Senin, 23 Februari 2015

Aku Bersyukur Karena...

15.35

LOKASI
Gua Maria Ngaliyan, Semarang

Alamat: Jl. Wismasari Selatan 5, Ngaliyan, Kota Semarang (Belakang Gereja Katolik Santo Henricus, Ngaliyan)

Koordinat: 7° 0' 0" S 111° 20' 48" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain.






Lokasi ini terletak di belakang kompleks Panti Asuhan Wikrama Putra Ngaliyan (baca di sini).
Tempat ini berada di belakang (selatan) Pasar Ngaliyan, tepatnya di Jl. Wismasari Selatan. Anda dapat menuju Gereja St. Henrikus Ngaliyan, atau berhenti di panti asuhan.

Kenapa judulnya seperti itu?

Yah, jujur saja, setelah mengunjungi anak-anak panti asuhan itu aku merasa selama ini jarang bersyukur. Baik syukur atas hidup maupun syukur atas keluarga. Karena memang anak-anak yang memiliki kerajaan Surga (bdk. Mat. 19:13-15) dan dari anak-anak itulah pikiranku menjadi terbuka akan rasa syukur.

Kunjungan ke Panti Asuhan Wikrama Putra, Ngaliyan

14.54

Sebenarnya ada agenda lain, tapi setibanya di sini, tiba-tiba aku merasa iba juga dengan para penghuni panti.
Panti asuhan ini didirikan pada tahun 1967 oleh seorang pastor (pemimpin agama Katolik) dari Belanda yang berkarya di Kota Semarang, yang merasa iba karena melihat anak-anak di Kota Semarang yang terlantar waktu itu karena orang tua mereka menjadi tahanan politik atas pemberontakan G30S/ PKI.

Meski demikian, panti asuhan yang dikemudian hari bernama 'Wikrama Putra' dengan yayasan yang bernama sama, bukan merupakan panti asuhan dan Yayasan Katolik.

"Kami adalah yayasan umum, tapi semua pengurus beragama Katolik." Kata Bu Untung, pemilik yayasan.

Beliau sudah mengurus anak-anak di panti itu sejak tahun 1967, sedangkan Pak Untung, sang suami, sudah mengurus anak-anak di panti itu sejak tahun 1961.

"Bapak sudah disuruh mengurus panti asuhan sejak masih SMA karena kakaknya, Romo Gondo, jadi pastor." Kenang bu Untung.

"Saya baru seratus persen bergabung di tahun 1967 sewaktu permohonan pindah kerja ke Semarang dikabulkan." Kata wanita yang sudah berusia lebih dari separuh abad itu.

Karena semua pengurus merupakan umat Katolik, maka pendidikan moral anak diajarkan sesuai ajaran Katolik.

Sang Ratu Tyasing Kautaman

13.43

LOKASI 
Gua Maria Sartika (Sang Ratu Tyasing Kautaman), Semarang


Alamat: Jl. Dewi Sartika, Sukorejo, Sampangan, Kota Semarang


Koordinat: 7° 1' 14.20" S, 110° 23' 4.24" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik. 
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain


Sudah sejak dari awal kuliah sekitar tahun 2003 atau 2004 aku sudah mendengar tentang keberadaan tempat ini. Kebetulan taman doa ini berada hanya beberapa kilometer jaraknya dari kampus almamaterku. Jika diperhatikan dengan seksama, tempat ini terlihat dari pinggir jalan karena memang berada di lereng perbukitan. Namun dulu hanya berbentuk gua sederhana dengan patung Bunda Maria di dalamnya yang membuatku masih enggan untuk berkunjung. Hanya beberapa tahun terakhir saja ketika mendengar bahwa tempat ini sudah dipercantik maka membuatku ingin berkunjung :D

Berada di lereng bukit di bilangan Jalan Dewi Sartika Barat Semarang, sudah sejak tahun 1995 umat Lingkungan St. Agustinus Sukorejo (dulunya bernama Lingkungan Tugu Suharto II) mendambakan memiliki tempat untuk sekedar berkumpul untuk sekedar berbagi atau memperdalam iman. Tanah pemberian keluarga Bapak Subarno ini rencananya hendak dijadikan kapel, namun karena masih banyak umat lingkungan yang tingkat perekonomiannya masih cukup rendah membuat rencana pembuatan kapel ini urung dilaksanakan.

Bunga Mawar dan Keheningan Biara

11.43

LOKASI 
Gua Mawar, Boyolali


Alamat: Dukuh Munggur, Kec. Musuk, Boyolali, Jawa Tengah


Koordinat: 7° 32' 31.776" S 110° 31' 59.424" E



Pertapaan Bunda Pemersatu, Gedono, Salatiga

Alamat: Dukuh Weru, Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang,

Koordinat:  7° 24' 17.6" S 110° 28' 12.6" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik. 
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




Awan gelap di langit selatan Kota Semarang tak menyurutkan niatku untuk melakukan perjalanan.
Mumpung libur.
Karena hari itu memang bertepatan dengan libur Tahun Baru Imlek 2566, terlebih karena memang aku tidak merayakannya dan tak ada gunanya hanya berdiam diri di rumah.

Meninggalkan Kota Semarang kira-kira jam sepuluh pagi untuk menuju Kota Boyolali. Tujuan utamaku memang Gua Mawar Maria Boyolali yang merupakan kali kedua kunjunganku setelah yang pertama tahun lalu (baca di sini).

Dan, benar saja, belum sampai meninggalkan Ungaran, aku sudah berkendara dalam hujan walau ternyata hanya beberapa ratus meter kedepan saja. Beberapa kali aku sempat lepas-pakai raincoat karena hujan yang kadang turun, terkadang pula reda.

Kamis, 05 Februari 2015

Explore Semarang: ke Barat Semarang Naik BRT

14.11

Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia sesudah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Sebagai salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2 juta jiwa dan siang hari bisa mencapai 2,5 juta jiwa. Bahkan, Area Metropolitan Kedungsapur (Kendal - Demak - Ungaran - Salatiga - Purwodadi) dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat keempat, setelah Jabodetabek (Jakarta), Gerbangkertosusilo (Surabaya), dan Bandung Raya. Sayangnya, pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin macet.
Kota ini terletak sekitar 558 km sebelah timur Jakarta, atau 512 km sebelah barat Surabaya. Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat.Luas Kota 373.67 km2.
(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Semarang)

Beberapa upaya ditempuh pemerintah kota untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang sekarang ini di jam berangkat dan pulang kerja sudah hampir menyerupai kepadatan lalu lintas di Surabaya, diantaranya dengan pengadaan sistem transportasi darat terpadu, dengan moda Bus Rapid Transit (BRT) yang diberi nama Bus Trans Semarang. Konsepnya memang meniru Trans Jakarta, namun tanpa jalur khusus bus alias busway.

Terkadang kalau sedang riding di jalan suka kesal sama kelakuan kebanyakan sopir-sopir angkutan kota dan bus yang kerap ngebut dan tiba-tiba menepi dan berhenti untuk menaik-turunkan penumpang. Mau gimana lagi? Lah wong mereka harus kejar setoran supaya nggak nombok akhir hari. Berbeda dengan BRT yang harus berhenti di halte-halte tertentu (yang juga disebut shelter). Shelter ini belum 'secanggih' di Jakarta. Hanya shelter transit saja yang memiliki bangunan yang lebih besar dan memiliki beberapa petugas, namun demikian shelter-shelter lain sudah mampu melayani penumpang dengan baik.

Kota Semarang juga memiliki rentetan sejarah panjang, yang dari catatan sejarah sudah ada sejak abad ke-6 Masehi. Selain itu, kota ini memiliki kondisi geografis yang unik. Daerah dataran rendah di Kota Semarang sangat sempit, yakni sekitar 4 kilometer dari garis pantai. Dataran rendah ini dikenal dengan sebutan kota bawah. Kawasan kota bawah seringkali dilanda banjir, dan di sejumlah kawasan, banjir ini disebabkan luapan air laut (rob). Di sebelah selatan merupakan dataran tinggi, yang dikenal dengan sebutan kota atas, di antaranya meliputi Kecamatan Candi, Mijen, Gunungpati,Tembalang dan Banyumanik.
(Sumber: masih dari tante wiki)

Nah, kali ini saya akan mengajak pembaca semua untuk berjalan-jalan menjelajah Kota Semarang, beserta keunikannya. Tapi kali ini kita tinggalkan motor, dan beralih naik BRT saja.


Senin, 02 Februari 2015

Givi B36: Swap Side to Center Box (Monokey to Monolock) - Vice Versa

16.14

Sudah beberapa tahun ini punya boks Givi B36. Boks yang unik, karena (setahu saya) ini satu-satunya boks yang didesain punya dua macam settingan, yaitu Monokey dan Monolock, keduanya sistem paten dari pabrikan asal Italia itu.

Sedari awal yang kutahu boks ini dipakai untuk side box alias boks samping karena memang kunci sepasang boks ini identik. Pemasangan sebagai boks samping juga tidak perlu ribet menggunakan bracket khusus, karena memang dirancang untuk pemasangan pada breket buatan Givi (atau Kappa) yaitu SB 1000, SB 2000 dan Wingrack. Tinggal PLEK, terpasang sudah sebagai boks samping. Tapi, kalau diperhatikan, pada bagian belakang boks, terdapat dua buah tanda panah dengan tulisan Monolock dan Monokey. Lagi, pada katalog Givi, juga terdapat keterangan kalau boks ini bersistem Monokey dan Monolock. Lalu bagaimana pengubahan sistem ini agar boks bisa digunakan sebagai boks tengah (boks atas) tetap menggunakan baseplate Monolock?



Minggu, 01 Februari 2015

Sate Serepeh: Rembang Style!

21.17
Rembang, sebuah kabupaten yang terletak di pesisir pantai utara Pulau Jawa yang penuh dengan sejarah, mulai dari makam pejuang emansipasi wanita di Indonesia, R.A. Kartini dan sejarah penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa.

Kota Rembang sendiri terletak kurang lebih 112 km ke timur menyusuri Jalur Pantura dari Kota Semarang. Selain wisata religi, kabupaten ini menyimpan kerajinan batik tersendiri dari Kecamatan Lasem, dan juga beberapa makanan khas, diantaranya menu sate dan sebuah nasi campur yang unik.