Minggu, 01 Februari 2015

Sate Serepeh: Rembang Style!

Rembang, sebuah kabupaten yang terletak di pesisir pantai utara Pulau Jawa yang penuh dengan sejarah, mulai dari makam pejuang emansipasi wanita di Indonesia, R.A. Kartini dan sejarah penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa.

Kota Rembang sendiri terletak kurang lebih 112 km ke timur menyusuri Jalur Pantura dari Kota Semarang. Selain wisata religi, kabupaten ini menyimpan kerajinan batik tersendiri dari Kecamatan Lasem, dan juga beberapa makanan khas, diantaranya menu sate dan sebuah nasi campur yang unik.




Bernama Sate Serepeh, makanan yang banyak dijajakan di sepanjang jalan dr. Wahidin dan K.S. Tubun, Rembang (-6.705041, 111.335274) membuatku tertarik untuk mencoba. Dari nama yang unik, kukira 'serepeh' merupakan jenis hewan atau tumbuhan endemik, atau minimal sebutan lokal untuk spesies hewan atau varietas tumbuhan tertentu.

Tapi ternyata satenya merupakan sate dari daging ayam, namun berbeda dengan sate ayam khas Madura yang setiap tusuknya merupakan pilihan daging ayam, sate serepeh ini malah kurang lebih hampir sama seperti sate yang dijual di tukang bakmi jowo, malah kecil-kecil hampir seperti suwiran daging ayam. Dalam seporsi berisi sepuluh tusuk sate, yang isinya campuran antara kulit ayam, jerohan dan usus. Kalau Anda mampir dan pesan hanya daging saja, bisa kok dipilihkan.


Kukira ketika datang di sebuah warung, duduk dan memesan sate akan lama karena sate-sate harus dibakar dulu. Tapi, di warung yang kudatangi itu satenya sudah dingin. Mungkin sudah dibakar pada pagi hari sebelum warung buka. Bumbunya unik (dan dari sinilah ternyata istilah serepeh berasal). Sausnya encer. Bukan saus kacang seperti sate ayam khas Madura atau sambel kecap, tapi saus sate serepeh ini menggunakan saus santan. Tidak terlalu pekat, tapi memiliki rasa bumbu yang sangat kuat. Aku mulai beranalisis kalau serepeh itu masih ada hubungannya dengan serai/ sereh. Walau aku bukan seorang professional food reviewer, tapi rasa rempahnya sungguh 'nendang'. Campuran bumbu pembuat saus yang lain?

"Rahasia" kata sang penjual.


Makan sate serepeh ini wajib hukumnya dengan nasi. Nasi hangat dengan uap yang mengepul? Memang menggoda. tapi bukan juga. Anda akan disuguhi nasi dingin yang sudah dibungkus dengan daun jati. Nasinya hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Ketika membuka bungkusan daun jati, semerbak khasnya sudah tercium. Daun ini memang membuat sebuah aroma tersendiri pada nasi. Kalau satu bungkus nasi pasti bakal kurang deh.


Lalu ada lagi yang khas, yaitu nasi tahu sebagai pendamping sate serepeh ini. Nggak usah pusing mikir makanan apa yang akan tersaji di meja Anda. Isinya, sepiring nasi di atas daun jati dengan potongan tahu putih goreng (dari namanya juga udah ketahuan, mau berharap isinya apa? -_-) dan diguyur sambel kacang campur kecap & taburan kacang goreng. Bedanya disini diberi juga sayur labu siam dikit & potongan jeruk nipis biar aromanya segar.
Kalo di blora kuliner ini namanya sambel tahu namun tanpa sayur, kalo di semarang hampir mirip sama tahu campur.


Harga per porsi sate serepeh + 3 bungkus nasi daun jati + segelas teh hangat = Rp 20.000,00.
Seporsi nasi tahu sekitar enam ribu rupiah.

Selamat mencoba :)

Tidak ada komentar :