Senin, 23 Februari 2015

Bunga Mawar dan Keheningan Biara


LOKASI 
Gua Mawar, Boyolali


Alamat: Dukuh Munggur, Kec. Musuk, Boyolali, Jawa Tengah


Koordinat: 7° 32' 31.776" S 110° 31' 59.424" E



Pertapaan Bunda Pemersatu, Gedono, Salatiga

Alamat: Dukuh Weru, Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang,

Koordinat:  7° 24' 17.6" S 110° 28' 12.6" E


DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik. 
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain




Awan gelap di langit selatan Kota Semarang tak menyurutkan niatku untuk melakukan perjalanan.
Mumpung libur.
Karena hari itu memang bertepatan dengan libur Tahun Baru Imlek 2566, terlebih karena memang aku tidak merayakannya dan tak ada gunanya hanya berdiam diri di rumah.

Meninggalkan Kota Semarang kira-kira jam sepuluh pagi untuk menuju Kota Boyolali. Tujuan utamaku memang Gua Mawar Maria Boyolali yang merupakan kali kedua kunjunganku setelah yang pertama tahun lalu (baca di sini).

Dan, benar saja, belum sampai meninggalkan Ungaran, aku sudah berkendara dalam hujan walau ternyata hanya beberapa ratus meter kedepan saja. Beberapa kali aku sempat lepas-pakai raincoat karena hujan yang kadang turun, terkadang pula reda.

Sesampainya di Kecamatan Musuk hujan turun lagi. Kali ini cukup deras, ditambah rute lereng Gunung Merapi yang sudah mulai menanjak membuat hawa semakin dingin. Niatku untuk sejenak berhenti di rumah kediaman keluarga Pak Petrus tertangguhkan ketika melihat pintu rumah beliau yang tertutup rapat. 
Mungkin sedang bepergian karena hari libur.
Yasudah, langsung bablas naik lagi ke gua.

Rumah yang dulu pekarangannya digunakan untuk tempat parkir sedang direnovasi. Gantinya, tempat parkir di rumah sebelah pos ronda. 

"Istirahat dulu, Mas." Kata sang empunya rumah, "Masih hujan, jalannya licin." Sambungnya ramah.


Sejenak aku berdiang di pelataran rumah sangat sederhana beralas tanah menunggu sampai hujan agak reda. Berjalan ke arah gua tetap menggunakan raincoat, sangat berhati-hati aku menyusuri jalan tanah yang tetap licin setelah diguyur hujan.



Tidak ada perubahan di tempat itu sejak dari terakhir kali aku berkunjung. Lagi, tidak ada tanda-tanda peziarah yang datang sebelumku. Mungkin karena hari itu hujan dan banyak orang yang lebih suka bepergian ke tempat lain ketimbang datang ke Gua Mawar. Setelah menyalakan lilin hujan turun lagi. 


Tidak mau membuang banyak waktu, terlebih karena hujan sudah turun, aku memutuskan kembali ke tempat parkir.

Benar saja, sesampainya di tempat parkir, hujan turun semakin lebat. Kebetulan sang tuan rumah memiliki kebun mawar di samping rumah jadi aku ada sedikit kegiatan sembari menunggu hujan reda.




Cukup lama sampai akhirnya aku memutuskan berpamitan dan pulang dalam hujan deras.

Setibanya di tengah Jalan Lingkar Salatiga (JLS), mataku tertuju pada sebuah papan petunjuk arah menuju Pertapaan Gedono. Cukup lama aku membaca tulisan mengenai pertapaan itu. 

Mumpung hari belum terlalu sore, ada baiknya kalau aku menyempatkan diri kesana.

Dari persimpangan traffic light daerah Randu Acir, aku berbelok ke kiri (ke selatan ketika masuk JLS dari Cebongan, Salatiga). Dari situ jalan sudah menanjak. Tidak banyak kendaraan yang melintas siang itu, ditambah kondisi aspal yang masih cukup mulus membuat perjalananku nyaman-nyaman saja. Aku tidak perlu berhenti untuk bertanya pada penduduk lokal tentang lokasi Pertapaan Gedono ini karena memang sudah dipasang papan-papan penunjuk arah yang jelas terbaca di tiap persimpangan.




Sebenarnya ada jalan tembus dari arah Boyolali menuju Gedono, hanya saja mungkin tadi aku melewati papan penunjuk arah di antara Jalan Boyolali - Salatiga, tapi tak mengapa jika harus sedikit memutar dan masuk dari Jalan Lingkar Salatiga tadi. Toh suasana sejuk tidak akan membuat stress selama perjalanan.

Pertapaan ini juga dapat diakses dari Taman Doa dan Gua Maria Pereng, Getasan (lokasinya bisa dibaca di sini), tapi itu akan saya bahas nanti.



Hujan lagi, dan kabut sudah mulai turun, membuat kegagahan Gunung Merbabu terhalang kabut.




Karena niatnya cuma mau mampir dan mengumpulkan informasi mengenai tempat ini, maka saya tidak bisa dengan leluasa masuk ke dalam kompleks biara.

Sejarah singkat biara ini saya ambil dari beberapa sumber.
Biara Bunda Pemersatu-Gedono yang didirikan apda tahun 1987 adalah biara pertapaan pertama rubiah Ordo Cisterciensis Observansi Ketat (OCSO) yang pertama di Indonesia, biara ini dikenal dengan istilah Trappist. Pembangunan biara pertapaan dimulai tahun 1985 oleh Romo YB Mangunwijaya, Pr. Biara Gedhono merupakan salah satu karya alm. Romo YB Mangunwijaya yang gaya arsitekturnya sangat berkepribadian Indonesia. 

Biara Bunda Pemersatu Gedhono atau yang lebih dikenal dengan Ordo Trappist merupakan ordo kontemplatif yang memberikan penekanan utama pada doa dan melalui ketaatan, kemiskinan, berjaga berpuasa, dan beribadat bersama. 
Kegiatan dalam bertapa dilakukan di tempat yang tenang dan hening yang merupakan penyatuan diri dengan Tuhan, juga dengan cara membatasi diri dalam berkomunikasi dengan dunia luar. Pembatasan dan keterpisahan ini bukan berarti sama sekali tertutup. 
Umat Katolik yang bertamu diberi kesempatan untuk turut serta terlibat dalam ibadat bersama para rahibia, sehingga para tamu bisa ikut merasakan aktifitas doa para rahibiah.
Jadi, memang tidak perlu diragukan lagi keunikan arsitektur tempat ini.

Daan...hujan deras lagi!
Aku langsung melompat masuk ke dalam toko.


Hangat di dalam sana.

Toko itu selain menjual makanan dan minuman hasil produksi biara seperti kue kering khas Gedono yang terbuat dari campuran hosti-hosti yang tidak lolos proses sortir sampai kefir -sejenis fermentasi susu dengan berbagai rasa-, juga menjual benda-benda rohani serta suvenir khas Gedono yang juga rata-rata buatan para rubiah.




Seorang rubiah berada di balik meja kasir.

Setelah bertanya lokasi kantor tempatku bisa bertanya informasi lebih lengkap, beliau menunjukkan jalan kepadaku.

"Karena hujan, lewat belakang toko saja, nanti naik lalu belok kiri. Pencet bel dan temui Suster Theresia" Ujarnya singkat.

Mengikuti petunjuknya, aku tiba di sebuah jendela tertutup di samping ruang makan. Dua lembar kertas tertempel di samping jendela. Selembar berisi peraturan kunjungan, selembar lagi di bawahnya berisi jadwal kegiatan rutin di pertapaan itu.






Belum juga aku memencet bel, karena aku harus menunggu jam konsultasi. Para rubiah sangat disiplin terhadap waktu. Jadi, kalau memang belum jadwal konsultasi, mereka tidak akan melayani.

Jalan-jalan dulu saja menikmati keunikan arsitektur hasil karya Alm. Romo Mangun.




Sekelompok orang sedang asyik berfoto di depan pintu gereja. Gereja ini berada di atas sebuah bukit kecil. Posisinya lebih tinggi dari bangunan-bangunan lain.




Setelah sedikit berbincang dengan mereka, aku mencoba masuk ke dalam gereja.

"Masuk saja, Mas. Kami tadi baru saja masuk. Boleh, kok, asal jangan diacak-acak." Kata seorang ibu dengan sedikit bercanda.

Gereja ini tidak terlalu luas dan dibagi menjadi dua bagian, yang berbentuk seperti huruf L. Bagian pertama dari pintu masuk ini adalah tempat duduk untuk umat umum atau pengunjung, Di depan barisan tempat duduk itu terdapat sebuah pagar besi kira-kira setinggi satu meter sebagai pembatas antara tempat duduk umat dan altar serta tempat duduk para rubiah.

Beberapa tempat di dalam gereja sedang dalam proses renovasi. Masih berantakan dan hanya ada . beberapa buah kursi umat saja (setidaknya lebih banyak lagi kursi yang kulihat di beberapa foto review tempat ini).



Sebuah patung Bunda Maria dengan sosok seorang ibu jawa yang berpakaian kebaya lengkap sedang menggendong bayi Yesus berada di samping pagar.


Tidak banyak cahaya yang masuk ke dalam gereja, meski aku sudah menghidupkan lampu-lampu. Agak susah bagiku mengambil foto di sana dengan kondisi seperti itu menggunakan kamera saku.

Aku tidak berani melompati pagar besi untuk masuk ke bagian tempat duduk para rubiah yang melingkar dan bertingkat lebih berbentuk seperti tempat sidang pada film-film yang menggambarkan zaman pertengahan di Eropa.

Kurasa sudah saatnya berkonsultasi kepada Suster Theresia.

Setelah memencet bel dan berkata kepada seorang suster kalau aku ingin berkonsultasi dengan Suster Theresia, aku dipersilakan masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan ini hampir mirip dengan ruang sidang skripsi..hehe..


Seorang suster berbadan kecil namun gesit masuk ke dalam ruangan itu juga. Rambutnya yang hampir semuanya sudah berwarna putih terlihat dari balik kerudungnya.

Aku bertanya banyak kepada beliau tentang aturan dan tata cara jika ingin melakukan retreat pribadi di pertapaan ini. Sampai pertanyaanku pada jadwal Ibadat Malam dan Lectio Divina atau bacaan rohani di jam tiga pagi, dimana peserta juga diwajibkan mengikutinya.

Bagaimana kalau tidak bisa bangun sepagi itu?

"Loh, kamu kesini mau retreat pribadi atau hanya pindah tidur?" Jawab Suster Theresia atau Suster Thres sambil tertawa.

Meskipun tempat ini merupakan biara, namun pengunjung, tamu atau peserta retreat yang datang tidak dibatasi hanya untuk kaum wanita saja.

"Yang kami terima adalah anak-anak Allah." Jawab suster singkat.

Jika ingin melakukan retreat pribadi di tempat ini, pihak biara akan mengenakan biaya administratif sebesar Rp 60.000/ orang/ malam. Khusus untuk peserta yang belum bekerja dapat memperoleh biaya yang lebih rendah.

Di biara ini ada peraturan bahwa pengunjung hanya boleh melakukan retreat selama 8 hari selama setahun dan hanya enam sampai paling banyak dua belas pengunjung saja.

Kenapa?

"Kalau lebih dari delapan hari itu namanya buka retreat, tapi melarikan diri dari kehidupan." Kata Suster Thres lagi, "Kalau hanya enam sampai paling banyak dua belas orang, kami masih bisa dengan mudah 'menjewer' peserta yang lalai akan tujuan mereka kesini."

"Kalau mau berkunjung, hubungi dulu paling tidak dua minggu sebelumnya karena kami harus berkonsultasi dengan Ibu (Abdis - Kepala biara/ Superior). Kalau susah telpon, kirim SMS saja, tapi jangan lupa beri nama biar Suster tidak bingung." Kata beliau sambil beranjak dari kursinya.

Nomor telpon pertapaan bagi para tamu yang bisa dihubungi nanti akan saya tulis di bagian bawah ya :)

Nah, pulangnya, saya kembali lewat jalan ketika masuk dari JLS, bedanya ketika sampai di persimpangan arah pertapaan dan Taman Doa dan Gua Maria Pereng, Getasan,


Sama seperti jalan dari JLS, jalan meuju kopeng juga cukup lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang berpapasan denganku waktu itu. Tak lebih dari tujuh kilometer jarak dari persimpangan itu menuju Taman Doa dan Gua Maria Pereng, Getasan.

Nah, jika Anda berniat mengunjungi Pertapaan Gedono ini, dapat mengikuti petunjuk arah yang sudah dijelaskan dalam tulisan saya di atas, baik dari JLS maupun dari Kopeng. Bernama lengkap Pertapaan Bunda Permersatu Gedono dengan Teromol pos 806 Salatiga 50702 (Jateng), atau beralamat di Dukuh Weru, Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Telp. 0298 - 327170, Fax 0298 - 313836. Rumah Tamu 0811 278 299.

Atau Anda dapat mengunci koordinat 7° 23' 27.97" S, 110° 28' 47.72" E atau 7.3910 S ,110.4799 E di GPS Anda.

Selamat menyepi

Salam, Doa dan Berkah Dalem :)

2 komentar :

Anonim mengatakan...

Terima kasih untuk review Anda yang rinci dan sangat membantu, terutama untuk nomor kontak Pertapaan Gedono. Tulisan ini juga baik karena masih sangat baru (ditulis tahun 2015). Saya merasa bersyukur telah menemukan tulisan Anda. GBU.

-S

vinsensius soney mengatakan...

Semoga bermanfaat. GBU too