Sabtu, 20 Agustus 2016

Jamnas Wolu Seru

courtesy: om Sumarlin Putra


Sebuah acara tahunan yang digelar oleh prides-online comunity di tahun 2016 ini sudah terselenggara untuk ke-8 kalinya. Tahun ini Wilayah Timur yang cakupannya melingkupi provinsi Jawa Timur, dan seluruh wilayah Indonesia timur ini yang ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan acaranya.

Bertempat di sebuah perkebunan teh tertutup di daerah Kandangan, Kare, Madiun, Jawa Timur pada tanggal 19-20 Agustus 2016 lalu.

Post ini sekaligus meneruskan live RR (Riding Report) yang harapanya sih kemarin jadi salah satu finalis di kontes live RR Jamnas Wolu Seru.



Sebenernya ini semacam curi start bikin live RR dulu karena rencana berangkat dari Semarang Jumat pagi (19 Agustus 2016).

Istilahnya "ngamanin lapak" biar besok pas jalan tinggal nulis aja.


Hari ini (kamis) masih gawe karena memang harus selesaiin banyak kerjaan biar gak kebeban pas jamnas hehe..


Semalam cari rute & alternatifnya via GMaps, karena belom tau mau ada group riding bareng siapa atau kepepetnya jalan sendiri.




Ada 2 pilihan jalur kalo dari Semarang. Bisa lewat jalur tengah (A):  Semarang - Purwodadi - Blora - Cepu - Padangan (Bojonegoro) - Ngawi - lokasi


Atau jalur selatan (B mainstream): Semarang - Salatiga - Boyolali - Surakarta - Sragen - Ngawi - lokasi

Alternatifnya: dari Salatiga - Gemolong - Sragen - Ngawi - lokasi

Sayang kalo via hp gak bisa lihat total jarak tempuhnya (atau bisa tapi aku yang gak tau caranya hehe..)


Jalur A sampai pantauan pagi ini sedikit merayap di Kawasan Terboyo Semarang karena genangan air. Maklum, hari Rabu malam Semarang diguyur hujan deras. Lepas perbatasan lancar aja sih.


Jalur A lebih sepi karena jalan kabupaten, sedangkan jalur B lebih padat karena jalan provinsi. Tentunya di Jalur B bakal banyak ketemu banyak bus antar kota (Jogja/ Solo-Surabaya) yang cara nyupirnya aduhai nian. Belom lagi pengguna jalan lain yang kurang sabar. Jalur A lebih santai, nggak banyak bus (paling cuma 1-2 dengan interval beberapa jam). Banyak truk diesel muatan pasir, dengan kondisi jalan yang amboiii..


Pilih mana? Tunggu besok deh

=====

Last check..


Saatnya berangkat

Jam 5:47 pagi ini, molor dari rencana awal yang pengen berangkat jam 5 pagi.


Yasudah..yuk ah..sampe ketemu di lokasi ya gaes..


===


Akhirnya memutuskan untuk lewat jalur A


Sarapan dulu di warung lokal, sekalian istirahat udah 2 jam riding



===

Sampai di Kota Blora mejeng dulu di tempat yang nggak pernah buka


Haha..

===

Mulai lapaaarr...

Setelah 4 jam riding dari Semarang, akhirnya masuk Kota Cepu dan pengen makan rujak cingur langganan zaman kerja di sini dulu.

Masih ada warungnya walaupun ibu penjual sudah meninggal dunia. Sekarang usaha kuliner ini dilanjutkan oleh anak² nya.

===
Gerbang batas Provinsi Jateng - Jatim

Emang nggak semegah yang ada di Sragen sih, tapi sama aja..di sini langsung dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo.

Selfie?

===
Masuk ke Kabupaten Bojonegoro, yang sudah di wilayah Provinsi Jawa Timur.
Dari sini, perjalanan menuju Kabupaten Ngawi agak sedikit membosankan. Teriknya matahari siang itu dalam jalan yang baru saja dibuka setelah melalui pengerjaan pengecoran yang suasananya cukup lengang. Tak banyak kendaraan yang melintas jalur Bojonegoro-Ngawi siang itu, hanya beberapa penduduk lokal yang berboncengan dengan motor mereka tanpa helm. Beberapa truk diesel yang mengangkut muatan hasil bumi, truk besar bermuatan semen yang terlihat kewalahan ketika mendaki tanjakan, beberapa minibus trayek Ngawi-Cepu.
Panasnya siang itu ditambah jalur ini melalui hutan-hutan kering. Malah mirip seperti  savana, padang rumput di Afrika sana, cuma di Bojonegoro nggak ada Jerapah dan kawan-kawan kewannya.

Tidak jauh berbeda ketika masuk dalam wilayah Kabupaten Ngawi, hanya saja di sana lebih banyak pohon rindang yang tumbuh di sisi luar jalan.


Ada semacam kesalahan membaca peta selama ini, karena kukira Ngawi dan Madiun adalah dua kabupaten yang bersebelahan, tapi ternyata aku harus melewati Kabupaten Magetan di antara kedua kabupaten itu. Lumayan juga membuat mental sedikit down ketika membaca jarak yang harus kutempuh siang itu sekitar empat puluh kilometer lagi untuk dapat tiba ke Kota Madiun.
Alhasil, aku lebih baik beristirahat sejenak di emperan mini market.
Selonjoran, nglempengin kaki dulu..somewhere ini Ngawi.. 
Setelah dirasa cukup istirahatnya (nggak sampai ketiduran sih)
Trus, dengan penuh keraguan aku melanjutkan perjalanan ke Madiun. Ponsel sudah mulai panas karena aku set ke mode GPS, jadi terpaksa matiin ponsel sebentar sambil jalan dan disambung ke power bank. GPS diganti dengan cara manual: Gunakan Penduduk Sekitar.

:grin:

Akhirnya bisa sampai juga di Kota Madiun.

Karena check point sudah disimpan sebelumnya di GMaps, setelah daya ponsel dirasa cukup dan juga sudah adem, dinyalakan dan kembali jalan dengan panduan GPS lagi.

Tambah naik sinyal dan koneksi sudah mulai susah, sampai di situ juga live RR-nya mandeg.
Di POL (www.prides-online.com) disebutkan kalau panitia sudah memasang beberapa penunjuk arah menuju lokasi Jamnas, tapi ternyata cuma petunjuk ini saja yang aku temukan. Entah yang lain ngumpet dimana.


Dari tempat terpasangnya penunjuk arah itu memang sudah tidak terlalu jauh lagi ke check point panitia. Jalur yang dilalui juga sudah makin 'asyik', meski tidak selebar jalur dari Madiun menuju ke rambu-rambu itu, namun hawa sejuk dataran tinggi sudah mulai terasa.

Sampai di pertengahan jalan aku masih juga disasar sama embak-embak penunggu GPS. Harusnya bisa lurus saja, tapi malah disuruh belok kiri dan lewat jalan rabat beton melalui perkampungan warga, walaupun pada akhirnya tembus di titik yang sama, tepat di depan check point, padepokan Da-Di-Do.

Selfie dulu lah..


Sudah sekitar jam satu siang ketika aku tiba di check point. Ada Cak Ndut dan beberapa panitia lain yang menyambut, tapi sebelum lanjut ke lokasi, aku mau leyeh-leyeh sebentar.

Capek bangeetttt braaaayyy....



Eh..ternyata selain kaos dan ID card, peserta mendapat merchandise berupa matras yang pada awalnya kukira dipinjamkan untuk alas tidur di lokasi.

Kereeennn..!!

Tak berselang lama (padahal belum sempat istirahat), datang beberapa orang rombongan bermobil dari CJ yang baru saja 'turun gunung' sekaligus test drive mobilnya Ketum, kata om Dono. Ya udah, sekalian aja deh naik ke lokasi, mumpung ada Groiz juga yang bisa jadi barengan.


===

Singkat cerita sudah sampai lokasi.

Lokasi ini (sudah tersebut) kalau berada di dalam area perkebunan yang tertutup dari pengunjung umum, jadi baik para peserta maupun panitia harus selalu pakai ID card yang sudah dibagikan ketika melewati pos penjagaan perkebunan ketika hendak turun atau masuk lokasi. Kalau memaksa masuk tapi tidak bisa menunjukkan pengenal resmi dari panitia, ya bakal diusir.

Sudah ada beberapa motor dan mobil yang terparkir rapi di lapangan.






Hanya ada satu bangunan yang disewa, tapi sangat luas. Sekilas bangunan ini lebih mirip seperti istal -kandang kuda- ketimbang sebuah tempat pertemuan haha..





Di depannya terdapat lapangan rumput yang tak kalah luas juga.

Berada di lereng Gunung Ngliman (kata Google sih gitu), maka lokasi ini sudah pasti akan sangat sejuk.

Belum terlalu kerasa dingin sih, karena kira-kira masih jam dua siang itu, tapi sudah cukup mampu menggambarkan bagaimana dinginnya malam nanti.

Beberapa peserta juga sudah membuka tenda di sisi kiri bangunan (anggap saja seperti itu) beberapa meter saja di atas bibir jurang.



Beberapa titik menarik juga sudah disediakan panitia untuk pengambilan foto.





Makin sore dan makin malam, para peserta yang lain mulai berdatangan. Sebut saja kelompok berkendara dari Bandung, Semarang yang seharusnya sudah tiba siang tapi mobil mereka mengalami kendala di Madiun kota, Palembang bersama rombongan dari Jakarta dan sekitarnya lagi, Solo, Salatiga, dan kelompok lain yang tiba malam hari.

Tapi, sebelumnya harus mandi dulu untuk menghilangkan keringat di badan setelah sehari penuh berkendara.

Jangan tanya bagaimana kondisi air di sana.

DHUINGGIIIIIINNNN...!!

Sudah semakin malam, dan acara harus segera dimulai.




Cak Salum sebagai Ketum periode ini membuka acara, memperkenalkan para panitia dan melakukan presentasi program kerja kabinet pridesnya. Bukan sebagai amanat atau perintah, bukan juga untuk dimengerti para member lain, tapi sebagai dasar untuk menjalin rasa kerjasama untuk menuntaskan tugasnya sebagai ketua umum.

Itu di bawah om Dono baru push up.

#eh
 

Trus, ada selanjutnya sharing pengalaman berkendara dan menangkap momen saat melakukan perjalanan berkendara oleh Non Jisel "Srintul", seorang pengendara motor wanita yang sudah 'kemana-mana' bersama team Equatorrad; pengalaman dan motivasi berwirausaha oleh om Vicent "Contin", dan sebuah pengalaman perjalanan berharga oleh om Aan "Trifolium" tentang cara beliau dan keluarganya memaknai sebuah perjalanan. 

Collect Moments, not Things. Kira-kira begitu yang bisa disimpulkan. Penerapannya bisa terserah masing-masing pembaca bagaimana cara mengumpulkan sebuah momen berharga, bukan hanya mencari kebendaan dalam sebuah perjalanan.




Sebenarnya ada satu lagi 'pembicara' yang diundang panitia untuk berbagi cerita, tapi sayang beliau menolak. Kang Rama Bargawa yang bersama teman-teman 'Perjalanan Cahaya' dengan misi menerangi desa-desa yang belum teraliri listrik di daerah sekitar Purwakarta.

Oia, dalam acara malam itu juga diumumkan pemenang Live RR, syukur nama saya disebut sebagai juara ke-3, dibawah Bekitjot dan om Aan.

Lumayan lah, bisa dapat bluetooth headset..hehe..


Kalau kata Bang Jarwo..


Beberapa doorprise menarik juga dibagi dalam acara malam itu. Sampai pada acara bebas, ada yang langsung menempatkan diri di matras masing-masing. Beberapa peserta yang datang awal lebih beruntung karena bisa masuk ke dalam bilik yang lebih hangat. Yang lain cukup tidur di selasar. Penenda juga sudah angslup. Beberapa memanfaatkan api unggun yang sudah dibuat untuk menghangatkan diri.


===

Sudah pagi..

Setelah masing-masing peserta bersih diri, saatnya sarapan bersama dengan menu pecel yang sudah sangat terkenal.



Hebatnya dari para panitia adalah mereka bisa mengganti acara yang sudah disusun sebelumnya, tanpa mengurangi esensinya. Seharusnya pagi itu dijadwalkan untuk permainan antar chapter, tapi diganti dengan permainan mencari hadiah a la game Pokemon GO.

Sayang, tidak ada sinyal GPS yang mendukung di ponselku, jadi aku sendiri agak kesusahan dalam menemukan hadiah yang sudah disebar oleh para panitia di sekitar lokasi.



Ternyata hadiah-hadiahnya dibungkus dengan tas plastik warna hitam, yang sebelumnya hanya kuanggap sebagai sampah yang berserakan saja..haha..

Setelah acara pembagian doorprise terakhir (dan nama saya nggak satupun nyangkut jadi pemenang), akhirnya rangkaian acara Jamnas Wolu Seru di Jawa Timur ini ditutup.

Tahun depan wilayah tengah yang ditunjuk sebagai penyelenggara.

Sampai jumpa dalam kebersamaan dan keceriaan Jambore Nasional Prides Online Community yang ke-9 di tahun 2017 mendatang, semoga kita semua masih diberikan kesehatan dan umur panjang untuk bisa hadir dan saling berbagi cerita.

Salam Jelajah!


*eeh..itu salamnya siapa ya, kok main comot aja?

Sebelum pulang sih packing dulu, sambil foto-foto juga mumpung masih bisa ketemu..haha..

courtesy: om Samuel Kusnendar






Zero Accident, Zero Trouble sampai ke tempat tujuan akhir.



Tidak ada komentar :