Jumat, 15 Agustus 2014

JANGAN LEPASKAN HELM SAYA!

21.04
BILA TERJADI KECELAKAAN JANGAN LEPASKAN HELM SAYA HINGGA DITANGANI TIM MEDIS

Kira-kira seperti itu tulisan yang tertera pada stiker berukuran 14 x 5 cm buatanku yang memang tujuannya ditempelkan di tempat yang mudah terlihat dan terbaca pada helm. Tak lupa sebuah gambar tetesan darah dengan golongan darah di tengahnya. Sebuah baris di bawah kubuat untuk kemudian dapat ditulis nomor telepon ketika ada keadaan darurat, yang belakangan menjadi sebuah kekhawatiran kalau nomor telpon yang tercantum di sana dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.


"Wah, mas.. Sudah bagus ada orang yang mau nolongin sampeyan kalau kecelakaan. Kok malah dikasih peringatan jangan nglepasin helm gitu?" celetuk seorang teman menanggapi stiker yang sudah kubuat ini.

Eits..jangan salah!

Kalau kita jadi korban kecelakaan saat mengendarai kendaraan roda dua di jalan dan sampai tak sadarkan diri di TKP (tapi amit-amit jangan sampai deh), dan orang yang berniat mau melepaskan helm dari kepala kita itu tidak tahu teknik yang benar, bisa-bisa malah terjadi cedera leher, tulang punggung, trauma kepala, bahkan hingga menyebabkan nyawa melayang lo!

Jadi bagaimana teknik melepas helm korban laka yang baik sehingga tidak menimbulkan cidera yang lebih serius itu?


Lady Rose

14.37

LOKASI 
Gua Mawar, Boyolali


Alamat: Dukuh Munggur, Kec. Musuk, Boyolali, Jawa Tengah


Koordinat: 7° 32' 31.776" S, 110° 31' 59.424" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




Cerita ini bukan tentang Feni Rose, sang presenter acara gunjingan pesohor di salah satu stasiun televisi swasta dengan gayanya yang khas itu. Atau bukan juga ulasan tentang salah satu judul lagu dari grup musik beraliran punk-rock asal Bali. Melainkan tulisan ini akan bercerita tentang Gua Maria Mawar yang ada di Dukuh Munggur, Kecamatan Musuk, Boyolali, Jawa Tengah.

Bermodal informasi seadanya tentang lokasi ini, aku memberanikan diri 'sowan' Sang Bunda yang ada di kaki Gunung Merapi ini. Bukan hal yang mudah, terlebih karena selain lokasi ziarah ini berada jauh dari pusat kota, juga petunjuk arah yang kudapat dari BBM seorang kenalan terkesan sekenanya. Tak heran kalau aku sempat tersasar sampai masuk ke sebuah desa yang berjarak sekitar 6 km dari Gunung Merapi karena kurang cermat memahami arah yang diberikan.

Minggu, 10 Agustus 2014

Cleaning Out The Closet

21.30
Kok kayak judul lagu ato judul album musik barat ya? Hihi..

Maksudnya aku mau beberes rumah. Bersih-bersih dan merapikan semua hal, tapi dimulai dari benda yang hampir tiap hari dipakai tapi pasti nggak pernah beres nyimpennya, apalagi kalau bukan sepatu & helm. Karena aku hidup masih ikut sama orang tua, jadi nggak bisa seenaknya naruh barang-barang itu kan. Dulu sih helm selalu aku taruh di atas lemari pakaian di kamar. Tapi, karena sering dipakai, jadi ribet kalau harus keluar-masuk kamar cuma buat ambil helm. Jadi, setelah masuk garasi, helm hanya kuletakkan sembarangan di meja kecil dekat garasi, meja mesin jahit, atau bahkan terkadang di atas rak sepatu yang sudah butut. Kalau cuma dua buah helm kepunyaanku sih bukan hal besar. Yang jadi masalah, masing-masing orang dewasa yang tinggal di rumah menggunakan kendaraan roda dua untuk mobilisasi harian. Jadi, ada enam sepeda motor di garasi, dengan sekitar sembilan buah helm. Kata tetanggaku, garasi rumah kami sudah mirip kayak showroom motor, karena saking banyak motor disana.

Selasa, 05 Agustus 2014

Dona Nobis Fortitudo (2)

20.01



LOKASI 
Tempat Doa dan Semadi Bukit Kendalisodo

Alamat: Glodogan, Harjosari, Bawen, Kab. Semarang 50661

Koordinat: 7° 13' 19.7" S 110° 24' 44.5" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




Masih sama seperti kunjunganku sebelumnya (baca ceritanya yang masih amburadul di sini), tempat ini tetap membuatku kelelahan. Sudah ketahuan kalau aku jarang sekali berolah raga, sehingga sudah hampir putus nafas menapaki tiap anak tangga menuju pelataran doa.

Perjalanan dari Jalan Raya Semarang- Bawen sudah banyak berubah. Selain jalan utama yang sudah dibeton dan dipasang kanstin (pembatas jalan) sehingga calon pengunjung dari arah Semarang harus memutar terlebih dahulu sebelum masuk gang, juga seingatku dulu pernah dipasang sebuah papan penunjuk jalan di sisi timur jalan berwarna ungu yang sekarang sudah tidak ada lagi.

Bon Voyage! Semarang - Jakarta Naik Kapal Perang

14.15

Menemukan SD Card lama, yang untung saja belum terformat. Sambil memeriksa apa saja isinya, aku menemukan beberapa foto lama.

Kembali ke tahun 2011, tepatnya Tanggal 3-4 September ketika kala itu aku harus melakukan perjalanan ke Jakarta dan tinggal di sana selama beberapa bulan untuk sebuah pekerjaan. Kebetulan masih H+3 Lebaran, dan seperti pada tiap tahun, tradisi lebaran di Indonesia tak lepas dari kegiatan sungkem dan merayakan bersama keluarga besar di kampung halaman masing-masing. Sebuah pergerakan besar-besaran dari kota besar, terutama Jakarta. Pun sebaliknya setelah lebaran. Di tahun itupun jalan utama menuju Jakarta sudah padat oleh kendaraan. Pasti tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau aku ikut bermacet ria di atas sadel motor. Masih mending kalau aku sudah paham rute jalan menuju Jakarta (walau sebenarnya cuma lurus saja mengikuti Pantura sih).