Sabtu, 04 Juli 2015

Roh Kudus, Bimbinglah kami ke Jalan Keselamatan-Mu



LOKASI
Gua Maria Sancta Rosa Mystica, Mater Divinae Gratiae, Tuntang

Alamat: Desa Banyu Urip, Delik, Tuntang, Kab. Semarang, Jawa Tengah

Koordinat: 7° 14’ 56.44” S 110° 28’ 56.2” E



Gua Maria Sendang Jati, Gubug

Alamat: Desa Penadaran, Gubug, Jawa Tengah

Koordinat: 7° 7' 46.85" S 110° 41' 49.24" E



DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah yang disucikan bagi umat Katolik.
Cerita ini tidak bertujuan untuk memaksakan iman kepada umat penganut kepercayaan lain.



Sebenarnya ini adalah cerita lanjutan perjalanan dari Gua Rong View & Resort (baca ceritanya di sini).

Setelah beberapa bulan tenggelam dalam rutinitas pekerjaan, akhirnya bisa dapat beberapa hari yang cukup longgar sehingga aku bisa sejenak mencari tempat untuk menyepi. 

Inginku untuk datang berziarah ke tempat yang agak jauh, tapi karena belum sepenuhnya libur, jadi cukup mencari 'pelarian' yang tidak terlalu jauh dari Kota Semarang. Pilihan awal aku memilih untuk pergi ke Gua Maria Tuntang, Pereng atau Sendang Jati.



Gua Maria Sancta Rosa Mystica, Tuntang menjadi pilihanku, karena selain tak terlalu jauh dari Kota Semarang, lokasinya juga cukup dekat dengan tempat wisata Gua Rong.


Sudah hampir setahun sejak terakhir kali berkunjung ke sana. Tidak banyak yang berubah, bahkan bisa dikatakan tidak ada perubahan sama sekali.







Selepas 'curhat' sejenak di hadapan Sang Bunda, aku  melanjutkan perjalananku lagi. Awalnya aku ingin berkunjung ke Gua Maria Pereng, Getasan, tapi tiba-tiba aku memutuskan untuk pergi ke Gua Maria Sendang Jati, Gubug. Selain sudah cukup lama tidak berkunjung ke sana, aku ingin mencoba jalur Bringin - Gubug.

Bermodal nol besar, alias tidak tahu apa-apa tentang rute yang akan kulewati, aku nekat saja melibas jalur ini.

Kondisi jalan aspal yang masih mulus menyambutku sejauh kira-kira sepuluh kilometer hingga aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa kondisi jalan di sana tidak sepenuhnya baik. Jalan aspal yang terkelupas di sana-sini hingga buka-tutup lajur karena sedang mengalami proses pengecoran. Tidak terlalu ramai kondisi lalu-lintas di jalur itu. Entah, memang sepi, atau karena siang itu masih masuk bulan ramadan dimana banyak pengguna jalan yang enggan keluar.

Hampir putus asa, karena pada awalnya kukira dekat saja, aku berhenti di depan sebuah gereja stasi. Gereja Katolik Kristus Raja, Stasi Kedungjati, namanya. Kulihat pintu gerbangnya terbuka dan ada beberapa orang tengah beraktivitas di halamannya. Tak berpikir lama aku langsung masuk dan menanyakan arah menuju Desa Penadaran. Beruntung dua orang paruh baya yang sedang membuat perabot itu paham betul rute menuju Gua Maria Sendang Jati tanpa harus memutar arah menuju Gubug.


Setelah berterimakasih dan berpamitan, aku kembali memacu Annette di antara debu yang diterbangkan oleh truk-truk dan mobil-mobil yang sudah terlalu lama berhenti untuk mengantri jalurnya dibuka.

Setibanya di Desa Kapung, seperti yang ditunjukkan orang di halaman gereja tadi, aku ambil rute ke kanan. Kondisi jalan yang lebih parah. Hampir semuanya merupakan jalan berbatu yang membuatku sempat nyasar hingga masuk ke area pemakaman.
Wah..


Beberapa petani memberikan arahan jalan (meski ngawur karena mereka menyarankanku untuk lewat pematang sawah bertanah gembur yang jika salah memilih rute, bisa saja aku terperosok ke dalam sawah), hingga harus menyeberangi Sungai Tuntang yang berarus cukup deras di atas jembatan darurat selebar satu meter tanpa pengaman pada kedua sisinya. Beberapa anak kecil yang asyik bermain air di pinggir sungai itu sempat menghentikan aktivitas mereka dan memilih memperhatikan tingkah kikukku saat menyeberangi jembatan. Mungkin mereka juga was-was kalau tiba-tiba ada sepeda motor yang jatuh ke dalam sungai saat menyeberang jembatan kecil itu.


Tapi untung saja hal itu tidak terjadi, dan aku tetap melaju melalui jalan berbatu itu, hingga aku menemukan sebuah pintu air yang sangat familiar. Ya, ternyata aku sudah hampir tiba di Desa Penadaran. Melewati jalan inspeksi saluran air menuju arah Desa Penadaran yang ternyata kondisinya sama sekali tidak berubah. Masih harus melewati jalan berbatu besar dan beberapa tajam.


Beberapa ratus meter sebelum gapura prisma Desa Penadaran rupanya sudah dibuat jalan dari rabat beton. Lumayan juga daripada harus terus-terusan merasakan sakit punggung sampai di lokasi.


Masuk ke Desa Penadaran, terdapat sebuah monumen berbentuk gunungan dalam pewayangan, yang seingatku dulu belum ada di sana. Sebuah peta lokasi desa yang berada terlindungi kaca berada di tengahnya. Kurang jelas aku membacanya karena pendaran cahaya mentari sore itu. Namun, yang pasti monumen itu dibangun dalam rangka Kuliah Kerja Nyata oleh sebuah perguruan tinggi swasta ternama dari Kota Semarang.



Menyusuri jalan desa itu, dimana beberapa warganya ada yang tengah berada di luar rumah mereka dan tersenyum ramah kepadaku, seorang asing ini. Sempat terpikir untuk sejenak berhenti di gereja stasi untuk bertanya arah menuju gua, tapi ternyata sudah ada beberapa penunjuk jalan yang dipasang di persimpangan jalan. Cukup membantu calon peziarah yang hendak berkunjung ke sana.




Lagi, senyuman ramah warga desa itu seolah mengantarkanku menuju pelataran parkir.


"Sepeda (motor)nya dibawa ke atas saja, mas." Kata seorang ibu pemilik rumah di sudut lapangan voli yang juga difungsikan sebagai lapangan parkir itu.

"Nanti gelo (jawa: menyesal) loh kalau jalan kaki" lanjutnya yang sedang duduk ndheprok di tanah, sementara seorang lain sibuk mencari kutu di kepala ibu itu.

Sedikit berbincang sejenak dengan kedua wanita itu, aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Gua Maria.


Tak banyak perubahan, bahkan setelah hampir dua tahun semenjak aku berkunjung. Pos perhentian jalan salib sedang direnovasi juga menjadi pola gunungan, namun belum semuanya.






Kira-kira jam tiga sore itu ketika aku hampir tiba di puncak. Beberapa laki-laki berpakaian lusuh sedang duduk-duduk di tanah, ketika aku melewati mereka dan tahu bahwa mereka ini tukang batu yang menggarap tempat ini.


Cukup ramai di kompleks Gua Maria ini. Kukira sedang ada acara kerohanian di sana, tapi ternyata hanya gerombolan 'akamsi' -anak kampung sini- yang menghabiskan waktu dengan ngadem di dalam beberapa pondokan di kompleks Gua Maria sembari menunggu waktunya berbuka puasa. Mereka acuh melihatku -seorang peziarah- yang datang. Alih-alih tenang, suara mereka justru terkadang makin keras. Tak jarang kudengar juga beberapa kata makian yang keluar dari mulut mereka. Beberapa malah ada yang berlatih sepakbola di pelataran gua. Sama sekali bukan perilaku yang baik, dimana orang lain tidak bisa dengan khusuk berdoa. Sayup-sayup kudengar hardikan dari beberapa pekerja yang sore itu masih berada di sana kepada remaja-remaja tanggung itu, tapi nampaknya tidak diindahkan.




Benar saja, dengan mendengar celotehan itu, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi berdoa.

Kuputuskan berkeliling saja di sekitar gua untuk berbincang dengan beberapa pekerja yang lebih ramah dan toleran kepada pengunjung sambil mengambil beberapa foto sampai ke Sendang Lanang, mencuci muka di Sendang Wadon dan akhirnya aku memutuskan untuk turun dan pulang.












Pulang menuju Semarang sore itu lewat Gubug, Mranggen hingga masuk Kota Semarang ternyata cukup menguras tenaga, selain karena masih banyak jalan dari Sendang Jati menuju jalan raya yang berbatu, juga ternyata aku sudah menempuh jarak hampir seratus tigapuluh kilometer hari ini.


Cukup menyenangkan walau melelahkan, namun juga bisa mengobati rindu untuk berziarah lagi.


Selamat berziarah



Salam, Doa dan Berkah Dalem :)

Tidak ada komentar :