Jumat, 16 Januari 2015

nDherek Dewi Maria



LOKASI 
Gua Maria Sendang Pawitra, Tawangmangu

Alamat: Desa Sepanjang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah

Koordinat: 7° 41' 6.42" S 111° 7' 23.4" E



DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain



Hari belum terlalu siang ketika aku menyusuri jalan menuju obyek wisata Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Riding santai menyusuri tanjakan demi tanjakan lereng Gunung Lawu sambil menikmati segarnya udara pegunungan. Sesekali memperhatikan papan-papan petunjuk arah, siapa tahu aku melewatkan petunjuk arah menuju daerah Metesih.

Masih ingat betul aku isi BBM dari seorang teman umat Paroki St. Pius X, Karanganyar mengenai petunjuk arah menuju Gua Maria Tawangmangu ini.

"Polsek Tawangmangu ke kanan, arah Matesih. Ikuti jalan saja, nanti di kiri jalan ada petunjuk menuju Desa Sepanjang."

Gua Maria tujuanku ini memang masih masuk dalam lingkup Paroki St. Pius X, Karanganyar, jadi pasti umat parokinya paham betul rute menuju tempat ziarah ini.

Tapi, nampaknya aku salah jalan, karena Kantor Polsek Tawangmangu berada tepat di tanjakan menuju Pasar Tawangmangu dan tidak ada jalan ke kanan (asumsiku jalur yang dimaksud adalah tepat di seberang kantor polisi). Mungkin arahan rutenya terlalu global, mungkin juga ada persimpangan yang terlewati, atau papan petunjuk jalan yang tak terbaca. Yang pasti aku harus berhenti untuk bertanya. Sebenarnya enggan, tapi karena ancer-ancer yang menyebutkan kalau jalur yang harus kutempuh dekat dengan kantor polsek, mau tak mau berhenti juga di kantor polisi untuk bertanya arah Desa Sepanjang ini.


Benar juga dugaanku setelah aku diberikan petunjuk arah oleh beberapa orang di dalam kantor polisi. Ada sebuah persimpangan yang masuk dalam blind spot karena berada dalam jalur Huruf S. Persimpangan ini lebih jelas terlihat ketika aku berbalik arah dari Kantor Polsek Tawangmangu. Cukup dekat, kok. Mungkin sekitar seratus meter tepat di tikungan tajam ke kanan (dari arah atas) terdapat sebuah jalan lain, dan ternyata sebuah papan petunjuk arah menuju Gua Maria sudah terpasang dan berada di antara baliho-baliho produk motor.


Ikuti jalan saja, tapi bedanya kali ini harus lebih waspada karena jalan menurun dan terdapat beberapa tikungan tajam, sampai pada sebuah persimpangan dengan papan petunjuk lain. Kali ini masuk ke dalam jalan desa. Beberapa ratus meter hingga ada sebuah penunjuk jalan lain. Kali ini menujuk jalan masuk ke kiri sebuah gapura. Jalannya lebih sempit lagi. Mungkin hanya selebar mini bus.




Beberapa ratus meter menanjak, dan jalurpun makin terjal. Jalan aspal berubah menjadi jalan rabat beton licin karena berlumut. Kalau saja aku tak yakin waktu itu, pasti aku sudah terpeleset, jatuh dan masuk ke dalam jurang ketika akan melewati sebuah tikungan tajam yang menanjak. Tak bisa bayangkan bagaimana jika ada sebuah mini bus yang melewati jalur itu. Sebuah jalan rabat beton yang masih cukup baru bagai sebuah karpet kelabu mengantarku menuju sebuah desa.


Tak yakin apakah desa itu bernama Sepanjang, namun yang jelas sebuah papan penunjuk Gua Maria menyambutku. Langsung saja kuparkirkan Annette di sebuah tanah lapang di sebelah sebuah pos keamanan desa.


Sebuah tembok setinggi sekitar lima meter yang awalnya kukira sebuah calon rumah berada di sisi barat jalan masuk, rupanya sebuah tembok yang sedang dalam proses pembangunan yang nantinya berfungsi untuk 'melindungi' salib yang baru. Undakan dari beton dengan railing besi berdesain modern minimalis yang terlihat masih cukup baru menghantarkanku ke pelataran gua.




Sebuah gua buatan dari beton dengan lumut yang menempel di sana-sini. Sebuah ceruk besar di bagian bawah dengan sebuah altar batu berada di tengahnya. Secarik kertas yang dilaminating berisi peraturan pengunjung tertempel di sisi kiri. Patung Bunda dengan tangan terbuka dan berwajah sedih yang terbuat dari kuningan berada di bagian atas. Altar batu lain berada di tengah-tengah pelataran gua.





Entahlah, tapi bagiku ini semua terkesan dingin, selain karena suhu pegunungan yang beneran dingin.

Kolam kecil yang kering yang terbuat dari susunan batu berada di sisi kanan gua. Tiga buah pipa pralon berukuran ¾" tersembul keluar kolam.

Karena Gua Maria ini berada di sebuah tebing, maka tidak bisa dibuat pelataran yang lebih lebar lagi. Bangunannya harus menyesuaikan kontur tebing agar efektif, efisien dan aman. Di bawah kolam terdapat sebuah pos perhentian jalan salib pertama, selanjutnya pos-pos perhentian jalan salib diletakkan melingkar di batas lahan milik Gua Maria. Belum ada jalan setapak yang dibuat khusus untuk jalan salib. Semuanya masih murni jalan tanah berumput.







Di bawah pelataran gua terdapat undakan lagi ke bawah menuju sebuah bangunan terbuka bercat putih beratap joglo. Beberapa kertas yang sudah dilaminating berisi foto-foto pudar kegiatan peziarah ditempel di beberapa tiang-tiang kolom bangunan. Aku enggan masuk ke dalam rumah joglo itu karena...

Ah..pokoknya enggak deh..


Setelah berjalan mengitari kompleks ziarah ini, aku kembali ke pelataran gua. Aku duduk di salah satu dari dua buah bangku dari beton bercact merah terdapat di ujung pelataran. Menikmati keheningan diantara dinginnya udara pegunungan.

"Monggo, Mas. Ada yang bisa dibantu?"
Sebuah suara dari seorang wanita paruh baya mengagetkanku. Kukira tempat itu sepi, ternyata sedari datang sudah ada beberapa orang yang memperhatikan gerak-gerikku dari kejauhan.

"Saya Bu Narto." Sapa beliau, "Kebetulan bapak sedang kurang enak badan, jadi nggak bisa menemui disini."
Ditemani seorang cucu laki-lakinya yang malu-malu (atau takut?) dan kadang menyembunyikan wajah kecilnya di balik punggung sang nenek, sambil meletakkan sebuah kotak sumbangan gua dan sebuah buku tamu di depan altar beliau menanyakan nama dan tempat asalku.


Tak heran kalau pertanyaan beliau padaku setengah menyelidik, mungkin juga sebagai antisipasi kalau aku ini hendak berniat buruk pada tempat ziarah yang tengah dalam proses renovasi setelah kejadian kelam tahun 2011 lalu.
Aku masih ingat betul di medio Desember tahun 2011 lalu, waktu itu pertama kali punya benda 'canggih' bernama BlackBerry dan dapat Broadcast Message (BM) yang isinya minta doa karena telah terjadi perusakan Gua Maria Tawangmangu ini. Repotnya, pada BM itu diberikan tambahan berita bohong, yaitu ada imam yang terluka hingga kritis karena menjadi korban penyerangan sekelompok orang. Yang benar (menurut berita resmi yang sudah dirilis beberapa media), memang telah terjadi perusakan di dalam kompleks Gua Maria, yang dilakukan pada malam hari. Tidak ada kegiatan kerohanian waktu itu, jadi sama sekali tidak ada korban. Patung Sang Bunda dipenggal, beberapa patung malaikat dan bejana suci dihancurkan dan salib milenium diambil.

Tentu saja karena sang suami, Pak Narto, merupakan tokoh desa yang ditunjuk sebagai pengurus Gua Maria. Walau berasal dari keluarga muslim (faktanya, seluruh desa merupakan warga muslim!), tentu keluarga ini tidak mau 'kecolongan' dengan adanya kejadian serupa untuk kedua kalinya yang bagi sebagian pihak dinilai mencoreng keutuhan kehidupan keberagaman yang sudah lama terjalin.

Setelah mengalirkan air dari reservoir sendang, mereka berdua meninggalkanku di depan gua, memberikan kesempatan untuk hening. Mengambil air yang kini sudah mengalir keluar pipa untuk mencuci wajah dan memasukkan ke dalam sebuah botol. Baru belakangan aku tahu kalau air dari sendang itu belum disucikan. Tapi, sudahlah. Toh, aku sudah meminta agar air yang kuambil itu semoga dapat jadi sarana penyalur berkat.



Membuka buku tamu tadi, di halaman pertama peziarah pertama mencatatkan diri pada tahun 2012. Mungkin ini buku tamu edisi kesekian, karena sesuai cerita sejarah, Gua Maria ini sudah ada sejak tahun 1984. Sendang berarti 'mata air' yang merujuk pada mata air yang berada dekat gua, dan Pawitra berarti 'tempat penyucian'. Menggali lagi informasi kepada para pengurus gua baik via SMS maupun obrolan WhatsApp Messenger, ternyata sejak kejadian tahun 2011 lalu, jumlah peziarah mengalami peningkatan cukup berarti. Hal tersebut berdampak pada meningkatnya jumlah dana sumbangan, selain sumbangan besar dari seorang desainer terkenal untuk pembangunan tempat ziarah ini. Kejadian di tahun 2011 itu tidak membuat iman akan Tuhan menjadi kerdil, namun semuanya tetap setia ikut Tuhan lewat perantara Bunda Maria. Ndherek Dewi Maria.


Kalau aku tidak salah ingat, Bu Narto menyebutkan kalau pada minggu pertama tiap bulan selalu diadakan Perayaan Ekaristi pada pukul 10:00, dan mulai Bulan Februari 2015 akan diadakan novena di minggu yang sama.

Kira-kira jam satu siang ketika kabut tipis mulai turun, dan aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.

Jika Anda berminat berziarah menuju Gua Maria Sendang Pawitra, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini, dapat melalui jalur Surakarta – Karanganyar – Tawangmangu. Sebelum Kantor Polsek Tawangmangu terdapat jalan menurun ke kanan. Ikuti jalur sesuai foto-foto tadi.
Tidak jadi soal kalau Anda ingin mengunjungi tempat ini menggunakan kendaraan pribadi atau rombongan. Terlebih jika Anda menggunakan perangkat GPS, akan lebih mudah dengan mengunci koordinat seperti yang tercantum dalam tiap foto atau dalam gambar peta di bawah ini.


Kalau ingin berkunjung menggunakan moda transportasi umum, dari Karanganyar Anda dapat turun di Pasar Tawangmangu dan meneruskan perjalanan menggunakan jasa ojek motor, karena saya tidak bertemu dengan angkutan desa menuju gang lokasi. Toh, kalaupun ada angkutan desa, Anda akan harus tetap menyewa jasa ojek motor untuk dapat sampai ke lokasi.
Jika ingin menginap, live-in, atau sekedar mendapatkan jamuan makan jika rombongan, Anda dapat menghubungi nomor telepon pengurus Gua Maria seperti tercantum di foto.





Salam, doa dan Berkah Dalem :)

2 komentar :

Anonim mengatakan...

Terimakasih untuk kunjungannya ke Gua Maria Bunda Allah Sendang Pawitra Tawangmangu. Perlu kami koreksi bahwasanya kompleks Gua Maria Bunda Allah Sendang pawitra termasuk kolam sendang airnya dan stasi-stasi jalan salib sudah disucikan kembali oleh Bapa Uskup Agung J. Pujasumarta (Alm) pada bulan Februari tahun 2012. Untuk joglonya memang agak sedikit kotor karena joblonya belum sempat di renovasi sampai sekarang. jadi kami minta maaf bilamana fasilitas joglo tersebut masih kurang memadai. Pelan-pelan kami akan memikirkan untuk lebih merapihkan kompleks Gua Maria tersebut. Salam dan doa. Berkah Dalem.

vinceney mengatakan...

Terimakasih atas tambahan informasi yang sudah Bapak/ Ibu berikan berkaitan dengan tulisah saya tersebut. Semoga kita semua dapat saling membahu menjaga kekayaan gereja katolik sebagai kekayaan iman Kristiani.

Berkah Dalem :)