Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]



DISCLAIMER
Cerita ini berisi perjalanan menuju tempat-tempat ziarah umat Katolik.  

LOKASI

Pertapaan St. Maria O.C.S.O.
Rowoseneng, Ngemplak, Kandangan, Temanggung Regency, Jawa Tengah 56281
7°13’5” S 110°12’37” E



THE STORIES
Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar atau membaca kata "pertapaan"? Orang-orang yang hidup dengan sangat sederhana, mengenakan pakaian berupa jubah dengan tudung kepala dan hidup dalam gua atau tempat terpencil lainnya, terkadang mereka "turun" ke desa-desa terdekat untuk mengajar agama dan meminta sedekah?
Mungkin itu gambaran yang vinceney dapat karena pernah melihat adegan pertapa dari film-film luar negeri.
Lalu bagaimana hidup monastik menurut Gereja Katolik?


Gereja Katolik juga mengenal konsep pertapaan, atau yang disebut sebagai Monastisisme (μοναχός (Yun) baca = monakos, dari akar kata μονός, baca = Monos, artinya sendiri, kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi monastics, dan individu yang menjalankan praktik monastik disebut monk - rahib). Monastisisme Kristiani mulai tumbuh sejak permulaan sejarah Gereja, mengikuti teladan dan gagasan dari Kitab Suci, termasuk yang tercantum dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Praktik hidup ini diatur dalam aturan-aturan religius (misalnya Regula St. Agustinus, St. Antonius Agung, dan St. Pakomius, Peraturan St. Basilius, serta Peraturan St. Benediktus) dan, pada zaman modern, hukum kanon masing-masing denominasi Kristen yang memiliki bentuk kehidupan monastik atau kerahiban.

Ordo Sistersien Observansi Ketat (O.C.S.O.: Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae), atau Ordo Trapis (bahasa Inggris: Order of Trappists), adalah salah satu tarekat religius Katolik Roma yang menjalani kehidupan monastik kontemplatif tertutup (klausura) dengan mengikuti Peraturan St. Benediktus yang ditulis pada abad ke-6, menjadi panduan hidup para Trapis. Tarekat ini merupakan cabang dari Ordo Sistersien (O. Cist.), memiliki komunitas untuk para rahib (Trapis) maupun rubiah (Trapistin). Peraturan atau regula tersebut mendeskripsikan cita-cita dan nilai-nilai dari kehidupan monastik.

Saya bukan pinter sejarah, cuma copas aja beberapa artikel dari wiki :D

Saat ini ada hampir 170 biara Trapis di seluruh dunia, dan tiga diantaranya ada di Indonesia. Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono di Getasan, Semarang, Indonesia merupakan komunitas untuk para rubiah - rahib wanita (trapistin) yang lokasi dan ceritanya dapat disimak di sini; Pertapaan Trappist Lamanabi di Tanjung Bunga, Flores Timur, Indonesia merupakan komunitas untuk para rahib (entah kapan bisa berkunjung ke sini); dan Pertapaan Santa Maria Rawaseneng di Kandangan, Temanggung, Indonesia yang juga merupakan komunitas untuk para rahib dan akan diulas dalam tulisan ini.

Kalau dulu vinceney datang ke Gedono hanya melihat tampak luar saja, beruntung ketika tiba di Rawaseneng bisa sedikit menjelajah sampai ke dalam pertapaan, meskipun memang ada beberapa tempat yang tidak boleh dimasuki pengunjung secara bebas.

Rawaseneng adalah nama sebuah desa kecil, 14 Km dari kota Temanggung di Jawa Tengah. Agak jauh dari desa, di pelosok, berdampingan dengan masyarakat pedesaan terletak sebuah pertapaan dari Ordo Trappist. Sebelum digunakan untuk pertapaan, pada tahun 1936 berdirilah di sana sekolah pertanian asuhan para Bruder Budi Mulia (BM). Ketika pecah clash fisik pada tahun 1948, sekolah beserta asrama, biara dan bangunan gereja yang ada, dibumihanguskan sehingga tinggal puing-puing. Pada tahun 1950, datanglah ke Indonesia Pater Bavo van der Ham, seorang rahib Trappist dari biara Konings­hoeven-Tilburg, di negeri Belanda, untuk menjajaki segala kemungkinan bagi pendirian biara cabang. Setelah mengunjungi beberapa tempat di Jawa Tengah, akhirnya pilihan jatuh pada Rawaseneng. Mulailah dibangun pertapaan di atas puing-puing bekas sekolah pertanian. Tiga tahun kemudian, tanggal 1 April 1953, Pertapaan Cisterciensis Santa Maria Rawaseneng dibuka secara resmi sebagai cabang dari pertapaan induk di Tilburg.

Sedikit demi sedikit berdatangan para pemu­da yang ingin menggabungkan diri. Sehingga pada tanggal 26 Desember 1958, Pertapaan Ra­waseneng diangkat menjadi biara otonom dengan status “Keprioran”. Pada tanggal 23 April 1978 dalam rangka Pesta Perak berdirinya biara, status pertapaan maju setapak lagi menjadi “Keabasan”. Rm. Frans Harjawiyata terpiih men­jadi Abas-nya yang pertama.

Pertapaan ini terletak di Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tidak ada angkutan umum yang memiliki rute menuju tempat ini. Jika pengunjung hendak datang, memang harus menggunakan kendaraan pribadi atau untuk backpacker harus menggunakan jasa sewa dari Temanggung.

Melewati hamparan perkebunan kopi, lereng dan bukit yang cukup adem, jalan yang sebagian besar masih bebatuan, tempat ini memang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, meskipun sebelum pertapaan sudah terdapat perkampungan penduduk yang cukup padat.





Sampai di kompleks pertapaan, sebelum melewati portal, ada baiknya untuk berhenti di Museum Pertapaan Santa Maria Rawaseneng dan melapor kepada petugas keamanan.







 
Kompleks pertapaan yang berdiri di atas lahan seluas 20 ha (semoga kemarin ndak salah denger) tidak hanya terdiri dari bangunan gereja dan tempat tinggal untuk para rahib saja (dan kamar untuk tamu) namun ada juga peternakan sapi dan unggas, perkebunan kopi (dan tanaman lain tentunya), beberapa bangunan untuk pabrik dan makam.

Sebagian besar biara Trapis menghasilkan produk untuk dijual demi memberikan pendapatan bagi biara. Produk yang dihasilkan di Rawaseneng berupa susu pasteurisasi (produk ini juga dijual di toko Gedono), keju edam, kopi biji, kopi bubuk dan aneka kue kering dan roti basah.

Susu dan keju diproduksi dari hasil ternak sapi para rahib. Meskipun menyandang kata "pertapa" namun teknik perawatan ternak dan pengolahannya sudah menggunakan peralatan yang modern. Tidak melulu pertapa adalah komunitas yang sangat terpencil dengan menggunakan peralatan kerja manual.

Kue kering dan roti basah diproduksi dalam pabrik yang tak kalah modern, namun pada saat berkunjung waktu itu adalah saat liburan lebaran, jadi kegiatan di pabrik juga diliburkan.




Para rahib/ rubiah Trapis berpantang daging hewan berkaki empat. Peternakan unggas yang tidak seluas dan sebanyak sapi, tidak dijual namun digunakan untuk konsumsi para rahib. 




Penekanan St. Benediktus mengenai sedikit berbicara menghasilkan beberapa dampak pada cara hidup para rahib, meskipun mereka tidak berkaul keheningan, namun tetap saja para rahib di sana ditekankan untuk tidak berbicara yang tidak perlu. Terkadang mereka menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi, dan para pengunjung juga harus menyesuaikan dengan kebiasaan ini. Silentium Magnum.





Bangunan-bangunan di pertapaan terkonsentrasi dalam satu kompleks. Kantor di sisi kanan, gereja dan wisma tamu di sisi kiri. Wisma tamu yang dimaksud tentunya untuk pengunjung yang menginap untuk kegiatan retret, rekoleksi, bimbingan rohani atau konsultasi iman secara pribadi. vinceney hanya sebagai pengunjung biasa yang tidak menginap, pun demikian kami juga tetap harus menghormati dan mengikuti peraturan yang ada di dalam biara.













Keterangan dalam foto, klausura (cloister (ing); dari kata claustrum (latin), artinya "tempat tertutup") didefinisikan sebagai suatu lorong beratap untuk berjalan kaki, koridor terbuka, atau arkade terbuka di sepanjang dinding bangunan dan membentuk suatu halaman tengah segi empat atau halaman dalam. Terlekatnya suatu klausura pada suatu bangunan gereja ataupun katedral, umumnya menempel pada suatu sisi selatan bangunan yang hangat, biasanya mengindikasikan bahwa klausura tersebut merupakan (atau pernah menjadi) bagian dari suatu institusi monastik, "membentuk suatu penghalang yang kokoh dan berkelanjutan... yang secara efektif memisahkan dunia para rahib dari [dunia] para budak pengolah tanah dan pekerja, yang kehidupan dan pekerjaannya berlangsung di luar dan di sekitar klausura tersebut."

Kebetulan pada saat itu mendekati waktu ibadat siang ke-2/ ibadat tengah hari (hora sexta), maka tak ada salahnya kami juga ikut dalam ibadat di dalam gereja. Tata letaknya unik tidak seperti tata letak dalam gereja pada umumnya, karena terdapat sekat antara para rahib dengan umat bukan rahib (sebut saja demikian). Sama seperti tata letak di dalam Gereja Gedono, namun di dalam Gereja Rawaseneng lebih kaya pencahayaan.





Kali pertama vinceney mengikuti ibadat siang secara langsung di biara. Dulu sering mengikuti ibadat pagi (Laudes) yang diselenggarakan sebelum misa pagi di gereja. Meskipun sudah disediakan buku panduan ibadat dan vinceney sendiri jadi bagian dari team penyusun doa ibadat harian di web doakatolik.id, tapi rasanya kagok harus mengikuti ibadat secara langsung, terlebih teks dalam buku panduan dan di web tidak disertakan not angka untuk tiap madah yang harus didaraskan. Jadi, tinggal ikut-ikut saja dengan para rahib.

Baiklah, setelah selesai ikut ibadat siang (yang sebenernya nggak tau kapan selesainya, karena lihat umat dan rahib yang keluar dari gereja jadi menyimpulkan kalau ibadat sudah selesai hehe) saatnya pulang.
Karena vinceney dan rombongan hanya tamu yang berkunjung sementara saja, jadi tidak mungkin bisa ikut makan siang bersama para tamu yang menginap.

Tepat di atas kompleks penginapan terdapat taman doa. Karena sudah harus menuju lokasi selanjutnya, maka hanya diambil foto depan tama doa saja.





Jika ada diantara pembaca yang berminat untuk melakukan rekoleksi pribadi maupun berkelompok dengan menginap di Pertapaan Rawaseneng ini, dikenakan biaya Rp 200.000/ orang/ malam dan bisa menghubungi nomor di bawah ini. Kamar yang disediakan berkapasitas  dua orang dengan kamar mandi dalam tiap kamar (foto sneak peek kamar sudah di atas ya). Semoga setelah melakukan rekoleksi pribadi di sini, Anda dapat masuk dalam perangkap Tuhan melalui pertapaan Trappist ini.


Selamat berziarah, berdoa dan meneliti batin

Salam, doa dan Berkah Dalem






 
Bonus foto.

Ada sebuah tempat 'rahasia' yang mungki tidak semua pengunjung boleh datang ke tempat ini, yaitu kompleks pemakaman para imam, abas dan rahib. Tempatnya berada di bukit belakang pabrik kue dan pemerahan sapi, lalu diberi nama 'Bukit Kalvari'.








Tidak ada komentar:

Bottom Ad [Post Page]