Senin, 26 Januari 2015

Rumah Bunda Maria Annai Velangkani - Dari Penjala Ikan Menjadi Penjala Manusia



LOKASI 
Rumah Bunda Maria Annai Velangkani, Rembang


Alamat: Kampung Nelayan, Kec. Pacar, Kab. Rembang, Jawa Tengah


Koordinat: 6° 42' 3.6" S 111° 19' 26.4" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




Entah sebuah kebetulan, hari dimana aku mendatangi tempat ini memiliki bacaan Injil yang hampir sesuai, dimana diceritakan Yesus yang sedang berjalan menyusur Danau Galilea dan melihat calon murid-murid-Nya sedang menebarkan jala dan ada pula yang sedang membereskan jala di dalam perahu (bdk. Mrk 1: 14-20). 

Kenapa kok dibilang hampir sesuai? Karena tempat yang kudatangi ini merupakan stasi nelayan di Kabupaten Rembang. Sebuah stasi yang berlindung pada Santo Yakobus Rasul. Sebuah stasi dengan kapel kecil yang berada di tengah perkampungan nelayan, para penjala ikan, sama seperti pekerjaan sebagian besar para rasul sebelum menjadi murid-murid Yesus.

Nama daerah ini unik: Pacar. Berada di sebelah barat Kota Rembang, Jawa Tengah. 

Walau hanya berjarak sekitar sepuluh kilometer dari paroki, tapi umat stasi ini memiliki geliat tersendiri. Kapel stasi juga tak pernah sepi dari umat.



Rumah Bunda Maria Annai Velangkani sendiri bukan gua merupakan sebuah bangku panjang di depan patung Bunda Maria yang sedang menggendong bayi Yesus, dan digambarkan sesuai dalam Kitab Wahyu (Why 12:1) yang berada di pelataran kapel. Pakaiannya digambarkan berkilau-kilau karena terbuat dari emas. Uniknya, Sang Bunda memakai kain sari khas India.

Kenapa?

Sejarahnya pada penampakan Bunda Maria pada abad ke-16, ketika seorang ibu (annai) yang disembuhkan penyakitnya oleh Bunda Maria di desa Velangkanni yang terletak di pesisir selatan India. Oleh karena itu, Gua Maria di India tersebut dinamakan "Lourdes Timur". Tempat ziarah Maria Annai Velangkanni terletak di selatan kota Madras, di pantai Teluk Benggala, tenggara India. Di sini, Ibu Maria diberi gelar Bunda Penyembuh. Tempat ini mulai dikenal sejak sekitar akhir abad ke-16. Penampakan yang terjadi di sini sudah mendapat pengakuan dari Gereja Katolik.

Pantas saja kucari arti dan sejarah nama Maria Annai Velangkani di doakatolik.com tidak ketemu, karena nama itu merupakan nama sebutan saja.

Pada awalnya agak susah menemukan tempat ini. Terlebih ketika masuk ke dalam perkampungan nelayan. Yang kutahu, para nelayan terbiasa hidup keras, dan walau sedikit pasti berpengaruh pada kehidupan keseharian mereka. Yang kutakutkan ketika aku berhenti bertanya pada warga sekitar, lalu ada tanggapan negatif karena sentimen tertentu terhadap agama. Tapi, kucoba saja. Masuk dalam sebuah gang yang hanya cukup dilalui oleh satu unit mobil, dan oops ternyata aku salah jalan. Di depan sana sudah laut lepas. Jejeran perahu-perahu nelayan di laut biru jadi pemandangan memukai tersendiri bagiku. Tak setiap hari aku melihat yang seperti itu. Di ujung gang itu dibuat untuk kegiatan para nelayan. Sebuah tempat untuk membersihkan dan membereskan jala. Tentunya aroma amis mulai semerbak disana.

Baiklah, sangat mustahil ada kapel dan Gua Maria (begitu informasi awal yang kudapat dari koster paroki) berada di tengah-tengah tempat kegiatan nelayan, apalagi berada di bibir dermaga. Sedikit lagi aku maju atau salah langkah, bisa nyebur ke laut berdua sama Annette. Kan jadi nggak lucu nih. 

Berhenti di depan sebuah rumah berdinding keramik warna hijau itu dipasang berbagai lukisan kaligrafi arab di dinding bagian atasnya, aku mencoba untuk bertanya letak gereja.

"Kalau gereja di sini nggak ada mas, adanya kapel." Sahut seorang wanita muda yang sedang asyik menikmati santapan paginya di depan rumah.

Wuih..ternyata warga ngerti juga bedanya gereja dan kapel.

"Tuh, sampeyan balik lagi aja, sampai perempatan belok ke kanan, nanti kapelnya ada di kiri." Katanya sambil menunjuk pada perempatan di sebelah selatan tempat kami berdiri.

Baiklah, mengikuti petunjuk jalan tadi, sampailah aku pada tempat yang dimaksud.

Sebuah bangunan yang terlihat masih baru. Dindingnya bercat kuning lemon dan putih, dengan sebuah pagar besi BRC yang tak terkunci. Tidak ada menara dengan salib di atasnya, namun sebuah tembok tinggi dengan ornamen pelat besi (atau kayu kurang jelas aku melihat dari bawah) berbentuk salib. Model arsitektur modern-minimalis yang cukup "menyamarkan" bentuk salib di atas bangunan. Di sebelah barat kapel terdapat sebuah lahan kosong tanpa atap. 



Bertanya (sebenarnya lebih pada 'meninggalkan jejak' agar tidak dicurigai sebagai orang jahat) pada penduduk sekitar, akhirnya aku bisa masuk ke dalam kapel. 

Pelataran kapel tidak terlalu luas, mungkin hanya berukuran sekitar lima puluh meter persegi. Sebuah sketsel kayu sengaja diletakkan tepat di balik pintu gerbang. Setelah aku masuk, barulah aku tahu untuk apa sketsel itu diletakkan di sana.


Sebuah patung Bunda Maria terletak di dinding tepat berseberangan dengan sketsel dan pagar. Mungkin kalau tidak ada sketsel, patung ini bisa langsung terlihat dari luar pagar. Patung ini diletakkan pada sebuah pasangan batu-batu karang dengan dua buah lilin besar yang padam di kedua sisinya. Sebuah bangku kecil diletakkan di depan patung.

Kapel ini berada satu kompleks dengan sebuah Sekolah Taman Kanak-Kanak bernama Pamong Putra. Tentunya milik Yayasan Katolik. 


Di dinding samping belakang patung terdapat dua buah keran air. Sebuah papan petunjuk berada tak jauh dari keran air itu. "Air Suci" tulisannya. 




Sayang, aku tidak membawa botol kosong atau wadah air lain untuk membawa air yang sudah disucikan itu ke rumah. Tapi, tak mengapa. Airnya cukup segar ketika kugunakan membasuh wajah, dan tawar ketika kuminum.

Warga sekitar tadi sudah memberitahu kalau pengurus kapel (sebut saja seperti itu) sedang berada di dalam kompleks kapel itu. Namanya Pak Edi. Seorang lelaki paruh baya. Garis mukanya keras. Kukira dia seorang nelayan, namun ternyata bukan. Siang itu beliau sedang sibuk menjemur Alba, Kasula, Stola dan beberapa peralatan misa berupa Purifikatorium dan Corporale.




"Maaf, ya. Saya sambil menjemur." Jawabnya singkat setelah aku memperkenalkan diri dan memberitahu maksud kedatanganku.

"Barusan juga ada tamu dari Kudus. Yang datang ke sini macem-macem, mas. Nggak cuma dari Rembang aja." Katanya lagi sambil mengerjakan pekerjaannya.

Walau Rumah Bunda ini baru diresmikan awal Bulan September tahun 2014 lalu, namun seperti yang sudah ditulis di awal, geliat umat stasi ini tak kalah dengan paroki. Mulai Bulan Oktober 2014 hingga Januari 2015 setiap tanggal 1 hingga 9 pukul 10 malam diadakan novena dengan ujub tertentu tiap bulannya.



Novena selama sembilan hari berturut-turut selalu ramai. Tak hanya orang tua, tapi orang muda dan anak-anak sangat antusias mengikuti novena. 

"Kurang lebih ada seratusan warga di Stasi Pacar ini, dari 44 Kepala Keluarga yang beragama Katolik." Tambah Pak Edi.

"Kemarin juga barusaja ada misa tiga malam berturut-turut. Kamis malam, Jumat malam dan tadi malam (Sabtu malam). Hari minggu tidak ada misa." Imbuhnya lagi.

Ketika kutanya triduum diadakan dalam rangka apa, beliau tidak bisa menjawab. Yang beliau tahu bahwa Romo Wid selalu ada untuk memimpin misa dan mendampingi iman umat Stasi Pacar ini.

Aku juga memberanikan diri bertanya tentang sikap warga sekitar tentang keberadaan kapel serta seluruh aktivitasnya.

"Waah..di sini sih Nasionalis semua, mas. Pokoknya aman. Nggak ada yang mengganggu atau rese sama kapel." Jawabnya bangga.

Sungguh kondisi yang cukup berlawanan ketika aku hidup dan menggereja di Stasi Kragan, ujung timur Kabupaten Rembang yang pada tahun 1998 lalu tak luput dari korban kerusuhan berkedok SARA. Cukup baik kurasa jika aku dapat mendapatkan cerita itu dan membagikannya sebagai salah satu sharing iman. Hal yang sedang kuusahakan hingga saat ini.

Stasi Pacar sendiri kuanggap menarik karena - menurut pandanganku - stasi nelayan ini 'ditugaskan' dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Melalui kapel dan Rumah Bunda serta berbagai kegiatan umatnya, dan ketika umat Katolik berbaur dalam kehidupan bermasyarakat diharapkan dapat membawa sebuah warna baru. Karena di zaman modern sekarang ini mewartakan Kristus tidak lagi harus berteriak-teriak di pinggir jalan, atau datang ke rumah-rumah orang yang belum mengenal Kristus, namun dari karya dan tindakan nyata para pengikut-Nya kepada orang lain.

Datanglah untuk berdoa dan memohon secara tulus. Air yang sudah disucikan bisa digunakan sebagai media doa agar rahmat Tuhan dapat turun melalui air itu, bukan sebagai media untuk menduakan Tuhan. Kebanyakan orang lebih percaya pada air yang ada pada tempat-tempat ziarah ketimbang pada karya Tuhan yang terjadi pada hidup mereka, meskipun beberapa peziarah telah sembuh dari penyakitnya setelah minum atau menggunakan air ini.

Dalam tulisan ini aku sengaja tidak memberikan petunjuk arah yang jelas, tidak sama seperti ulasan tempat ziarah lain. Walau menurut keterangan Pak Edi suasana di Pacar cukup kondusif, namun hal ini bertujuan untuk 'melindungi' tempat ini, sampai pada saatnya boleh dipublikasikan secara luas.





Salam, Hormat dan Berkah Dalem :)

Tidak ada komentar :