Kamis, 15 Januari 2015

SH*T HAPPENS!*) STOP MODIFIKASI NGGAK JELAS!

Walaupun kita tidak terlalu peduli dengan dunia otomotif, pasti tetap ingin membuat tunggangan jadi nyaman dan keren, bukan? Apalagi kalau kendaraan itu selalu kita gunakan untuk menunjang mobilitas harian. Bangga rasanya menunggangi kendaraan dengan tingkat keamanan dan kenyamanan, apalagi jika bisa membuat decak kagum orang-orang di sekitar kita dengan tampilannya yang menarik.

Beberapa dari kita yang malas atau enggan untuk coba-coba hal baru lebih memilih jalur aman dengan mengintip hasil modifikasi kendaraan lain, baik ketika bertemu secara langsung maupun hanya melihat gambar dari internet atau media cetak. Logikanya sih, semakin banyak modifikasi itu digunakan, jadi semakin terjamin tingkat keamanan dan kenyamanannya.

Tapi, hati-hati jika mau memodifikasi kendaraan, terlebih jika Anda menggunakan suku cadang oplosan milik pabrikan lain pada kendaraan Anda, bahkan jika modifikasi itu belum pernah dicoba kelayakannya. Alih-alih jadi aman dan nyaman, benda-benda yang disematkan dalam kendaraan itu justru dapat mengancam keselamatan kita loh.

Sama seperti yang saya alami berikut ini.



Jadi begini ceritanya. Kira-kira satu tahun lalu dalam perjalanan pulang Jamnas V Prides tanggal 3 November 2013 (baca ceritanya di sini ya sob), aku merasakan rantai Annette yang sudah nggak nyaman dipakai. Dorceng, kendor-kenceng, istilah untuk rantai yang sudah mengalami dilatasi tak seragam sehingga selain menyebabkan bunyi karena rantai kendur yang beradu dengan arm juga menyebabkan akselerasi yang tidak maksimal.

Kok rantai udah dorceng? Padahal baru sekitar tiga bulan ganti gear set baru loh.
Yah, memang baru sekitar tiga bulan sebelumnya aku ganti satu set gir dan rantai untuk Annette, tapi berhubung saat itu stok gear set orisinil masih kosong, terpaksalah beli barang vendor. Barang vendor merupakan istilah yang diberikan para pedagang suku cadang untuk menunjuk pada barang-barang dengan mutu dibawah suku cadang orisinil dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang produk yang resmi digunakan Bajaj sebagai suku cadang produk mereka.

Ada harga ada rupa.

Iya siiih...makanya baru tiga bulan rantai motor sudah mengalami kasus seperti itu. Kalau dilihat kondisi gir masih bagus sih. Harus ganti rantai aja atau satu gear set lagi? Walau harga produk vendor ini jauh lebih murah, tapi kalau tiap caturwulan harus ganti, sama aja bohong, kan? Ditambah jarum timbangan yang sudah semakin bergeser ke kanan dari angka 80 kg, motor ber-box dengan muatan yang kadang berlebihan. Cara pembawaan alias riding style-ku yang masih suka seenaknya juga bakal mempengaruhi keawetan rantai. Klop deh semuanya.
Masuk bengkel langganan (waktu itu) karena kebetulan harus turun mesin buat ganti camshaft dan rantai keteng (sebagian orang menyebutnya rantai kamrat atau cam chain) yang membuat suara mesin berisik gak karuan, pemilik sekaligus kepala mekanik menawarkan jasa untuk membuatkan gear set spesial dengan pelat setebal 7mm yang diukur dan dibubut sendiri dan bisa disesuaikan dengan rasio gir kendaraan kita. Rantai yang digunakan juga spesial untuk bisa muat di gir yang dibuat dengan pelat setebal itu. Dia menggunakan jenis rantai yang biasa digunakan dalam alat-alat industri. Tebal dan besar!

Lima tahun klaim (bukan garansi) yang diberikan untuk produknya itu. Harganya? Wow..Jangan ditanya, deh! Melebihi harga gir set pabrikan besar dengan inisial SNB, dengan imbuhan huruf i dan no. Halah, kesebut juga namanya.

Terlebih saat itu aku termakan isu negatif kalau produk yang tersebut itu menggunakan barang-barang limbah, langsung saja aku amini tawaran pembuatan gear set fenomenal itu! (apaan sih? Lebay deh..) Dengan bayangan selama 5 tahun aku akan terbebas dari pengeluaran untuk pembelian komponen pemindah langkah gearbox ke roda belakang itu, pasti bakal lebih mantab, kan!

Dua minggu proses pengerjaan, dan eng..ing..eeeng..

Sebuah gearset besar sudah nemplok di kaki-kaki Annette.

Keren? Iya!

Bangga? Iya!

Buat pamer? Iya banget!

Oke, selama hampir enam bulan pertama semua masih baik-baik saja. Hingga setelah melewati bulan keenam, rantai sudah mengalami dilatasi. Nah lo! Padahal aku juga rutin melakukan perawatan dengan menyemprotkan pelumas untuk rantai dengan kualitas terbaik (kata tulisan di botolnya). Sampai suatu sore sepulang kerja rantaiku terlepas dari gir karena terlalu kendur. Anggap saja waktu itu aku lalai mengecek kekencangan rantai. Untung bisa langsung diperbaiki dan disetting ulang kekencangannya. Beberapa minggu setelahnya rantai sudah kendur lagi, padahal posisi as roda belakang sudah mentok ke belakang.

Dari sini aku sudah mulai kelabakan. Betapa tidak? Rantai yang kupakai itu sama sekali tidak dijual di toko-toko onderdil umum melainkan di toko-toko yang menyediakan alat-alat industri. Solusi pertama adalah potong rantai, walaupun cara ini sama sekali tidak dianjurkan pada rantai motor yang sudah mengalami kasus dorceng.

Ketakutanku bertambah ketika mendadak aku mendapat pemindahan tugas ke luar kota. Nekat menggunakan rantai lama karena tidak ada waktu untuk mengganti dengan rantai baru, aku berangkat ke tempat baru. Belum genap dua bulan kasus itu kembali terjadi, yaitu ketika aku berkendara menuju tempat kos sepulang kerja. Kira-kira jam satu dini hari waktu itu ketika tiba-tiba rantai kembali lepas dari gir, namun kali ini posisi rantai terjepit di lengan ayun. Dibantu beberapa orang yang lewat tengah malam itu, akhirnya aku bisa kembali ke kos dengan cara towing kaki. Kalau di kota besar saja susah mendapatkan rantai dengan ukuran itu, apalagi di sebuah kecamatan kecil. Memang aku masih punya cadangan rantai di rumah.

Pilihannya, aku meninggalkan pekerjaan yang sedang padat untuk kembali ke Semarang demi membawa rantai, atau mengganti dengan gir set seadanya dulu. Kebetulan saat itu girset orisinil maupun vendor untuk UG4 sedang kosong di Semarang.

Yang penting bisa jalan.

Seperti itu saran teman-teman dalam percakapan grup WhatsApp ketika aku menceritakan 'berkah' yang kualami. Oke, masuk akal juga. Apalagi melihat kondisi gir yang sudah lancip akan jadi percuma kalau aku jauh-jauh pulang dan kembali lagi.




Nah lo..katanya awet selama lima tahun? Kok baru setahun sudah lancip?

Menghubungi sang pembuat gir set, alih-alih memberikan solusi, justru kalimat-kalimat menyudutkan yang kuterima. Katanya selama ini aku salah pakai pelumas rantai, karena pelumas yang ada di pasaran hanya akan membuat rantai jadi kering. Yang benar menggunakan oli mesin (SAE 80 atau 90) sebagai pelumas rantai agar tak hanya rantai, namun juga gir selalu awet.
Beruntung, aku tipe orang yang malas untuk berdebat, terlebih jika orang yang kuajak berdebat merasa diri paling punya ilmu di dunia.

"Misi" selanjutnya adalah mencari kombinasi gir yang sesuai dengan rasio gir orisinil Bajaj Pulsar UG4 yaitu 14/39. Bolak-balik masuk toko onderdil sampai ke kecamatan seberang untuk mendapatkan girset yang memiliki rasio hampir mendekati. Beberapa teman juga menyarankan untuk menggunakan rantai ukuran 428 saja, karena kalau-kalau ada kendala setelah aku pasang, masih lebih mudah mendapatkan rantai ukuran 428 di toko onderdil di desa sekalipun. Akhirnya sebuah girset milik Honda GL100 dengan rasio 15/39 dan rantai 428 milik indopart yang kupilih, setelah sebelumnya berbelanja beberapa kombinasi girset milik cub (motor bebek) yang ternyata walaupun mempunyai jumlah mata yang sama, namun tidak cocok di dudukan gir roda belakang Annette. Total biaya untuk belanja sekitar Rp 200.000,-. Sebuah total biaya yang cukup besar hanya untuk sebuah percobaan sementara.

Sementara? Iya sementara saja agar Annette bisa kupakai untuk aktivitas. Harga percobaan yang jauh lebih mahal dibanding untuk sebuah girset vendor UG4.




Sudah? Sampai di situ saja?

Meski Annette sudah bisa diajak jalan sampai Semarang tanpa kendala berarti menggunakan girset yang baru terpasang, tapi masih was-was juga dengan girset sementara itu.
Karena memang niatku girset ini hanya bersifat sementara dan mendesak, aku harus sesegera mungkin mengganti dengan girset yang lebih layak.

Pilihan jatuh pada SINNOB. Anggap saja aku sudah terlalu frustasi memilih dan tidak lagi menggubris berita negatif yang beredar tentang produk ini. Produk yang sama dipakai sebagai sponsor perjalanan berkendara menikmati tujuh danau di Pulau Sumatera dalam ekspedisi Sap7aranu, menjajal kejamnya tanah Kalimantan dalam Round The Borneo, yang dibenamkan dalam motor TVS Apache RTR, belum lagi perjalanan ASEAN dan Indonesia timur oleh Mario Iroth (dan Lilis) dalam Wheel Story dengan Kawasaki KLX 250 dan Benelli Phyton. Untuk pemakaian harian juga sudah banyak Pulsar yang menggunakan produk ini.






Yowis, rogoh kocek lebih dalam lagi. Harapannya sih semoga worth for value. Menebus sebuah girset SINNOB warna silver dengan Rp 605.000,-. Kemahalan? Sebenernya aku ngerti harga pasarannya sih, tapi berhubung nitip ke temen, yaaa..kasih duit bensin lah :)

Langsung aja girset sementaranya dicopot dan pasang yang baru di Annette.




Kesannya tulisan ini jadi kayak jelekin produk vendor, mekanik dengan barang ciptaannya dan promosiin produk tertentu ya? Padahal tidak ada endorsement dari produsen terkait. Kalau dirunut, anggap saja kerusakan terjadi karena kelalaian saya sendiri sebagai pemilik dan pengendara. Bisa juga dijadikan sebuah masukan buat Anda, seperti yang sudah saya tulis di awal, kalau modifikasi dilakukan untuk menambah tingkat keamanan dan kenyamanan berkendara, bukan justru sebaliknya cuma bikin repot kalau ada kerusakan.

Cuma modifikator awal yang bisa benerin karena pakai cara 'rahasia'. Itu kan repot apalagi pada orang dengan mobilitas tinggi karena pekerjaan seperti saya ini. Ketika terjadi trouble sedangkan Anda berada di kota lain yang berjarak hampir 200 km, terus mesti gimana?


Pesan moralnya: kalau mau modifikasi kendaraan lebih baik jangan yang neko-neko atau pastikan dulu kualitas barang dan ketersediaan suku cadangnya kalau-kalau Anda mengalami gangguan akibat modifikasi agar tidak akan celaka.



Salam :)





*) Shit Happens, diambil dari sebuah frase dalam dialog film berjudul Forrest Gump (1994), yang kurang lebih artinya adalah sebuah peristiwa yang menimpa tanpa diduga.


Pictures Courtesy (ies) are taken from their web page/ facebook pages: sap7aranu, Wheel Story Adventure, Round The Borneo, Sinnob Sprocket Gear.

Tidak ada komentar :