera

21.54
Dalam pembuatan cerita atau tulisan yang menyertakan dokumentasi perjalanan berupa foto, selama ini saya hanya menggunakan hasil jepretan kamera yang tersemat didalam ponsel. Ada juga sih beberapa foto salinan dari beberapa teman yang dihasilkan dari kamera, baik kamera saku maupun DSLR.

Enaknya jeprat-jepret pakai kamera ponsel ialah saya nggak perlu lagi ribet membawa banyak barang, tapi repotnya kalau baterai ponsel lemah, bahkan sering ponsel sudah mati duluan sebelum saya memotret. Dari pengalaman itu, ingin rasanya membeli sebuah kamera digital yang mumpuni, praktis tanpa banyak pilihan dan fitur, dan yang terpenting; MURAH!

Nah..repot nih kalau sudah pasang patokan seperti ini hehe..

Beberapa teman yang juga memiliki blog menggunakan kamera DSLR, dimana hasil jepretan (yang pastinya bagus, karena pakai DSLR) digunakan sebagai penunjang isi tulisan. Ada harga, ada rupa, sih.

Tapi, apa sih sebenarnya arti dan cara kerja DSLR?

Head to Head: Mini Tank Bag 7 Gear X Mini Tank Bag Donimoto

01.10


DISCLAIMER
Tulisan ini merupakan murni ulasan yang bersifat obyektif. Blog ini tidak mendapatkan imbalan dari produsen-produsen terkait mengenai hasil ulasan, dan tulisan ini bukan 'titipan' dari produsen tertentu untuk mengunggulkan produk mereka dan menjatuhkan produsen lain. Masing-masing produk saya dapat dengan cara membeli.

Melanjutkan tulisan mengenai review tas multifungsi 'Jelajah Indonesia 1.0 Series' buatan Donimoto (baca ulasannya disini) dan kebetulan saya punya dua produk mini tank bag berbeda produsen dengan harga dibawah Rp 200.000, maka tidak ada salahnya untuk memberikan ulasan tentang keduanya disini.

Dari sebuah nama yang sudah besar diantara para penggemar motor dan memiliki basis penggemar fanatiknya sendiri: 7Gear, yang sudah mengeluarkan sebuah produk mini tank bag yang diberi nama "Ride On City" yang cukup kompak. Dan sebuah nama baru yang kini tengah mulai menggeliat: Donimoto, dengan prduk mini tank bag Java 1.1 Limited Prides Edition. Sebenarnya hanya berbeda bordir tulisan pada identitas mini tank bag. Secara basis tetap sama seperti produk Java 1.1 lainnya.



Senin, 06 Januari 2014

Pantai Pasir Kencana, Pekalongan: Terangkatnya Kembali Sebuah Kenangan

21.39

Malam ini tiba-tiba aku teringat akan sebuah kenangan perjalanan lama bersama para sahabat yang kami lakukan hampir setahun yang lalu. Banyak cerita dibalik perjalanan ini, tapi sudahlah. Saya hanya akan menuliskan catatan perjalanan menuju tempat wisata ini saja, walau dengan terbata-bata, sebatas memori ini dapat mengingat kembali peristiwa di 10 Maret 2013 lalu.

Mentari minggu pagi itu bersinar penuh semangat, ditengah musim yang tak menentu kala itu. Banyak yang gembar-gembor menyebut peristiwa ini sebagai climate change, sebuah pergantian iklim akibat ulah manusia. Manusia menuduh manusia. Anyway, kami bertujuh sedang dalam perjalanan pulang menuju Semarang dari Pekalongan dari menghadiri sebuah acara disana. Saya, Bang Zul, Dhika, Mahendra Juri, Rifki Zahree, Rezza dan Pak Addo Wisnu mengendarai motor masing-masing. setelah pada pagi harinya pada perjalanan berangkat, motor Bang Zul mengalami kendala. Sebuah kesalahan penyetelan klep yang mengakibatkan salah satu businya pecah di daerah Gringsing, Kendal.



Kira-kira pukul setengah tiga sore ketika kami memutuskan sejenak 'cari angin' ke suatu tempat wisata di Kota Pekalongan. Bang Zul yang besar dan tumbuh di kota ini tanpa ragu mengajak kami berkendara ke sisi utara kota. Tujuan akhir kami jelas: PANTAI!

Minggu, 05 Januari 2014

Review: Jelajah Indonesia 1.0 Donimoto

23.54

DISCLAIMER
Tulisan ini merupakan murni ulasan yang bersifat obyektif. Blog ini tidak mendapatkan imbalan dari produsen-produsen terkait mengenai hasil ulasan, dan tulisan ini bukan 'titipan' dari produsen tertentu untuk mengunggulkan produk mereka dan menjatuhkan produsen lain.

Melakukan perjalanan menggunakan kendaraan roda 2 memang mengasyikan. Dengan bentuknya yang relatif ramping, pengendara bisa bermanuver atau melakukan selap-selip diantara antrian kendaraan besar atau masuk gang untuk terlepas dari kemacetan. Namun, seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia akan barang dan perpindahan antar tempat yang cepat, menyebabkan beberapa pengendara memodifikasi kendaraan roda 2 mereka sehingga mampu membawa muatan yang lebih banyak.

Kamis, 02 Januari 2014

Dan, Keisenganku pun Berlanjut...

21.33
Masih ingat tulisan tentang keisengan saya membuat logo blog beberapa yang lalu? (baca di sini) Nah, setelah ada waktu luang, saya sempatkan datang ke tempat percetakan stiker. Saya lebih memilih cutting sticker yang ringkas saja. Dan hasilnya logo iseng itu dapat dituangkan menjadi stiker berukuran 6 x 6 cm.



Keren juga ketika tertempel di beberapa gadget hehe..

Belum sempat menempelkan stiker-stiker itu di badan Annette, karena baru mikir bagusnya ditempel disebelah mana.

Lalu, pesan satu sampel kemeja. Jatuhnya jadi lebih mahal, karena cuma pesan sebiji. Hasilnya? Not bad, lah, meskipun ada beberapa hal yang bisa dijadikan bahan revisi. Niatnya sih saya mau buat beberapa kemeja lagi dengan warna dan desain yang berbeda..hehe..



Okay..memang terkesan terlalu berlebihan kalau saya serius menganggap ini semua sampai-sampai buat kemeja 'seragam' segala, tapi rasanya ada kepuasan tersendiri ketika desain buatan kita dapat tertuang menjadi sebuah produk, walau sebenarnya jika dilihat lagi, masih terasa ada kejanggalan dalam hasil produknya. Tapi, kalau tidak mencoba, kapan lagi kita dapat membuktikan analisis kita?

Hehe.. *ketawa shinchan

Rabu, 01 Januari 2014

Soto: Kudus Style!

00.53
Konon sekitar tahun 1500 M, ditengah surutnya Kerajaan Majapahit, seorang penyebar agama Islam bernama Ja’far Shoddiq masuk ke dalam wilayah Loaram, Jawa Tengah yang juga pusat agama Hindu kala itu. Karena kelelahan dan sangat haus, seorang pandita menolong ulama itu dengan memberikannya air susu sapi. Di tempat itu, sang ulama kemudian membangun sebuah masjid dan perkampungan untuk kaum muslim, yang kemudian oleh warga sekitar menyebutnya dengan 'Kauman', dan nama kota itu ia ganti sesuai kenangannya akan Yerussalem, tempatnya menimba ilmu, menjadi Al-Quds, yang kemudian dilafalkan menjadi 'Kudus'. Ulama itupun berganti gelar menjadi Sunan Kudus. Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya atas jasa pandita yang telah menolongnya, ia melarang penyembelihan sapi di wilayah Kudus, karena sapi merupakan binatang yang disakralkan dalam agama Hindu. (sumber tulisan dari sini)

Walaupun zaman telah berganti, namun hingga saat ini sikap toleransi masa lalu itu masih kuat tertanam, dan beberapa olahan makanan di Kudus yang semula menggunakan bahan dasar daging sapi, telah diganti menggunakan daging kerbau. Sebut saja nasi pindang dan soto, selain beberapa kuliner khas lain seperti lentog, garang asem dan jenang kudus.

Ada dua jenis soto khas daerah ini, yaitu soto Kudus dan soto kerbau. Kali ini yang akan diulas (atau dimakan?) soto kerbau terlebih dahulu.

Beberapa tempat saya kunjungi sebagai pengambilan data dengan metode sample.

Apa siih?