Selasa, 05 Agustus 2014

Bon Voyage! Semarang - Jakarta Naik Kapal Perang


Menemukan SD Card lama, yang untung saja belum terformat. Sambil memeriksa apa saja isinya, aku menemukan beberapa foto lama.

Kembali ke tahun 2011, tepatnya Tanggal 3-4 September ketika kala itu aku harus melakukan perjalanan ke Jakarta dan tinggal di sana selama beberapa bulan untuk sebuah pekerjaan. Kebetulan masih H+3 Lebaran, dan seperti pada tiap tahun, tradisi lebaran di Indonesia tak lepas dari kegiatan sungkem dan merayakan bersama keluarga besar di kampung halaman masing-masing. Sebuah pergerakan besar-besaran dari kota besar, terutama Jakarta. Pun sebaliknya setelah lebaran. Di tahun itupun jalan utama menuju Jakarta sudah padat oleh kendaraan. Pasti tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau aku ikut bermacet ria di atas sadel motor. Masih mending kalau aku sudah paham rute jalan menuju Jakarta (walau sebenarnya cuma lurus saja mengikuti Pantura sih).

Kebetulan pada beberapa hari sebelum lebaran ketika melihat acara berita di sebuah stasiun televisi lokal, ada liputan mudik gratis untuk masyarakat umum pengendara kendaraan roda 2 dan pengguna kendaraan umum pada tanggal 27 Agustus 2011 lalu.
Pokoknya bukan mobil.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan yang bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut. Tujuannya selain memfasilitasi para pemudik, juga memperkenalkan masyarakat kepada armada laut yang dimiliki oleh TNI AL kita.

Dalam siaran berita itu juga disebutkan bahwa akan ada balik ke Jakarta gratis menggunakan kapal yang sama yang akan diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

"Wah..harus cari infonya, nih!"

Seharusnya para pemudik (atau yang balik) tidak dikenakan biaya, alias gratis! Tapi, karena aku mendaftarkan melalui sebuah biro perjalanan, terpaksa terkena 'biaya administrasi' Rp 20.000. Tidak mahal untuk sebuah ongkos dari Semarang ke Jakarta sih ketimbang aku harus mengelurkan ongkos ketika harus naik motor sendiri, naik kereta api atau pesawat yang belum tentu masih kebagian tiket ke Jakarta.

Setelah menyiapkan dua lembar fotokopi STNK, KTP dan SIM (untuk berjaga-jaga) kalau ada syarat adminsitrasi lagi, aku sudah bersiap di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang beberapa jam sebelum keberangkatan. Maklum, takut ketinggalan kapal..hehe..

Kira-kira jam 11 siang kala itu, kami semua diberangkatkan.

bon voyage!



Beberapa fasilitas di dalam kapal perang itu sudah disediakan untuk kami semua, sekitar 600an penumpang dengan hampir 300 unit sepeda motor (sumber berita dari sini) berupa belasan kamar mandi dan makan gratis. Tentunya kami merasakan mandi di kamar mandi untuk para kadet, sebuah ruangan luas dengan beberapa shower untuk tiap bilik mandi yang dipisahkan dengan tirai plastik.
Para penumpang pria tidur di hangar tank, beralas koran, bersama motor-motor, sedangkan penumpang wanita, ibu-ibu dan anak-anak tidur di kamar tidur ABK.

Komandan kapal menyambut kami dengan hangat, tentunya sambil memberikan beberapa petunjuk dimana saja tempat yang tidak boleh kami datangi atau kegiatan apa saja yang tidak boleh kami lakukan.

Ternyata sudah ada entry mengenai kapal yang kami tumpangi, KRI Banjarmasin 592 ini di wikipedia:

KRI Banjarmasin (592) adalah kapal ke-3 jenis LPD yang dua kapal jenis ini sebelumnya dibuat di Daesun Shipbuildings & Engineering Co. LtdKorea Selatan, dan sekarang dibuat di PT. PAL IndonesiaSurabaya. Kapal ini dirancang sebagai kapal pendukung operasi amfibi, yang memiliki kemampuan mengangkut pasukan pendarat berikut kendaraan tempur beserta kelengkapannya. Kapal ini juga mampu mengangkut 5 buah helikopter (3 di geladak heli, 2 di hanggar). Selain sebagai kapal tempur, kapal yang berteknologi desain semi-siluman ini juga berfungsi untuk operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana alam.

Karena waktu itu aku masih menggunakan Nokia E63 dengan kualitas kamera ponsel yang 'seadanya' maka tidak ada foto-foto suasana di dalam hangar.

Dua hari dan satu malam lamanya kami terombang-ambing di Laut Jawa (halah) dan di Hari Minggunya aku naik ke geladak heli. Hanya ini saja foto yang dapat terselamatkan dan dianggap layak untuk dipublikasikan, dan waktu itu belum tren foto selfie seperti sekarang..hehe..





Ada sinyal di geladak, jadi aku bisa menelpon keluarga di rumah. Lumayan, bisa untuk hiburan, karena memang tidak ada yang bisa kami lakukan di dalam kapal. Terlalu lama nongkrong di geladak juga bisa membuat tidak sehat, karena terpaan angin laut yang kencang.

Hari Minggu siang, kapal merapat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Aku tidak terlalu ingat siapa pejabat yang menyambut kami kala itu, yang jelas kami semua sudah tiba dengan selamat di Jakarta dan bersiap melajutkan perjalanan ke tempat tujuan masing-masing.



Sebuah pengalaman perjalanan yang menyenangkan.

Jika Anda tertarik dan ingin mencoba merasakan sensasi mudik yang beda, mungkin dapat mengikuti program mudik dan balik Jakarta-Semarang gratis ini di lebaran tahun depan. Semoga saja pihak Kementerian Perhubungan masih mau menjalankan program ini tiap tahun, karena memang benar-benar dapat meringankan beban masyarakat yang menuju kampung halaman dan kembali lagi ke Jakarta.



Salam :)


NB: Gambar peta paling atas saya ambil dari Google Map dengan beberapa proses editing kreatif. Tentu saja di Samudra Hindia tidak ada naga.

Tidak ada komentar :