Jumat, 18 Juli 2014

Air dan Jalan Kehidupan




LOKASI 
Gua Maria Marganingsih, Bayat


Alamat: Marganingsih, Bayat, Klaten, Jawa Tengah


Koordinat:    7° 47’ 3.45” S 110° 37’ 47.72” E
DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain





Semasa kecil, aku sering diajak oleh paklik (paman, adik ayah -red) melewati tempat ini. Gua Maria Marganingsih di Dukuh Ngaren, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Maklum, karena rumah mertua beliau berada di desa itu, dan ketika liburan sekolah, sepupu-sepupuku sering berkunjung ke tempat nenek mereka. Hanya lewat, karena di tahun 1990-an Gua Maria ini belum dibuka untuk umum sebagai tempat ziarah. Seingatku karena tempat ini dulu masih 'seadanya'. Maksudnya belum dikelola secara baik karena memang hanya tempat doa milik pribadi. Pun jika masyarakat umum yang menggunakan sebagai tempat berkumpul dan berdoa mentok-mentoknya hanya dari lingkungan sekitar saja. Tempat ziarah ini berada tepat di pinggir jalan Bayat – Cawas dan Bayat - Wedi, Klaten. Dulu, dari Sleman menuju tempat ini rasanya sangat lama dan jauh, walau menggunakan mobil. Sampai beberapa saat lalu aku berkesempatan berziarah disini, masih juga terasa jauh hehe.. padahal jika jaraknya dilihat dari GPS, tak  lebih dari 20 km dari pusat Kota Klaten, atau sekitar 30 km dari rumah keluarga besar kami di Desa Cupuwatu, Sleman, DIY. Betapa tidak? Selama perjalanan kita akan disuguhi dengan pemandangan hamparan persawahan. Walau sekarang sudah tidak sesejuk dulu, tapi rasanya tidak akan mungkin ngebut dan melewatkan suguhan alam yang menyejukkan mata ini, mungkin juga selain jalan poros kecamatan yang hanya selebar sekitar tujuh meter ini hihi..


Hanya beberapa ratus meter dari sentra kerajinan gerabah, maka kita sudah tiba di lokasi. Tentunya beberapa ratus meter ke depan sudah tiba di kediaman nenek sepupuku itu. Jangan takut tersasar, karena tepat di sisi tebing sudah terpasang tulisan besar tempat ziarah ini.



Rimbunnya pepohonan di kompleks Gua Maria ini menambah kesejukan dan keasriannya. Dilihat dari depan, sebuah tembok menutupi pendopo yang berdiri gagah di belakangnya. Lagi, sebuah tulisan nama tempat ini terpampang di depannya.



Di kiri-kanan tembok depan terdapat akses jalan masuk. Lebarnya kira-kira satu meter. Cukup lebar untuk akses keluar-masuk kendaraan roda 2 'biasa'. Biasa? Ya, karena jika aku bersama Annette ke tempat ini, tentu dia akan kutinggal di luar tembok, karena stangnya terlalu lebar, lagi kalau memakai box samping. Bisa-bisa kami akan tersangkut sebelum bisa masuk sempurna ke dalam area parkir. Tapi, untung saja, karena waktu itu aku datang bersama rombongan lingkungan untuk melakukan ziarah, syukur atas penutupan Bulan Rosario di Bulan Mei lalu. Mobil dan bus dapat diparkir di samping tembok hingga samping tanggul. Lagi, ada sebuah lahan kosong tepat di depan pintu masuk tadi, yang cukup untuk parkir beberapa mobil. Yuk, ah! Sekarang kita masuk.



Sebuah kotak besi untuk sumbangan sukarela para peziarah bagi pembangunan tempat ziarah ini terletak tak jauh dari undakan menuju jalan salib dan gua. Pertama-tama, kita akan menjelajah ke arah kiri, mengikuti undakan yang terbuat dari plesteran semen yang merupakan rute jalan salib. Tapi sebelelum tiba di stasi pertama, ada sebuah hal menarik di Gua Maria Marganingsih ini. Sebuah patung Bunda Maria berukuran kecil, tidak lebih tinggi dari setengah meter, mungkin. Diletakkan dalam gua kecil dengan pintu berteralis. Awalnya kupikir pintu besi itu dipasang untuk mencegah peziarah meletakkan lilin di dalam gua, tapi, kala itu pintu besi itu dalam keadaan terbuka dan di dalamnya masih banyak sisa lilin. Setelah mendapat informasi, ternyata sudah beberapa kali patung Bunda Maria diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Maka, untuk mencegah pencurian patung lagi, dibuatlah pintu teralis besi itu. Jadilah Bunda Maria yang seperti terpenjara dalam kerangkeng besi.




Rute jalan salib ini sebenarnya tidak terlalu panjang, hanya saja jalan salib ini mengikuti kontur bukit di belakang pendopo, jadi Anda harus siap menaiki belasan anak tangga.  Tidak terlalu terjal memang, jika dibanding jalan salib di Sendang Sriningsih. Lantai plesteran juga bersih, tidak berlumut, jadi tidak menjadikan alasan untuk enggan melakukan jalan salib. Rindangnya pepohonan dan asrinya lingkungan sekitar membuat ziarah jalan salib Anda tetap segar dan menyenangkan. Percaya, deh!





Walaupun rute jalan salib yang terus naik hingga perhentian terakhir ke-14 ini tidak terlalu terjal, namun jangan sampai Anda membawa barang atau memakai pakaian yang menyulitkan diri Anda sendiri. Tidak perlu membawa payung, karena suasana cukup rindang. Cukup topi untuk beraga-jaga jika Anda takut kepanasan. Setelah menyelesaikan jalan salib, ada dua rute yang dapat ditempuh setelah melewati replika rumah keluarga kudus dari Nazareth. Anda ingin turun ke belakang pendopo atau menuju mata air, atau belok ke kanan langsung ke pelataran gua utama. Pelataran gua utama ini cukup luas. Mungkin dapat menampung dua hingga tiga ratus orang.







Ssst..! Sedang ada yang berdoa rosario bersama. Lebih baik kalau aku tidak terlalu pecicilan dalam mengambil foto agar mereka tidak terganggu.
Nah, jika Anda memilih untuk terus turun menyusuri undakan landai dengan dipayungi rumpunan bambu menuju mata air, terdapat juga sebuah rute jalan salib yang cukup kecil. Tiap stasinya disusun sebelah - menyebelah dalam keramik bergambar peristiwa jalan salib yang warnanya sudah mulai memerah termakan usia. Ujung dari jalan salib kecil ini tetap sama di pelataran gua utama.


Sumber air ini sebenarnya berada persis di belakang pendopo. Sebenarnya peziarah dapat langsung menghampiri sumber mata air ini setelah melewati pendopo, sebelum naik ke pelataran gua utama. Di belakang pendopo juga terdapat beberapa album foto yang menjadi saksi bisu atas proses perubahan pada tempat ziarah ini. Tak hanya perubahan fisik, namun juga semangat berbagi para peziarah.

Uniknya, sumber mata air ini dibentuk menyerupai kendi dengan beberapa keran berjejer di bawahnya. Prasasti di dinding kendi itu tertulis "Tirta Marganingsih" sesuai dengan nama tempat ziarah ini. Tirta berarti air, Marga artinya jalan, sedangkan ningsih diambil dari kata sih atau asih, yaitu kasih. Tentunya mengacu pada kasih karunia Tuhan. Jadi, ini adalah sumber air yang menjadi jalan (media) akan turunnya kasih karunia Tuhan kepada manusia. Kabar yang beredar, banyak peziarah yang sembuh dari penyakitnya setelah mengambil air ini. Tentunya jika dilandasi dengan iman kepercayaan bahwa Tuhan sendiri telah memberikan kasih karunia-Nya melalui perantaraan air dari sumber air ini.


Gua Maria ini dibangun sekitar tahun 1950-an oleh keluarga Bp. Max. Somowihardjo (Alm) bersama sang isteri, Ibu M.M. Sukepi atas rasa syukur dan janjinya kepada Tuhan. Pada awalnya Gua Maria ini hanya digunakan untuk berdoa bersama keluarga dan sering kali keluarga ini mengajak umat Katolik sekitar. Hingga pada tahun 1994 setelah Bp. Max. Somowihardjo meninggal, Rm. M. Sunarwidjaja, SJ yang juga merupakan putera sulung pasutri ini, beserta kesebelas saudara-saudarinya memutuskan untuk membangun Gua Maria ini menjadi tempat ziarah yang lebih layak, dan tentunya dapat menampung lebih banyak umat lagi, hingga pada tahun 2002 tempat ziarah ini diberkati oleh Mgr. Ignatius Suharyo sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang dan Tirta Marganingsih diberkati dua tahun setelahnya.



Nah..untuk mencapai tempat ini, cukup mudah. Jika Anda ingin berziarah kesini menggunakan kendaraan umum, dari Kota Yogyakarta, naik bus jurusan Solo, turun di pertigaan 'Bendo Gantungan, Klaten'. Anggap saja sama jika Anda dari Kota Solo, karena dari GPS terdapat beberapa jalur menuju lokasi ini. Dari pertigaan ini masuk ke arah selatan (kanan jalan dari Yogyakarta), naik mobil angkutan umum khas Yogya (tanpa saya menyebut merk atau jenis ya.. hihi..) melewati Wedi, dan turun di Marganingsih sebelum pasar Bayat. Jangan lupa bertanya terlebih dahulu ongkos angkutan umum disana.


Jika Anda atau rombongan menggunakan kendaraan pribadi tanpa GPS dapat juga melewati jalur yang sama seperti jalur angkutan umum diatas. Jika Anda menggunakan perangkat GPS atau GPS dalam telepon pintar, dapat memasukkan koordinat 7° 14’ 57” S, 110° 28’ 55” E atau 7.249 S, 110.482 E sebagai tujuan akhir.


Tips lagi. Jika Anda berhenti selama perjalanan untuk menanyakan arah ke Gua Maria Marganingsih ini, jangan serta merta mengatakan, "Mau ziarah ke Bayat", karena di Kecamatan Bayat terdapat pula petilasan (makam) Sunan Bayat/ Sunan Tembayat, seorang yang dulunya penyebar Agama Islam di daerah ini. Ada baiknya Anda cukup mengatakan jika ingin ke Marganingsih saja.

Selain dari kunjungan, wawancara dan pengamatan pribadi, cerita ini juga disadur dari beberapa tulisan mengenai Gua Maria Marganingsih di www.guamaria.info dan katolik-id.blogspot.com



Selamat Berziarah!



Salam, Doa dan Berkah Dalem :)

Tidak ada komentar :