Selasa, 07 Januari 2014

Pengen Beli Kamera

Dalam pembuatan cerita atau tulisan yang menyertakan dokumentasi perjalanan berupa foto, selama ini saya hanya menggunakan hasil jepretan kamera yang tersemat didalam ponsel. Ada juga sih beberapa foto salinan dari beberapa teman yang dihasilkan dari kamera, baik kamera saku maupun DSLR.

Enaknya jeprat-jepret pakai kamera ponsel ialah saya nggak perlu lagi ribet membawa banyak barang, tapi repotnya kalau baterai ponsel lemah, bahkan sering ponsel sudah mati duluan sebelum saya memotret. Dari pengalaman itu, ingin rasanya membeli sebuah kamera digital yang mumpuni, praktis tanpa banyak pilihan dan fitur, dan yang terpenting; MURAH!

Nah..repot nih kalau sudah pasang patokan seperti ini hehe..

Beberapa teman yang juga memiliki blog menggunakan kamera DSLR, dimana hasil jepretan (yang pastinya bagus, karena pakai DSLR) digunakan sebagai penunjang isi tulisan. Ada harga, ada rupa, sih.

Tapi, apa sih sebenarnya arti dan cara kerja DSLR?
DSLR adalah singkatan dari Digital Single-Lens Reflex. Kamera DSLR artinya kamera digital yang menggunakan refreksi lensa tunggal. Fotografer mengintip objek yang akan difoto melalui lubang intip atau biasa disebut view-finder. Hasil foto yang akan didapat adalah sama dengan apa yang tampak melalui view-finder tersebut.

Cahaya yang masuk, setelah melewati jajaran lensa (1) akan dipantulkan oleh cermin yang dipasang pada posisi kemiringan 45 derajat (2) dan diproyeksikan ke matte focusing screen (5). Melalui condensing lens (6) dan pantulan di dalam pentaprism (7), gambar objek kemudian diteruskan ke lensa mata manusia (8). Ketika kita menekan tombol shutter (bidik) maka cermin (2) akan melipat ke arah panah, focal plane shutter (3) membuka dan kemudian gambar akan ditangkap oleh sensor (4) dan diteruskan ke prosesor gambar kemudian disimpan di media penyimpanan (MMC dan sebagainya).



Hasil dari 'berguru' pada teman-teman penggemar fotografi, secara gampang mereka menjelaskan. Kamera SLR (sekarang DSLR) merupakan jenis kamera yang menggunakan teknik pantulan cermin untuk melihat obyek di pembidik (view-finder). Dengan teknik pantulan cermin itu pada era kamera analog dahulu, hasil foto yang tertangkap di film akan mendekati dari obyek yang dilihat di view-finder. Berbeda dengan pembidik tanpa cermin, seperti pada kamera saku (pocket camera) analog, dimana letak pembidik berada di samping lensa. Itu menyebabkan framing hasil foto tidak bisa pas dengan bidikan sebelum menjepret.

Dengan seiring pesatnya teknologi digital sekarang ini, memungkinkan dibangunnya kamera dengan bidikan yang lebih akurat tanpa bantuan cermin untuk memantulkan obyek di belakang lensa. Untuk kamera kelas profesional dengan fitur yang cukup canggih dan lensa yang bisa dilepas-pasang yang sudah tidak menggunakan cermin disebut mirrorless. Meminjam istilah era awal komputer, WYSIWIG. What you see is what you get.

Pada kamera saku digital, kita bisa melihat objek yang akan dibidik melalui LCD monitor, dan biasanya tidak dilengkapi lagi dengan view-finder. Walaupun yang akan didapat belum tentu sama dengan apa yang kita lihat melalui LCD, tapi sangat mendekati lah.

Ketika membeli kamera digital biasa, maka lensa sudah menyatu dengan body kamera. Pada kamera DSLR, lensa bisa dilepas dan diganti. Oleh karenanya, ketika membeli kamera DSLR kita akan ditawari apakah membeli body only (badan kameranya saja) atau kit (kamera + lensa). Ada kamera DSLR yang bisa dipasang lensa dari merek lain, ada juga yang khusus dari satu merek. Ada kamera DSLR yang dilengkapi dengan motor autofocus. Ada juga yang tanpa motor autofocus sehingga harus membeli lensa bermotor yang biasanya harganya lebih mahal.

Secara fisik, kamera DSLR memiliki bentuk yang hampir sama antara merek satu dan lainnya. Sedangkan kamera digital biasa memiliki bentuk yang lebih bervariasi namun biasanya lebih kecil dan kompak jika dibandingkan dengan kamera DSLR. Kamera digital biasa memiliki lensa pendek dan sudah fix, tidak bisa diganti-ganti, sedangkan DSLR memiliki lensa panjang dan bisa diganti-ganti

Kini, keduanya sudah dilengkapi dengan fitur perekaman video. Semakin canggih (dan mahal) suatu kamera, maka semakin banyak gambar yang dapat direkam dalam tiap detiknya. Balik lagi pada prinsip "Ada harga, ada rupa."

Aahh.. Kepengen juga punya kamera canggih dengan lensa-lensa panjang seperti itu. Dengan sedikit kerja keras untuk menambah tabungan, pasti bisa terbeli deh DSLR dengan model termurah atau banyak juga yang menjajakan DSLR seken dengan kualitas yang masih bagus. Tapi, dengan pengetahuan yang minim akan kamera dan teknik-teknik fotografi, jangan-jangan nantinya saya beli karena hanya ingin pamer, bergaya dan terlihat 'wah' di hadapan orang lain. Hanya gaya-gayaan nenteng atau ngalungin DSLR di leher tapi masih pakai lensa kit standar dan jeprat-jepret pakai fitur auto? Lalu, dimana esensinya? Mau ambil foto beneran atau cuma bergaya?

Kamera saku sebenarnya juga tidak masalah. Toh seberapa besar resolusi gambar, akan tetap melalui proses editing agar tidak memberatkan pembaca untuk mengakses blog ini. Harganya pun, walau bervariasi, tapi masih dalam kisaran yang tidak terlalu mahal. Mulai dari ratusan ribu hingga kurang dari dua juta udah dapet, lah. Terlebih lagi kamera digital saku lebih praktis dan minim perawatan dibanding DSLR.

Nah, sembari berpikir lebih dalam lagi tentang seberapa butuh dan pentingnya membeli kamera baru, untuk sementara tetap jeprat-jepret pakai ponsel dulu deh..Hehe..

Salam :)

(Sumber artikel DSLR dari wikipedia)

Tidak ada komentar :