Kamis, 05 Februari 2015

Explore Semarang: ke Barat Semarang Naik BRT


Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia sesudah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Sebagai salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2 juta jiwa dan siang hari bisa mencapai 2,5 juta jiwa. Bahkan, Area Metropolitan Kedungsapur (Kendal - Demak - Ungaran - Salatiga - Purwodadi) dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat keempat, setelah Jabodetabek (Jakarta), Gerbangkertosusilo (Surabaya), dan Bandung Raya. Sayangnya, pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin macet.
Kota ini terletak sekitar 558 km sebelah timur Jakarta, atau 512 km sebelah barat Surabaya. Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat.Luas Kota 373.67 km2.
(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Semarang)

Beberapa upaya ditempuh pemerintah kota untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang sekarang ini di jam berangkat dan pulang kerja sudah hampir menyerupai kepadatan lalu lintas di Surabaya, diantaranya dengan pengadaan sistem transportasi darat terpadu, dengan moda Bus Rapid Transit (BRT) yang diberi nama Bus Trans Semarang. Konsepnya memang meniru Trans Jakarta, namun tanpa jalur khusus bus alias busway.

Terkadang kalau sedang riding di jalan suka kesal sama kelakuan kebanyakan sopir-sopir angkutan kota dan bus yang kerap ngebut dan tiba-tiba menepi dan berhenti untuk menaik-turunkan penumpang. Mau gimana lagi? Lah wong mereka harus kejar setoran supaya nggak nombok akhir hari. Berbeda dengan BRT yang harus berhenti di halte-halte tertentu (yang juga disebut shelter). Shelter ini belum 'secanggih' di Jakarta. Hanya shelter transit saja yang memiliki bangunan yang lebih besar dan memiliki beberapa petugas, namun demikian shelter-shelter lain sudah mampu melayani penumpang dengan baik.

Kota Semarang juga memiliki rentetan sejarah panjang, yang dari catatan sejarah sudah ada sejak abad ke-6 Masehi. Selain itu, kota ini memiliki kondisi geografis yang unik. Daerah dataran rendah di Kota Semarang sangat sempit, yakni sekitar 4 kilometer dari garis pantai. Dataran rendah ini dikenal dengan sebutan kota bawah. Kawasan kota bawah seringkali dilanda banjir, dan di sejumlah kawasan, banjir ini disebabkan luapan air laut (rob). Di sebelah selatan merupakan dataran tinggi, yang dikenal dengan sebutan kota atas, di antaranya meliputi Kecamatan Candi, Mijen, Gunungpati,Tembalang dan Banyumanik.
(Sumber: masih dari tante wiki)

Nah, kali ini saya akan mengajak pembaca semua untuk berjalan-jalan menjelajah Kota Semarang, beserta keunikannya. Tapi kali ini kita tinggalkan motor, dan beralih naik BRT saja.


Hari sudah siang, namun mentari yang sudah meninggi itu sinarnya tertutup oleh awan pekat. Aku, Reza, Franky dan Puspa sudah menjadwalkan untuk jalan-jalan ke arah barat Kota Semarang. Supaya lebih santai kami memutuskan untuk naik BRT. Sekalian itung-itung ngrasain naik bus kota ber-AC.

Dari basecamp H-10, kami berjalan kaki menuju jalan raya untuk menuju halte BRT Ksatrian.

Ya..sekalian bakar sedikit kalori..hehe..




Karena ini bukan shelter transit, jadi tidak ada petugas di sana. Halte ini sengaja dibangun lebih tinggi dari jalan untuk memudahkan penumpang bus naik-turun bus, sekaligus untuk membedakan dengan bus umum lain. Tarif untuk pelajar seribu rupiah, sedangkan untuk umum Rp 3.500. Semuanya berlaku untuk sepanjang perjalanan pada masing-masing koridor. Sistem yang sama seperti pada Bus Trans Jakarta, dimana penumpang hanya membayar satu kali untuk satu kali perjalanan. Penumpang bebas berpindah koridor, asal tidak turun di shelter biasa, atau karcis yang dipegang tidak hilang ketika hendak berpindah koridor di shelter transit. Penjelasannya ribet ya? Hehe..


Sampai tulisan ini dibuat, baru ada (atau sudah ada?) lima koridor BRT yang dapat melayani penumpang dari barat ke timur, utara ke selatan. Yaa..ibaratnya cukup dengan membayar Rp 3.500, penumpang sudah dapat merasakan menjelajah Kota Semarang. Dan dari kelima koridor ini, hanya Koridor I saja yang memiliki bus berukuran besar. Mungkin karena koridor awal, maka pemerintah kota berusaha membangun imej positif kepada warga yakni dengan menyediakan bus berkapasitas besar. Koridor-koridor lain dilayani dengan menggunakan bus berukuran lebih kecil. Namun demikian, masing-masing bus memiliki sistem suara yang digunakan oleh para pengemudi untuk memutarkan lagu untuk menghibur para penumpang selama dalam perjalanan, meski yang diputar adalah lagu-lagu dangdut pantura. BUKA SITHIK, JOSS..!! Lumayan lah, daripada sepi. Sistem pengkondisian udaranya juga masih baik, mampu membuat penumpangnya masuk angin..hehe..

Di bagian depan dan belakang bus terpasang kamera CCTV yang menghadap ke dalam untuk mengawasi gerak-gerik di dalam bus. Yah, siapa tahu ada tindak kejahatan atau pelecehan seksual yang terjadi di dalam armada. Jangan khawatir, kamera-kamera ini semuanya berfungsi dan bukan dipasang menghadap keluar untuk merekam kejadian di luar bus yang sedang melawan truk, bus atau pengendara motor yang ugal-ugalan. Eh, itu ichiro ding.. :lol:


Karena kami naik dari shelter biasa, maka pembelian tiket dilakukan di atas bus. Dan -seperti sudah tersebut di awal- karena kami nanti harus berpindah koridor, maka kami harus menjaga baik-baik tiket bus ini supaya tidak hilang pada waktu pemeriksaan di shelter transit. Kalau perlu, harus dijaga dengan mempertaruhkan nyawa..halah..lebay..


Dari Halte Ksatrian itu kami naik BRT Koridor II jurusan akhir Terminal Terboyo. Untuk menuju bagian barat kota, kami harus turun di shelter SMA 5 untuk kemudian berpindah pada BRT Koridor I. Untung saja tiketnya nggak hilang, jadi kami nggak perlu bayar lagi.

Beberapa menit menunggu, akhirnya BRT Koridor I jurusan Penggaron - Mangkang tumpangan kami tiba. Sudah lewat tengah hari waktu itu, dan kondisi di dalam bus tidak terlalu padat.


Koridor I, seperti namanya, merupakan koridor pertama BRT di Kota Semarang. Walaupun beberapa shelter sudah dibuat 'seragam' berupa halte permanen, namun masih ada beberapa shelter tua semi permanen yang masih difungsikan. Kami menikmati perjalanan sampai pada tujuan akhir, yakni Terminal Bus Mangkang. Terminal ini berada di bagian paling barat Kota Semarang yang langsung berbatasan dengan Kabupaten Kendal. Sebuah kawasan terminal terpadu yang baru diresmikan awal Agustus tahun 2009, namun sayangnya tidak difungsikan secara optimal. Bangunan megahnya malah dibiarkan kosong. Mangkrak. Beberapa bus AKAP dan AKDP juga masih enggan masuk ke terminal.

Dari terminal, kami menyeberang ke sisi selatan jalan, dimana terletak Taman Margasatwa Semarang. Jangan sampai salah, karena di sebelah barat terminal terdapat tempat 'wisata lendir'.



Taman Margasatwa alias Kebun Binatang Semarang yang berada di Mangkang ini merupakan pindahan sejak tahun 2007 setelah sebelumnya berada di Kebun Binatang Tinjomoyo dan Taman Lele sejak tahun 1985. Menempati lahan seluas kurang lebih sepuluh hektar, tempat hiburan ini sejak tahun 2012 sudah memiliki 40 jenis satwa dan setiap periodenya akan selalu ditambah dengan jenis satwa lain untuk melengkapi koleksi kebun binatang. (Sumber: http://kebunbinatangsemarang.com/kbks.html)

Yah, marilah kita masuk!


Karena kami memang berkunjung pada weekdays, maka hari itu cukup sepi pengunjung. Hanya ada kami berempat, sebuah keluarga kecil dan beberapa pasangan muda-mudi.


Tiket masuknya cuma lima ribu rupiah per orang, dan hanya naik Rp 2.500 di pekan lebaran. Cukup murah. Tapi, apakah prinsip ono rego ono rupo (ada harga ada rupa) berlaku? Marilah kita jelajahi bonbin ini!

Setelah pemeriksaan karcis, terdapat sebuah ruangan yang remang-remang. Sampai susah mau ambil foto karena harus menyesuaikan cahaya ruang. Di sebelah kanan terdapat sebuah tulisan penanda yang tertempel di temboknya. Museum Hewan.

Sebuah ruangan pengap yang berukuran tak lebih dari duapuluh meter persedgi berisi beberapa koleksi hewan kebun binatang yang sudah diawetkan. Aku merasa kurang nyaman berada di dalam karena mencium aroma bulu-bulu hewan ini. Tapi ambil sedikit foto saja boleh lah.




Meninggalkan gedung itu dan mulai memasuki area kebun binatang, kami disambut oleh sebuah danau buatan. Sebuah dermaga kecil untuk tempat bersandar perahu wisata dan wahana sepeda air ada di salah satu sudutnya. Kebetulan siang itu hujan, jadi kami (dan beberapa pengunjung lain) memutuskan berteduh di situ.


Setelah hujan reda kami mulai melanjutkan tur. Kata teman-teman biasanya sebuah tempat wisata (khususnya kebun binatang) menerapkan jalur searah jarum jam. Nurut mereka aja deh..hehe..





Tak banyak aktivitas dari para penghuni kebun binatang setelah hujan reda. Mungkin mereka juga enggan berlarian atau beterbangan di tengah hawa dingin itu. Justru kami berempat yang pethakilan kesana-kemari membujuk penghuni-penghuni kandang. Harapannya sih supaya mereka mendekat, dan kami bisa merasa jadi penjinak hewan. Haha..wagu tenan.

Sayang sekali pihak pengelola tidak terlalu memperhatikan kebun binatang ini. Di kandang kanguru, kami lihat beberapa ekor kijang. Di kandang kijang, isinya kijang juga, dan di kandang kancil, masih juga didominasi kijang. Belakangan di area kuda, juga hanya terlihat kijang-kijang. Memang mereka ini tiada duanya :p Apakah mereka berlompatan menyeberang kandang? Rumput-rumput pakan juga sudah semi membusuk.




Melanjutkan tur di jalan conblock yang sedikit licin akibat guyuran hujan, ternyata tidak semua hewan berada dalam kandang. Owa-owa misalnya yang sengaja dibiarkan bebas di 'pulau' di tengah danau buatan.




Harimau Bengala, Harimau Sumatera dan Singa juga nampak malas beraktivitas siang itu. Hanya beberapa primata yang masih aktif berlompatan di dalam kandang mereka yang dipisahkan dengan kaca setebal kurang lebih lima milimeter. Melewati kandang-kandang kucing besar itu, ternyata ada seekor harimau yang lepas! Untung Franky dengan sigap menghalau harimau itu dengan tripodku.


Halah ^_^;

Kembali berjalan mengitari tiap sudut kebun binatang ini.






Di sudut lain kebun binatang ini terdapat sebuah wahana kolam berenang dengan sebuah bangkai pesawat di salah satu sudutnya, namun sayang sekali kondisinya juga nampak kurang terawat dengan baik.



Sesudah lelah dan bosan, kami memutuskan untuk pulang.




Ternyata memang prinsip 'ada harga ada rupa' berlaku di tempat ini. Tiket masuk yang (sangat) murah berbanding lurus dengan tingkat pelayanan, penataan ruang (terutama PKL) dan kondisi para hewan di kebun binatang. Sebelumnya kami melihat seorang petugas membawa beberapa hewan baru untuk dikarantina sebelum dipertontonkan kepada pengunjung. Tempat karantina yang berada tak jauh dari kandang-kandang burung itu bukan merupakan bangunan khusus, melainkan gudang yang berisi alat-alat kebun binatang yang sudah rusak. Betapa kondisi kurang layak bagi para hewan, yang menurut saya, lebih kepada kondisi yang memprihatinkan!

Banyak sampah plastik dan botol-botol minuman kosong yang berada di dalam kandang hewan. Walau sudah ditempel beberapa tulisan untuk tidak melempari hewan, namun nampaknya pengunjung tidak terlalu menghiraukan imbauan itu. Pengelola terkesan cuek dengan kondisi tersebut. Tidak ada petugas khusus yang membersihkan kandang-kandang hewan. Tak heran, karena kebanyakan sampah-sampah botol minuman plastik itu berada di dalam kandang biawak dan buaya.

Beberapa orang berseragam warna merah bersimbol pemerintah kota terlihat berada di dalam area kebun binatang. Namun alih-alih membersihkan sampah, mereka asyik memancing ikan di tepi danau.

Yah, semoga saja dengan adanya sedikit tulisan ini bisa memicu kesadaran baik dari pengunjung maupun pengelola kebun binatang.

Di depan pintu masuk kebun binatang terdapat sebuah taman lalu-lintas yang juga tak kalah terbengkalai, meski bagi kami cukup menarik kalau wahana ini dibuka untuk umum. Tulisan di gerbangnya sudah banyak yang hilang. Mungkin belum diresmikan?



Untuk tombo gelo -penawar kekecewaan- kami berfoto di depan sebuah tulisan "Kota Semarang" di tembok luar kebun binatang sebelum menyeberang ke terminal.



Pulangnya naik BRT lagi deh biar afdol :D



Itu Tugu Muda dan Gedung Pandanaran terlihat dari sudut Jalan Mgr. Sugiopranoto.


Oo..iya.. Jika Anda memang berniat berkeliling kota menggunakan BRT yang aman dan nyaman ini, perlu diperhatikan jam operasional hanya dari pukul 06.30 sampai 17.20 WIB dari tiap koridor.

Selamat berkeliling dan menikmati berbagai wisata di Kota Semarang.


Salam :)

Tidak ada komentar :